Mental Pengguna Pertamax, seharusnya!.

Hidup di zaman sekarang memang agak unik. Informasi datang lebih cepat daripada kemampuan kita mencerna. Harga kebutuhan naik sebelum gaji sempat bernapas. Timeline media sosial penuh kabar yang membuat dada sesak: ekonomi sulit, masa depan kabur, dan orang-orang tampak lebih berhasil hanya karena kameranya lebih bagus. Dalam situasi seperti itu, menjaga kesehatan mental bukan lagi gaya hidup. Ia sudah seperti payung di musim hujan, bukan untuk menghentikan hujan, tetapi agar kita tidak basah kuyup oleh kepanikan sendiri.
Kadang orang bilang, “Tenang saja, semua akan baik-baik saja.” Kalimat itu terdengar manis, tetapi hidup tidak selalu semudah stiker motivasi. Ada hari ketika dompet tipis, tugas menumpuk, dan kendaraan minta diisi bensin sementara harga Pertamax naik lagi. Di titik itu, manusia mudah merasa kalah sebelum benar-benar bertanding. Namun begini: kenaikan harga bukan akhir cerita. Ia hanya salah satu bab yang kebetulan ditulis dengan tinta merah.
Saya sering mengingatkan mahasiswa, kecemasan itu seperti notifikasi grup kelas. Kalau dibaca semua, kita tidak pernah tidur. Yang perlu dilakukan bukan mematikan hidup, melainkan belajar memilih mana yang benar-benar perlu direspons. Harga naik? Ya, itu fakta. Tetapi kemampuan manusia beradaptasi juga fakta. Kita pernah melewati hari-hari yang dulu terasa mustahil. Sederhananya, kemarin susah jiki. Tapi toch hari ini kita masih hidup.
Maka ketika Pertamax naik, jangan buru-buru menyimpulkan bahwa hidup sedang memusuhi kita. Bisa jadi hidup hanya sedang mengetes: apakah kita akan panik atau mulai kembali menyusun kembali hal yang prioritas. Tuhan tidak selalu menurunkan solusi saat itu dengan memberikan voucher bensin. Kadang Ia memberi akal yang lebih jernih, pekerjaan sampingan yang tak terpikir sebelumnya, teman yang membantu, atau keberanian untuk hidup lebih sederhana tanpa merasa hina. Optimisme yang sehat bukan berkata, “Semua mudah.” Optimisme yang sehat berkata, “Ini berat, tetapi aku tidak sendirian dan masih bisa mencari jalan.”
Ada orang yang ketika bensin naik langsung marah pada dunia. Ada juga yang diam-diam menghitung ulang pengeluaran, memperbaiki pola hidup, lalu tetap melaju. Bedanya bukan pada besar kecilnya masalah, melainkan pada cara mereka memelihara mental. Jangan biarkan harga sesuatu menentukan harga dirimu sendiri, itu Kata kunci yang bisa kita simpan dalam pikiran kita. Hidup memang tidak instan. Kopi sachet saja perlu air panas, apalagi ketenangan batin. Kita perlu jeda, perlu percakapan yang jujur dengan diri sendiri, dan perlu iman yang tidak hanya aktif saat keadaan murah.
Jadi, rawatlah mentalmu. Kurangi membandingkan hidup dengan orang lain. Istirahatlah tanpa merasa bersalah. Dan ketika suatu hari kamu berdiri di SPBU sambil melihat angka harga yang membuat alis naik sedikit, tarik napas pelan-pelan.
Yakinlah: jika hari ini kamu masih diberi jalan untuk berjalan, maka Tuhan juga sedang menyiapkan kemampuan untuk melanjutkan perjalanan itu, termasuk mengisi bensin seperlunya.
Hidup bukan soal seberapa mahal Pertamax, melainkan seberapa kuat hati tetap tenang ketika papan harganya berubah.

