Tragedi Bakwan di Meja Makan

Hammae….! saya memulainya. (bahasa khas orang Mandar ketikan melihat sesuatu yang berlebihan)…
Lihatlah itu, Meja makan yang biasanya hanya dihuni selembar serbet dan sebotol kecap dkk (dan konco-konconya), mendadak berubah wujud menjadi etalase pameran kuliner tingkat nasional setiap jam enam sore menuju buka puasa. Ada kolak, Sambusa, Burongku, ada gorengan bakwan yang berkilau habis mandi minyak, sampai es buah Es Buah yang terkadang juga es buah berkedok es jelly warnanya lebih meriah dari lampu diskotek. Semua hadir, semua berdesakan, seolah-olah sedang mengantre untuk mendapatkan restu dari kerongkongan kita.
Secara psikologis, fenomena ini punya nama mentereng: Affective Forecasting. Ini adalah istilah ilmiah untuk menggambarkan betapa payahnya kita manusia dalam meramal kapasitas perasaan dan perut kita sendiri di masa depan. Saat jam empat sore, ketika perut sedang memainkan nada orkestra yang tak beraturan seolah menabuh genderang perang, otak yang merasa sanggup menelan satu ekor ayam bakar sendirian. Tapi begitu azan berkumandang dan segelas air putih mendarat di kerongkongan, lho kok mendadak semua makanan di meja itu jadi tampak seperti musuh besar yang minta ampun tidak mau dimakan. Kita ini sebenarnya puasa untuk menahan nafsu, atau cuma sedang memindahkan lokasi nafsu dari perut ke mata, ya?.
Coba sekarang kita bedah nasib si bakwan itu. Pukul lima sore tadi, dia adalah primadona. Di mata kita yang sedang keroncongan, kilauan minyaknya itu lebih menggoda daripada emas berlian di etalase toko emas. Kita memandangnya dengan penuh syahwat kuliner, seolah-olah tanpa dia, hidup kita di dunia ini akan berakhir tragis saat maghrib tiba. Itu yang disebut Scarcity Heuristic otak kita tertipu mentah-mentah oleh rasa takut kehilangan momen. Karena waktu makan dibatasi cuma dari maghrib sampai subuh, si bakwan yang sebenarnya biasa saja itu mendadak naik kasta jadi barang mewah yang harus segera diamankan ke dalam kantong plastik.
Tapi apa yang terjadi setelah azan maghrib berkumandang?, Begitu segelas air hangat dan tiga butir kurma mendarat di lambung, mendadak terjadi “kudeta” di dalam kepala. Prefrontal cortex kita atau bagian otak yang mengurusi logika yang tadinya pingsan karena kurang gula, tiba-tiba bangun dan berbisik pelan, “Heh, kamu itu manusia, bukan tangki mobil penjual bensin eceran.”
Di titik inilah tragedi kemubaziran bermula. Si bakwan yang tadinya kita perebutkan dengan sikut-sikutan di depan gerobak takjil, sekarang cuma bisa melongo di atas piring plastik. Dia menatap kita dengan hampa, seolah bertanya, “Lho, tadi katanya sayang, tadi katanya rindu, kok sekarang saya cuma dipelototi?” Secara psikologis, kita sedang mengalami penurunan nilai utilitas yang sangat drastis. Rasa lapar yang tadinya setinggi langit, mendadak ambles ke perut bumi hanya dalam hitungan detik. Akhirnya, si bakwan tetap di piring, dingin, layu, tak tersentuh dan akhirnya kesepian menunggu nasib apakah akan masuk kulkas untuk dipanaskan besok pagi atau berakhir jadi sumbangan paksa untuk kucing tetangga yang sebenarnya juga sudah kenyang.
Inilah ironi Ramadan kita. Kita sanggup menahan lapar selama dua belas jam, tapi kita menyerah kalah di depan satu kantong plastik gorengan. Kita sering lupa bahwa rasa kenyang itu urusan biologis yang murah, tapi rasa “cukup” itu urusan spiritual yang harganya mahal sekali. Kalau meja makan kita masih menyisakan “korban” makanan yang terbuang setiap malam, barangkali yang sedang puasa itu baru kerongkongan kita saja, sementara nafsu kita masih asyik berselancar dengan riang gembira sendirian di balik pikiran-pikiran “Mata yang lapar”.
Puasa itu sejatinya adalah latihan menjadi manusia yang “selesai” dengan dirinya sendiri. Manusia yang tahu kapan harus berhenti sebelum benar-benar terhenti oleh rasa sesak di dada. Sebab, seperti kata orang-orang tua dulu, perut yang terlalu penuh sering kali membuat hati jadi terlalu berat untuk diajak sujud. Mari kita makan secukupnya, agar sisa ruang di hati bisa kita pakai untuk bersyukur, bukan untuk menyesali bakwan yang layu karena tak termakan.

