Suara sunyi dalam antrean

Dewasa ini, dunia dalam setting serba terburu-buru, seolah-olah semua penting dan seolah sibuk hingga akhirnyan hampir semua ingin instan. Mie instan, pesan antar instan kalau bisa masuk surga pun lewat jalur undangan instan supaya tidak perlu antre di Padang Mahsyar. Maka, tak heran ketika melihat deretan kendaraan mengular di SPBU, banyak orang langsung resah, gundah, panik bahkan mungkin memaki nasib hingga menyalahkan tata kelola energi dunia yang padahal mereka sendiri belum tentu paham-paham. Padahal, mengantre BBM itu adalah ibadah kebudayaan yang sangat tinggi nilainya. Di sana, kita dipaksa untuk berhenti sejenak dari kegilaan dunia.
Mengantre adalah satu-satunya momen di mana si kaya dengan mobil mewah yang cicilannya masih tiga tahun lagi, harus tunduk pada aturan yang sama dengan tukang ojek yang motornya sudah batuk-batuk. Di depan mesin pompa bensin, semua orang adalah hamba yang sama-sama butuh kucuran cairan penggerak.
Mengapa mengantre itu nikmat? karena nikmat mengantre hanya bisa dirasakan bagi yang mengantre. Orang yang menerobos atau memakai jalur “orang dalam” tidak akan pernah tahu rasanya kemenangan spiritual saat moncong tangki bensin akhirnya bertemu dengan ujung selang petugas SPBU. Itu adalah momen orgasme logistik yang tiada tara.
Di dalam antrean, kita belajar tentang Gratifikasi Tertunda (Delayed Gratification). Dalam psikologi, ini adalah kemampuan seseorang untuk menahan diri dari godaan kesenangan segera demi mendapatkan imbalan yang lebih besar atau lebih bermakna di masa depan. Anak kecil yang gagal tes marshmallow biasanya akan tumbuh jadi orang dewasa yang suka menyerobot antrean bensin. Mereka tidak tahan dengan jeda. Mereka menganggap waktu adalah uang, padahal waktu seringkali hanyalah tunggu yang tidak kita nikmati. Dengan mengantre, kita sedang melatih otot-otot kesabaran yang sudah mulai atrofi karena terlalu sering menggunakan aplikasi shortcut. Kita belajar bahwa untuk sampai ke tujuan, ada harga berupa waktu yang harus dibayar. Dan anehnya, bensin yang didapat setelah mengantre satu jam itu rasanya lebih baroqah dan irit daripada bensin yang didapat dengan cara memotong jalur orang lain. Kenapa? Karena di dalamnya ada peluh, ada doa, dan ada sumpah serapah yang berhasil kita telan sendiri.
Lihatlah wajah-wajah di antrean itu. Ada yang sibuk main ponsel sampai tidak sadar antrean di depannya sudah maju lima meter ini adalah jenis manusia yang raganya di SPBU tapi jiwanya di TikTok. Ada juga yang gelisah, sebentar-sebentar melihat jam tangan, seolah-olah kalau dia telat lima menit saja, ekonomi dunia akan runtuh.
Padahal, apa sih yang kita kejar? Kita terburu-buru isi bensin supaya bisa cepat sampai rumah, lalu di rumah kita cuma duduk melamun atau bertengkar dengan pasangan soal hal-hal sepele. Mengapa tidak kita nikmati saja antrean itu sebagai “ruang tunggu menuju kebahagian?. Di sana, kita bisa memperhatikan pola ban kendaraan orang lain, menghitung berapa banyak orang yang lupa menutup tangki bensin, atau sekadar merenung bahwa mengantre BBM adalah cara semesta mengingatkan bahwa kita tidak punya kuasa penuh atas waktu. Kita boleh punya kendaraan seharga miliaran tapi kalau antreannya panjang, ya tetap harus menunggu. Ini adalah satir kehidupan yang paling jujur. Kesombongan kita luntur di depan garis kuning SPBU. Jadi, jangan mengeluh kalau besok kamu harus mengantre lagi. Nikmatilah setiap inci pergerakan kendaraanmu. Rasakan desiran angin knalpot motor 4 tak atau asap knalpot truk di depanmu sebagai bagian dari meditasi harian.
Sore nanti, saat kamu berada di tengah barisan panjang motor dan mobil, senyumlah. Kamu sedang melakukan latihan Delayed Gratification tingkat tinggi. Kamu sedang menjadi manusia yang beradab di tengah dunia yang makin biadab dengan segala keterburu-buruannya. Ingatlah, bensin itu akan habis, tapi karakter yang kamu bangun saat menunggu bensin itu… nah, itu yang akan bertahan lama.
Selamat mengantre, jangan lupa matikan mesin tapi jangan matikan rasa kemanusiaanmu.



