Mahasiswa yang lupa berhenti

Dulu, saat surat kelulusan itu datang, rasanya dunia seperti milik kita sendiri. Kita membayangkan diri sebagai intelektual muda yang berjalan gagah di koridor kampus, menenteng buku tebal, dan berdiskusi tentang negara di kedai kopi hingga larut malam. Namun, bagi mahasiswa baru, romansa itu seringkali menguap lebih cepat dari uap kopi pagi. Yang tersisa hanyalah tumpukan tugas yang datangnya lebih spartan ketimbang pasukan Persia di film 300.
Di sinilah burnout itu masuk tanpa mengetuk pintu.
Burnout pada mahasiswa baru itu unik. Ia bukan sekadar lelah fisik. Kalau cuma lelah, tidur delapan jam biasanya tuntas. Tapi ini adalah lelah yang “berkarat.” Sebuah kondisi di mana jiwa terasa seperti mesin tua yang dipaksa mengejar kecepatan supercar. Kita bangun pagi dengan perasaan kalah sebelum berperang. Menatap layar laptop yang menyala bukan lagi menatap jendela ilmu pengetahuan, melainkan menatap lubang hitam yang siap menelan kewarasan.
Prie GS sering mengingatkan kita bahwa hidup seringkali menjadi berat karena kita terlalu “serius” menggarap ambisi. Mahasiswa baru masuk ke dunia kampus dengan membawa beban ekspektasi yang luar biasa besar: dari orang tua, dari almamater, dan yang paling kejam, dari diri sendiri. Kita merasa harus menjadi “maha” dalam segala hal. Tugas harus sempurna, organisasi harus aktif, dan media sosial harus tetap terlihat estetik. Kita lupa bahwa kita ini manusia, bukan algoritma yang bisa diupgrade kapasitas memorinya kapan saja.
Bayangkan seorang mahasiswa baru yang begadang tiga malam demi satu makalah. Matanya merah, kopinya sudah dingin, dan ia mulai meragukan apakah ia memang bodoh atau hanya salah jurusan. Di titik ini, tugas kuliah bukan lagi sarana belajar, melainkan alat siksa. Inilah ironi pendidikan kita: kita mengejar ilmu, tapi dalam prosesnya kita sering kehilangan kemanusiaan kita sendiri. Kita menjadi pintar dalam teori, tapi gagap dalam mengelola hati.
Padahal, jika kita mau sedikit “kepala batu” ala orang-orang bijak di desa, kita akan sadar bahwa dunia tidak akan kiamat hanya karena satu tugas yang dikumpulkan terlambat atau nilai yang meleset dari angka empat. Hidup ini luas, tapi kita sering menyempitkannya hanya seukuran layar monitor. Kita terlalu sibuk menghitung berapa halaman yang harus ditulis, sampai lupa menghitung berapa kali kita sudah tertawa dengan teman kos minggu ini.
Burnout sebenarnya adalah alarm dari semesta agar kita berhenti sejenak. Ia adalah cara tubuh mengatakan, “Hei, kamu sudah terlalu jauh meninggalkan dirimu di belakang.” Kita butuh jeda. Bukan jeda yang diisi dengan bermain ponsel karena itu hanya memindahkan kelelahan dari satu layar ke layar lain, tapi jeda yang benar-benar kosong. Melamun di bawah pohon, memperhatikan tukang bakso yang lewat, atau sekadar tidur tanpa perasaan bersalah.
Kesalahan terbesar mahasiswa baru adalah menganggap bahwa kelelahan adalah tanda kesuksesan. Kita sering bangga menunjukkan kantung mata yang menghitam seolah itu adalah lencana kehormatan. Padahal, intelektualitas tanpa kesehatan mental hanyalah kecerdasan yang rapuh. Apa gunanya gelar sarjana jika saat merayakannya, kita sudah kehilangan kegembiraan untuk hidup?
Mari kita sadari kembali: menjadi mahasiswa adalah proses menjadi manusia yang lebih dewasa, bukan menjadi robot yang lebih efisien. Tugas akan selalu ada, dosen akan tetap menuntut, dan persaingan akan terus tajam. Namun, di tengah semua kegilaan akademik itu, kita harus tetap punya satu ruang kecil di hati yang tidak boleh diganggu gugat oleh tugas apa pun. Ruang di mana kita bisa menertawakan diri sendiri, menerima kegagalan dengan lapang dada, dan menyadari bahwa ilmu yang paling tinggi adalah ilmu untuk tetap bahagia di tengah tekanan.
Tugas kuliah itu penting, tapi kewarasanmu jauh lebih sakral. Jangan sampai saat kamu berhasil menggenggam ijazah, kamu justru kehilangan dirimu sendiri.


