Refleksi

Perjamuan Gengsi di Atas Meja

Ramadan hampir kembali ke peraduannya. Bersama Ramadan yang akan kembali itu, datanglah sesuatu yang lebih lapar dari perut yang berpuasa yaitu gengsi. Dahulu orang takut tidak punya makanan untuk buka puasa. Sekarang orang takut tidak terlihat buka puasa bersama dengan genk. Dua ketakutan yang berbeda zaman, tapi sama-sama melelahkan. Namun ada ketakutan yang berada pada kasta terttinggi, per hari ini. Namanya FOMO, anak sekarang menyebutnya  Fear of Missing Out. saya terjemahkan dengan lebih jujur: takut tidak dianggap ada.

Bukber tidak lagi berbicara kangen-kangenan. Ia sudah menjelma menjadi semacam absensi sosial yang secara ekstrem saya dapat maknai “tidak hadir berarti tidak ada”. Tidak ada berarti tidak laku. Tidak laku berarti… ya, selesailah kamu di mata pergaulan. Begitulah logikanya. Sederhana, kejam, dan anehnya banyak yang percaya.

Teori psikologi yang bilang manusia butuh relatedness rasa terhubung dengan sesama. Kebutuhan yang manusiawi sekali. Namun yang terjadi di meja bukber massal bukan keterhubungan yang terjadi adalah pembuktian. Kita hadir bukan karena kangen. Kita hadir karena takut kalau tidak hadir, orang akan mengcheklist di samping nama kita.

Perbedaannya seperti langit dan jalangkote.

Mari kita duduk sebentar bersama makanan ini. Perhatikan bentuknya. Kulitnya garing, menggelembung, tampak penuh dan berwibawa. Tapi gigitlah ia di dalam, udaranya lebih banyak dari isinya ditambah lagi wortelnya seiprit, telurnya malu-malu, mendominasi adalah rongga kekosongan yang dibalut dengan sangat rapi dan percaya diri. Persis seperti kehadiran kita di bukber yang dipaksakan. Di foto terlihat seru, latar kafe estetik, senyum terkembang, caption penuh syukur. Tapi jempol kita tidak pernah berhenti menggulir layar. Kita hadir di sana, tapi jiwa kita sedang berselancar ke tempat lain hanya untuk memastikan tidak ada pesta yang lebih meriah yang sedang kita lewatkan. Lalu datanglah es pisang ijo. Hijau, manis, sejuk, menggoda. Kita menyeruputnya dengan rakus di tengah obrolan yang isinya membandingkan gaji, memamerkan gawai, dan tertawa pada hal-hal yang sebenarnya tidak terlalu lucu. Es pisang ijo hanya penawar sementara. Manisnya menutupi pahit tagihan patungan yang tiba-tiba muncul di akhir malam angka yang tidak pernah kita rencanakan masuk ke dalam anggaran, tapi kita bayar juga karena tidak enak menolak.

Inilah yang luput kita sadari. Kita kira kita sedang bersosialisasi padahal kita sedang menjalani hukuman sukarela. Kita takut dianggap sombong kalau menolak undangan. Tapi coba pikir: sombong yang sejati itu bukan yang tidak datang ke bukber. Sombong yang sejati adalah ketika kita merasa hidup kita baru bernilai kalau muncul di story orang lain.

Kita sudah menjadi jalangkote sosial yang tampak penuh dari luar lalu keropos di dalam. Dan lelah sekali mempertahankan kerenyahan itu. Ramadan, kalau boleh saya bilang, adalah undangan untuk pulang ke relung diri paling dalam, membedah isi diri tidak melulu untuk keluar dan terlihat.

Menolak satu dua undangan bukber bukan kesombongan. Itu adalah tanda bahwa kamu masih punya kendali atas hidupmu sendiri bahwa kehadiranmu di suatu tempat bukan karena takut, melainkan karena memang ingin. Sebab tidak ada gunanya perut kenyang jalangkote kalau jiwa kelaparan akan ketenangan. Percayalah, ketenangan itu tidak ada di menu kafe mana pun.

 

Muhammad Junaedi Mahyuddin

Pria kelahiran dari kampung kecil yang bernama Banua baru. Saat ini aktif mengabdi sebagai pengajar di salah satu perguruan tinggi Muhammadiyah di Sulawesi Selatan

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button