Refleksi

Mokel: Kumis bukan tanda kuat imamnya

Ada seorang pria tinggi, bahu lebar, kumisnya lebat seperti punya jadwal makan sendiri. Kalau berjalan, aspal seolah menyingkir duluan. Di kantor, ia ketua. Di Rapat Karang Taruna, ia yang paling sering angkat bicara soal moral. Di grup WhatsApp Angkatan Alumni, ia yang selalu forward ceramah subuh paling awal. Tapi jam sebelas siang di bulan Ramadhan dengan santainya Mokel, pria itu ada di sudut warung nasi berenang paling pojok, gorden plastik bermotif bunga yang sudah pudar warnanya dengan segelas es teh manis di tangan. Ia minum perlahan, seperti sedang menikmati senja di Pantai Palippis. Padahal yang ia nikmati adalah kekalahan.

Inilah ironi yang tidak dibahas di buku pelajaran manapun, kumis tidak ada hubungannya dengan iman. Bahu lebar tidak secara otomatis memberi range kesabaran yang luas. Suara besar tidak serta-merta membesarkan benteng pertahanan. Tubuh yang tampak Samsons, ternyata tidak tahan terhadap es teh. Harga es tehnya empat ribu rupiah. Harga harga dirinya susah dihitung.

Sementara itu, di kampung sebelah, ada bocah sembilan tahun yang puasanya penuh. Badannya kurus seperti antena radio usang. Ia bermain bola di bawah terik, pulang dengan lutut kotor dan keringat mengalir, lalu duduk di teras sambil kipas-kipas dengan buku PR-nya. Tidak makan. Tidak minum. Ia tidak Mokel, Hanya menunggu bedug dengan jujur yang luar biasa. Perbandingan ini bukan untuk merendahkan siapapun. Ini hanya untuk mengajukan pertanyaan sederhana: di antara pria berkumis tadi dan bocah kurus itu, siapa yang lebih dewasa?

Bukan pada persoalan mokelnya. Yang saya akan persoalkan adalah narasi yang dibangun di sekelompok pemokel karena sebagian dari para pemokel ini terutama yang berusia remaja baru saja menemukan kosakata seperti “kritis” dan “tidak dogmatis” melakukan mokel menjadi semacam kebanggaan. Mereka tidak sekadar makan di warung. Mereka makan di warung sambil bercerita tentang Perang Teluk Hormutz. Mereka tidak hanya minum es teh. Mereka minum es teh sambil bilang bahwa puasa adalah konstruksi sosial. Seolah-olah melanggar aturan agama adalah bentuk pencerahan. Seolah-olah tidak berpuasa adalah tanda bahwa mereka telah naik kelas dari rakyat biasa menjadi pemikir bebas. Padahal tidak, ini bukan pemberontakan intelektual. Ini kekalahan nafsu yang paling purba yang paling tua, yang bahkan lebih tua dari masa kerajaan Balanipa.

Nafsu lapar sudah ada sejak manusia pertama kali membuka mata di muka bumi ini. Dan mengalah kepada nafsu lapar, lalu membungkusnya dengan jargon filsafat itu bukan pencerahan. Itu hanya pembelaan diri yang dipakaikan baju bagus bercap Mall Store.

Pemberontakan sejati itu melelahkan dan sunyi. Tidak ada yang foto-foto. Tidak ada yang keren-kerenan. Orang yang benar-benar memberontak demi sesuatu yang ia yakini, ia tidak butuh penonton. Tapi mokel? Mokel butuh gorden warung sop supaya tidak ketahuan. Kalaulah ini dikatakan pemberontakan, ini pemberontakan yang masih malu-malu kucing.nBicara soal sembunyi, mari kita jujur tentang anatominya. Anak kecil yang mokel itu sembunyi di bawah kolong tempat tidur atau di balik lemari atau di kamar mandi dengan kran air yang ia buka supaya suara minumnya tidak terdengar. Jika memang ia, tempat persembunyian mereka sederhana, sesuai dengan imajinasi mereka yang masih bersih.

 

Orang dewasa persembunyiannya lebih canggih. Mereka tidak bersembunyi di balik lemari. Mereka bersembunyi di balik kata-kata. “Maag saya kambuh.” Kalimat ini adalah gorden warung sop versi premium. Diucapkan dengan wajah sedikit sengsara, tangan mengusap perut, agar ada kesan bahwa ini bukan soal tidak mau, ini soal tidak mampu secara medis. Lalu ada juga versi kedua: “Saya lagi banyak kerjaan, tidak sempat sahur, kasihan tubuh saya.” Ini lebih halus. Di sini mokel dibungkus dengan etos kerja. Seolah-olah makan di siang Ramadan adalah bentuk dedikasi profesional. Seolah-olah perusahaan membutuhkan pegawai yang tidak puasa agar target tercapai. Anak kecil di kolong tempat tidur itu, walaupun sembunyi, setidaknya ia tahu bahwa dirinya sembunyi. Ada kesadaran. Ada rasa bersalah yang menyertainya, yang kelak bisa tumbuh menjadi tanggung jawab. Tapi orang dewasa yang bersembunyi di balik diagnosis maag palsu dan jadwal kerja yang dilebih-lebihkan mereka tidak merasa sembunyi. Mereka merasa beralasan, justru alasan inilah yang jauh lebih berbahaya.

Kita hidup di zaman yang pandai sekali membuat alasan. Alasan telah menjadi industri tersendiri. Ada alasan untuk terlambat, alasan untuk ingkar janji, alasan untuk tidak berbuat baik, dan tentu saja, alasan untuk mokel. Semua dikemas rapi, dikirim dengan nada meyakinkan, kadang disertai data.

Tapi puasa, dalam kesederhanaannya yang keras, menolak semua itu. Puasa tidak minta banyak. Ia hanya minta satu hal: jujur. Jujur kepada Tuhan, jujur kepada orang-orang di sekitar kita dan yang paling sulit jujur kepada diri sendiri. Bahwa kita lapar, kita tidak kuat bahwa kita kalah hari ini.

Mengaku kalah itu butuh keberanian. Justru lebih banyak keberanian daripada berpura-pura menang di balik gorden warung sop.

Kumis bisa tumbuh siapapun di bentuk wajah apapun. Tapi kejujuran itu yang susah dirawat.

Muhammad Junaedi Mahyuddin

Pria kelahiran dari kampung kecil yang bernama Banua baru. Saat ini aktif mengabdi sebagai pengajar di salah satu perguruan tinggi Muhammadiyah di Sulawesi Selatan

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button