Money Dysmorphia, bercermin pada dompet orang lain

Akhir-akhir ini, sebuah penyakit baru berkembang senyap namun nyata menggerogoti jiwa. Penyakit ini tidak butuh virus untuk menular, tapi cukup butuh kuota internet. Namanya mentereng: Money Dysmorphia. Kedengarannya seperti nama film dalam netflix, tapi ini bukan tentang film, melainkan ini nama yang jika disederhanakan, hanyalah nama yang berurusan dengan “salah lihat”. Ibarat orang melihat cermin, badannya sudah ganteng atau proporsional, tapi di matanya ia merasa masih terlalu kecil, masih gemuk atau terlalu hitam. Bedanya, cermin kali ini adalah saldo ATM yang dilihat adalah bayangan kemiskinan yang sebenarnya tidak ada-perasaannya diobok dengan sesuatu yang belum mendekati pasti.
Pandangan tersebut bisa jadi menjadi drama kita per hari ini, terutama mereka yang lahir di pergantian milenium-kalau yang dah senior dah lewat dengan drama hidup ini..hehehhe. Mereka adalah generasi yang kerja kerasnya nyata, tapi rasa syukurnya seringkali “distel” oleh algoritma-algoritma punya kendali. Secara objektif, mereka mungkin punya gaji yang cukup untuk nongkrong di cafe sambil memesan makanan enak dan cicilan aman. Tapi secara subjektif, mereka merasa sedang sekarat secara finansial hanya karena melihat teman SMA nya mengunggah foto di Ig dan IG nya tentang boarding pass pesawatnya yang menuju Dubai atau HP Iphone 17 Pro.
Dulu, di zaman orang tua kita, ukuran kaya itu sederhana: punya rumah, anak sekolah, dan dapur mengepul. Sekarang? Kaya itu harus terlihat “estetik”. Jika kopi yang kita minum tidak bermerek, atau liburan kita hanya ke rumah nenek bukan makan di tempat yang lagi Viral dan Eksclusive, kita merasa sedang gagal menjadi manusia. Inilah letak penderitaan itu. Kita tidak lagi menderita karena lapar, tapi kita menderita karena merasa “kurang” dibanding orang lain.
Money Dysmorphia ini adalah anak kandung dari peradaban yang memuja bungkus ketimbang isi. Kita terjebak dalam perlombaan lari di tempat. Kita mengejar angka-angka like di layar ponsel, tapi lupa merasakan tekstur uang yang kita pegang. Kita punya segalanya untuk hidup, tapi kehilangan alasan untuk menikmatinya. Ini bukan lagi tentang sulitnya mencari nafkah, tapi tentang sulitnya berhenti membandingkan nafkah. Anak muda usia 20-an hari ini mengalami burnout bukan karena pekerjaannya yang berat, tapi karena ekspektasi di kepalanya yang terlalu raksasa. Mereka merasa menjadi pecundang sebelum berperang, hanya karena merasa saldo di rekeningnya tidak cukup untuk membeli gaya hidup yang sebenarnya juga cuma panggung sandiwara. Padahal, uang itu sifatnya cair. Ia datang dan pergi. Tapi ketenangan jiwa itu harganya mutlak. Jika kita terus-menerus merasa miskin di tengah kecukupan, maka sebenarnya kita sedang mengidap kemiskinan mental yang paling akut. Kita menjadi budak dari bayangan yang kita ciptakan sendiri.
Maka, mungkin kita perlu sesekali menutup layar ponsel dan membuka jendela. Melihat disekeliling kita yang biasa saja (dalam perspektif kita) namun ia sangat bahagia dalam menjalaninya seperti yang tuliskan sebelumnya “Moto Revo, kendaraannya menuju surga”. Dia mungkin tidak punya asuransi, portofolio saham, atau rekening Emas Elektronik tapi dia punya satu hal yang sedang punah di generasi Money Dysmorphia ini: kemampuan untuk merasa cukup.
Sebab pada akhirnya, kekayaan sejati bukanlah tentang seberapa banyak yang bisa kita beli, tapi tentang seberapa sedikit kita butuh untuk merasa bahagia. Jika hati sudah lapang, saldo sedikit pun terasa luas. Tapi jika hati sudah sempit karena iri dan dengki, gunung emas pun hanya akan terlihat seperti tumpukan debu yang kurang. Mari kita cuci mata kita, supaya bisa melihat hidup apa adanya, bukan sebagaimana media sosial mendiktekannya.



