Seni Menabung Luka

Dunia ini memang panggung yang adil setidaknya dalam hal distribusi nyinyiran. Ada golongan manusia yang hobinya menghina dan ada golongan yang nasibnya memang diciptakan sebagai sasaran dicaci atau dihina. Menjadi orang yang sering dihina itu sebenarnya adalah sebuah anugerah yang menyamar menjadi musibah. Kenapa? Karena penghina adalah pemandu sorak gratisan yang paling jujur dalam menunjukkan di mana letak kelemahan kita, sekaligus menjadi kayu bakar untuk melesat maju.
Dalam kacamata psikologi, fenomena ini sering disebut sebagai Post-Traumatic Growth (Pertumbuhan Pascatrauma). Ini bukan sekadar teori muluk-muluk di buku teks, tapi kenyataan bahwa jiwa manusia itu mirip otot, ia harus robek sedikit oleh beban atau dalam hal ini oleh hinaan supaya bisa tumbuh lebih kuat dan lebih besar dari sebelumnya. Orang yang dihina tidak hanya sekadar sembuh tapi mereka berevolusi menjadi versi diri yang lebih tangguh karena sudah kebal terhadap racun lisan.
Menjadi pemenang bagi orang yang sering dihina itu bukan soal membalas makian dengan makian yang lebih puitis, Itu cara amatir. Pemenang sejati adalah mereka yang menjadikan hinaan sebagai pupuk. Bayangkan, Anda dilempari kotoran setiap hari. Orang bodoh akan sibuk membalas melempar balik kotoran itu sampai tangannya sendiri bau busuk. Tapi orang yang berakal akan mengumpulkan kotoran itu lalu mengolahnya jadi pupuk dan menanam bunga mawar yang paling wangi di halaman rumahnya.
Penghina itu sebenarnya sedang memberikan “energi” secara cuma-cuma. Saat seseorang menghina Anda dia sedang menghabiskan waktu, pikiran, dan emosinya untuk memikirkan Anda. Sementara Anda? Anda cukup diam dan terus berjalan. Di sini letak kehidupan yang paling lucu. Si penghina merasa sedang menang karena berhasil mengeluarkan kata-kata tajam, padahal dia sedang menjadi tawanan dari rasa benci yang dia ciptakan sendiri. Sementara yang dihina dengan langkah tenang justru sedang menabung kemenangan demi kemenangan kecil.
Lihatlah para pemenang di dunia ini. Jarang sekali ada orang hebat yang karirnya mulus tanpa pernah dicemooh. Justru, mereka yang sering disebut “anak bawang”, “tidak punya masa depan atau si buruk rupa adalah mereka yang memiliki daya tahan mental tingkat dewa. Mereka sudah kenyang dengan rasa sakit sehingga ketika tantangan hidup yang sebenarnya datang mereka tidak kaget. Mereka sudah biasa berenang dalam lumpur, maka ketika harus berenang di samudra luas, mereka tidak lagi takut tenggelam.
Hinaan adalah bentuk pengakuan yang terdistorsi. Orang tidak akan menghina pohon yang tidak berbuah. Orang hanya melempari batu pada pohon yang buahnya manis. Jadi, kalau Anda sering dihina, selamat! Itu tandanya Anda punya “buah” yang sedang diincar atau dicemburui oleh orang lain. Pemenang tidak lahir di atas kasur empuk yang penuh pujian; pemenang lahir di atas aspal panas yang penuh dengan teriakan cemooh.
Pada akhirnya, kemenangan bagi orang yang dihina adalah saat si penghina masih sibuk mencari celah baru untuk mencaci sementara yang dihina sudah berdiri di puncak pencapaian yang bahkan tidak berani dimimpikan oleh si penghina. Inilah puncak dari Post-Traumatic Growth: saat luka-luka lama sudah berubah menjadi permata yang berkilau.
Pagi ini selagi menikmati teh, renungkanlah. Jika kemarin ada yang menghinamu, jangan marah. Tersenyumlah. Anggaplah dia sedang membantumu melakukan latihan beban untuk memperkuat otot jiwamu. Sebab, singa tidak akan pernah menoleh ketika anjing menggonggong. Singa hanya fokus pada mangsanya, sementara anjing tetap menjadi anjing yang kelelahan karena terlalu banyak mengeluarkan suara tanpa hasil.
Menjadi pemenang itu sunyi. Ia tidak butuh tepuk tangan dari orang-orang yang dulu meremehkanmu. Cukuplah keberhasilanmu menjadi jawaban paling sopan dan paling telak yang bisa kamu berikan kepada dunia. Jangan balas hinaan dengan kata-kata, balaslah dengan prestasi yang membuat mereka harus mendongak hanya untuk sekadar melihat bayanganmu.
Selamat menjadi pemenang yang tenang. Biarkan mereka terus bicara, sementara kamu terus melangkah menuju garis finis yang wangi.


