Greed Psychology: Fenomena Penimbun BBM (Antara Tangki dan Nafsu)

Bagi penggiat ilmu psikologi ramadan sering kali disebut sebagai madrasah atau sekolah spiritual. Selama satu bulan penuh umat muslim dilatih untuk melakukan regulasi diri (self-regulation) terhadap dorongan biologis dan emosional. Namun, ujian sesungguhnya dari sekolah ini bukanlah saat lapar melanda di siang hari, melainkan saat “gerbang” konsumsi dibuka lebar pasca-Lebaran. Di tengah hiruk-pikuk perang Iran yang beritanya berseliweran di dunia maya bahwa telah terjadi penutupan selat Hormutz yang secara otomatis akan memberi dampak kepada beberapa negara terkait Bahan Bakar Minyak. Dikampungku, entah ini dampak pembatasan selat tersebut, seolah jarak Kampungku dengan Iran sangat dekat atau dengan banyaknya berita Hoax di media sosial tentang Isu kenaikan BBM sehingga lahir sebuah fenomena kelam yang telah lama tenggelam dalam alam sadar manusia yang sekaligus mencederai kesucian Idulfitri yang baru saja kita lewati dengan gagah. Apakah itu?, tak lain dan tak bukan, penimbunan BBM secara ilegal. Fenomena ini bukan sekadar persoalan ekonomi, melainkan cermin dari kegagalan psikologis dalam menahan “lapar” materi yang berujung pada pengkhianatan terhadap nilai-nilai puasa itu sendiri.
Dalam kacamata psikologi, penimbunan BBM dapat dianalisis melalui pendekatan Greed Psychology (Psikologi Keserakahan) dan Hoarding Disorder dalam skala ringan. Keserakahan di sini bukan sekadar keinginan untuk memiliki, melainkan dorongan obsesif untuk mengambil lebih dari yang dibutuhkan demi rasa aman yang semu. Secara evolusioner, manusia memiliki insting untuk mengumpulkan sumber daya demi bertahan hidup. Namun, ketika insting ini tidak terkendali, ia berubah menjadi perilaku patologis. Penimbun BBM mengalami distorsi kognitif di mana mereka merasa “kelangkaan” adalah ancaman absolut, sehingga mereka melakukan akumulasi barang secara tidak wajar. Hal ini mirip dengan gejala hoarding, di mana ada ketidakmampuan secara emosional untuk melepaskan atau berbagi sumber daya karena kecemasan masa depan yang berlebihan.
Secara filosofis, terdapat analogi yang kuat antara “tangki dan nafsu”. Jika selama Ramadan kita dilatih untuk mengosongkan perut demi mengisi jiwa, maka penimbun BBM melakukan hal yang sebaliknya. Mereka berupaya mengisi “tangki” materi mereka hingga meluap, namun dengan cara mengosongkan nilai kemanusiaan dalam jiwa mereka. Menimbun BBM di tengah kebutuhan publik yang memuncak adalah bentuk kegagalan menahan lapar akan materi. Puasa yang seharusnya melahirkan pribadi yang zuhud (merasa cukup) justru berganti menjadi pribadi yang rakus. Mereka gagal memahami bahwa esensi “Id” atau kembali ke fitrah berarti kembali ke titik nol yang bersih, bukan kembali ke sifat dasar yang eksploitatif.
Dampak sosial dari tindakan egois ini sangat kontradiktif dengan semangat silaturahmi usai Lebaran. Lebaran adalah tentang menyambung yang putus dan memudahkan yang sulit. Namun, para penimbun justru menciptakan hambatan bagi sesama. Ketika tangki-tangki ilegal terisi penuh di gudang-gudang tersembunyi, ribuan pengguna kendaraan di jalanan harus bersusah payah mencari liter demi liter bensin untuk menuju tempat kerja hingga sampai kembali ke pelukan keluarga. Tindakan ini secara filosofis merusak kebahagiaan kolektif. Kebahagiaan yang didapat dari keuntungan menjual BBM di atas harga wajar adalah kebahagiaan yang dibangun di atas penderitaan orang lain, sebuah antithesis dari nilai rahmatan lil ‘alamin. Terakhir, fenomena ini adalah ujian integritas yang nyata. Inti dari ibadah puasa adalah kesadaran akan pengawasan Tuhan (muraqabah); seseorang tidak makan meski di tengah ruang gelap yang sunyi. Namun, penimbunan BBM sering kali dilakukan dalam “kegelapan” administratif dan fisik, jauh dari pantauan otoritas. Di sinilah integritas diuji. Jika seseorang mampu jujur saat puasa, namun menipu melalui penimbunan demi keuntungan ekonomi sesaat setelah Lebaran, maka puasa tersebut barulah sebatas ritual fisik tanpa transformasi mental.
Sebagai penutup, penimbunan BBM adalah sinyal bahwa “penyakit” psikologis berupa ketakutan akan kekurangan materi masih jauh lebih kuat daripada pelajaran tentang kepasrahan dan pengendalian diri. Untuk benar-benar lulus dari madrasah Ramadan, kita tidak hanya dituntut untuk mampu menahan haus, tetapi juga mampu memastikan bahwa tangki ego kita tidak meluap hingga menenggelamkan hak-hak orang lain. Jika tidak, maka perayaan Idulfitri hanyalah pergantian pakaian, bukan pergantian watak.


