Refleksi

Sabar yang Mekanik, Fitri yang Otentik

Duduk di ruang tunggu bengkel resmi Suzuki menjelang lebaran itu rasanya seperti sedang i’tikaf di antara aroma oli dan bunyi mesin yang meraung-raung. Di luar sana, orang-orang sudah sibuk memikirkan warna baju seragam keluarga atau opor, daging rendang yang akan digigit. Sementara di sini, terkurung dalam ritual “pemujaan” terhadap benda logam bernama mobil, hanya agar ia tidak merajuk saat diajak menanjak di jalur mudik nanti.

Menunggu itu pekerjaan yang paling tidak populer di dunia, apalagi di tengah keriuhan persiapan hari raya. Namun, jika kita meminjam kacamata psikologi tentang delayed gratification kemampuan menunda kesenangan demi hasil yang lebih besar maka kursi plastik di bengkel ini sebenarnya adalah bangku sekolah bagi jiwa kita. Kita sedang dilatih untuk tidak “kajili-jili”. Kita dipaksa menunda bayangan nikmatnya opor ayam di kampung halaman demi keamanan baut dan rem yang pakem. Karena apa gunanya sampai cepat kalau hanya untuk mogok di tengah jalan sambil menanggung malu di depan mertua atau di depan ipar atau tetangga dengan mobil barunya.

Mesin mobil itu persis seperti ego manusia. Kadang ia perlu tune-up, perlu dibersihkan kerak-keraknya agar suaranya kembali halus. Setahun penuh kita pakai mesin ini untuk mengejar ambisi, menerjang macetnya kota, hingga tanpa sadar banyak kotoran emosi yang mengendap. Di bengkel ini, mekanik berbaju biru dengan telaten mengecek setiap jengkal komponen. Seharusnya, menjelang Lebaran, kita pun punya “mekanik batin” yang sama telatennya. Mengecek apakah rem empati kita masih berfungsi, atau jangan-jangan busi keikhlasan kita sudah hitam legam tertutup jelaga kesombongan.

Seringkali kita lebih peduli pada keaslian suku cadang mesin daripada keaslian niat kita saat bersilaturahmi. Kita rela antre berjam-jam dan membayar mahal untuk oli mesin yang asli, tapi kadang kita memelihara rasa maaf yang palsu di hari raya. Maaf yang hanya sekadar “template” di pesan singkat, tanpa benar-benar mengganti “oli” kebencian dengan cairan kasih sayang yang baru. Padahal, hidup itu butuh pelumas agar gesekan antar manusia tidak bikin mesin persaudaraan kita jadi overheat.

Di ruang tunggu yang dingin ini, saya diajak untuk melihat miniatur kehidupan. Ada bapak-bapak yang terus melihat jam dengan wajah tegang, ada ibu-ibu yang asyik dengan ponselnya dan ada anak muda yang tenang-tenang saja membaca koran yang isi beritanya tentang peperangan Iran vs Israhel. Semuanya punya tujuan yang sama, yaitu pulang. Tapi semuanya terikat pada hukum yang sama, antrean. Tak ada gunanya marah pada petugas servis karena setiap mobil punya tingkat “kerusakan” dan kebutuhan yang berbeda. Sama seperti manusia, ada yang proses tobatnya cepat, ada yang butuh “turun mesin” total karena dosanya sudah telanjur karatan.

Akhirnya, ketika nama kita dipanggil dan kunci mobil diserahkan ada sensasi lega yang luar biasa. Suara mesin yang kini lebih halus saat dinyalakan adalah musik yang paling merdu sebelum gema takbir berkumandang. Saya pun sadar, Lebaran bukan sekadar soal seberapa jauh kita melaju, tapi seberapa siap kendaraan jiwa kita membawa diri yang baru.

Pulanglah dengan mesin yang sehat, tapi yang lebih penting, pulanglah dengan hati yang sudah selesai diservis. Jangan sampai saat mobil sudah melaju mulus di aspal mulia, hati kita justru masih tersendat karena ada rindu yang belum tuntas atau dendam yang belum sempat dibuang ke tempat limbah. Selamat mudik, selamat memperbaiki diri di sela-sela deru mesin.

Muhammad Junaedi Mahyuddin

Pria kelahiran dari kampung kecil yang bernama Banua baru. Saat ini aktif mengabdi sebagai pengajar di salah satu perguruan tinggi Muhammadiyah di Sulawesi Selatan

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button