Benda-benda Ghaib di Akhir Ramadhan

Di negeri gemah ripah loh jinawi ini ada sebuah hukum alam yang tidak tertulis dalam buku teks fisika mana pun semakin dekat kita dengan hari kemenangan, semakin banyak benda yang mendadak menjadi “sulit, langka bahkan di gaibkan” seolah-olah sahnya sebuah kemenangan itu jika, sesuatu itu ada (merujuk pada benda). Fenomena ini bukan karena ulah jin atau pesugihan melainkan sebuah konspirasi kosmik yang melibatkan dapur, dompet, dan deretan shaf di masjid.
Mari kita mulai dengan tetiba saja menjamur di media sosial jasa penukaran uang pecahan baru yang akrab disebut “uang matto”. Menjelang Lebaran, uang sepuluh ribuan dan dua puluh ribuan yang biasanya setia menghuni dompet, tiba-tiba melakukan migrasi besar-besaran menjadi harus baru. Uang matto seolah menjadi syarat sah atau paripurnanya hari kemenangan. Secara psikologis, ini adalah bentuk “Social Proof” yang akut. Kita merasa belum menjadi manusia seutuhnya jika belum memegang gepokan uang baru untuk dibagikan ke keponakan. Kita rela antre berjam-jam di bank, atau yang lebih tragis, membeli uang dengan uang sebuah logika ekonomi yang kalau didengar Adam Smith mungkin akan membuatnya pensiun dini.
Tidak hanya sampai disitu, tengoklah dapur. Tabung gas elpiji 3 kg yang status keberadaannya lebih misterius daripada hilangnya pesawat di Gunung Ganda Dewata. Tabung hijau itu mendadak jadi barang mewah-walau sudah ada tapi merasa belum cukup. Ibu-ibu di kampung sudah berubah menjadi detektif swasta. Mereka sanggup mengendus aroma gas dari jarak dua kilometer. Hilangnya gas elpiji di akhir Ramadan adalah realita hidup paling pedas, kita disuruh menahan lapar saat puasa tapi saat mau memasak untuk berbuka dan lebaran, apinya justru mogok karena bahan bakarnya sedang “cuti bersama”, lagi-lagi itu hanyalah imajinasi ibu-ibu yang seolah-olah tidak cukup.
Namun, hilangnya benda yang paling menyesakkan dada adalah hilangnya para pemuda dan pemudi dari shaf-shaf masjid di malam-malam terakhir. Awal Ramadan penuh sesak sampai ke teras, kini mengalami penyusutan massal. Shaf depan yang biasanya dihuni anak-anak muda dengan baju koko yang mengkilap, sarung kekinian dan bau parfum scarlet Extrait de Parfum Biru Samudra, kini hanya menyisakan barisan “pahlawan bertulang rapuh” para sesepuh yang batuknya lebih berirama dibanding bacaan imam.
Ke mana para pemuda ini? Jawabannya ada di kafe-kafe estetik atau di Alun-alun. Secara psikologis, ini adalah fenomena “Present Bias”, kecenderungan manusia untuk lebih menghargai kepuasan instan (nongkrong dan tertawa bersama teman atau kekasih) daripada imbalan jangka panjang (pahala malam Lailatul Qadar). Bagi mereka, aroma kopi susu di kafe jauh lebih magnetis dibanding aroma karpet masjid yang sudah mulai lembap oleh sujud ribuan jamaah selama tiga minggu.
Inilah realita kehidupan, kita lebih panik kehilangan tabung gas daripada kehilangan momen pengampunan. Kita lebih sibuk mencari uang baru daripada mencari hati yang baru. Dan kita lebih takut ketinggalan gosip di tongkrongan kafe daripada ketinggalan barisan shaf salat tarawih.
Kita ini memang hamba yang sangat lucu. Kita memohon agar dipertemukan kembali dengan Ramadan tahun depan, tapi saat Ramadan yang sekarang sedang melambai pamit, kita justru sibuk mengecek harga baju di keranjang kuning atau sibuk memperbaiki gaya duduk di depan teman nongkrong. Kita mengeluh gas mahal dan uang susah didapat, tapi sanggup menghabiskan ratusan ribu untuk sekali nongkrong demi sebuah pengakuan status di media sosial.
Pada akhirnya, akhir Ramadan adalah cermin besar bagi kita semua. Ia menunjukkan apa yang benar-benar kita cari? apakah “kemenangan” yang hakiki atau sekadar perayaan kosmetik yang dibungkus dengan baju baru, uang baru, dan foto baru di Cafe.
Tuhan mungkin sedang tersenyum melihat tingkah kita “makhluk-makhluk gagah yang sanggup mengangkat beban berat di tempat gym, tapi tak sanggup mengangkat pantat dari kursi kafe untuk berjalan menuju masjid”.



