Motor Revo, kendaraannya menuju surga

Di sudut kota yang baru berkembang, kebisingan suara knalpot motor kerap kali menyapa telinga. Aroma bau keringat dari jaket yang telah terpanggang oleh jilatan matahari dan di mana kepulan asap knalpot beradu dengan aroma aspal panas. Acapkali dia dengan motor Honda revo berwarna hitam terparkir dengan setia di bawah tenda biru depan kampus Universitas Muhammadiyah Enrekang sambil menunggu penumpang atau sekedar menyapa yang ia kenal, termasuk saya.
Pertemuan kami selalu sederhana. Tak ada meja kafe dengan lampu estetik atau alunan musik latar yang menenangkan. Ruang tamu kami adalah trotoar dan musik kami adalah deru kendaraan yang lewat. Namun, di tempat inilah saya menemukan sesuatu yang jarang ditemukan di gedung-gedung pencakar langit, ketenangan yang murni.
Sahabat saya ini adalah seorang laki-laki yang dunianya lebih banyak diisi oleh sunyi. Kata-kata yang keluar dari bibirnya seringkali tak utuh, terputus oleh jeruji komunikasi yang tak sempurna. Namun, di balik keterbatasan itu, ia memiliki bahasa yang jauh lebih kuat dari sekadar retorika. Ia berbicara melalui tatapan mata yang jujur dan tawa yang selalu meledak tepat pada waktunya.
“Rokok?” isyaratnya setiap kali kami bertemu. Itu adalah ritual wajib. Ia jarang membawa sebungkus utuh, lebih sering meminta sebatang dari saya dengan cengiran khas yang tidak menunjukkan rasa malu, melainkan keakraban yang mendalam. Saat asap mulai mengepul di antara kami, saya melihat seorang pejuang yang sedang beristirahat. Di tengah gempuran ekonomi yang semakin tak keruan, di mana harga pangan melonjak dan kompetisi di jalanan semakin ganas, ia tetap berdiri tegak. Revo hitamnya menjadi saksi perjalanannya yang tak dapat dirangkai dalam peta modern dan kendaraannya bukan sekadar alat transportasi; itu adalah kuda perang yang membantunya bertahan hidup dari satu titik jemput ke titik lainnya.
Ada sebuah paradoks indah pada dirinya. Secara logika, ia adalah orang yang paling berhak untuk mengeluh. Secara ekonomi, ia terhimpit; secara fisik, ia terbatas. Namun, anehnya, ia adalah manusia paling ceria yang pernah saya kenal. Ketika saya bercerita tentang keluh kesah pekerjaan yang menumpuk atau tekanan sosial yang melelahkan, ia hanya mendengarkan dengan seksama, lalu tertawa. Tawa itu seolah-olah mengejek semua kerumitan hidup yang saya buat-buat. Tawa yang berkata tanpa suara: “Lihatlah, aku masih bisa tertawa, lalu apa alasanmu untuk bersedih?”
Duduk bersamanya membuat saya merasa sedang melakukan dekonstruksi atas segala ambisi yang seringkali membakar jiwa. Di dekat Revo hitam itu, semua ego saya luruh. Saya diingatkan bahwa hidup bukan tentang seberapa fasih kita berargumen atau seberapa mewah kendaraan yang kita tunggangi. Hidup adalah tentang ketangguhan untuk terus bergerak meski beban di pundak terasa berat, dan kemampuan untuk tetap menjaga hati tetap ringan. Jika hal itu diterjemah, kita menemukan kata Resiliensi.
Keheningan di antara kami bukan berarti kosong. Justru dalam diamnya, ada resonansi makna yang kuat. Jiwa saya selalu merasa senang saat bertemu dengannya. Keceriaannya menular seperti virus yang menyembuhkan. Ia adalah pengingat hidup bahwa kebahagiaan tidak butuh persyaratan yang rumit. Cukup sebatang rokok, tawa yang lepas, dan kehadiran seorang sahabat di atas motor tua.
Saat kami akhirnya berpisah dan ia menghidupkan mesin Revo-nya, saya melihat punggungnya menjauh, kembali masuk ke dalam hiruk-pikuk kota. Saya pulang dengan perasaan yang jauh lebih ringan. Ia mungkin tidak bisa menceritakan kisah-kisah hebat melalui kata-kata, tapi hidupnya sendiri adalah sebuah esai tentang keberanian hidup. Sebuah bukti bahwa di tengah gempuran badai dunia, manusia bisa memilih untuk tetap menjadi pelabuhan yang damai bagi orang lain.



