Refleksi

Belajar Pada Cristiano Ronaldo

Jadi, gini ceritanya. Cristiano Ronaldo itu kayak orang yang dikutuk untuk selalu membawa beban di atas pundaknya, tapi setiap kali dia jatuh, dia malah berdiri lebih tinggi. Seperti Sisyphus, tapi Sisyphusnya marah.

Piala Dunia 2026: Harapan yang Berubah Jadi Tekanan

Dengarkan, Portugal tahun 2026 negara yang jumlah populasinya cuma 10 juta orang, tapi ekspektasi yang ditaruh di bahu Ronaldo bisa mencapai berat 100 juta ton. Itu bukan hiperbola, itu adalah realitas dari seorang pemain yang sudah tua, yang seharusnya duduk di kursi malas sambil minum Susu beruang, tapi malah masih lari-larian di lapangan.

Piala Dunia 2026 akan menjadi kisah terakhir Ronaldo di panggung terbesar dunia. Dan tahu apa yang paling menyakitkan? Dunia tidak menunggu prestasinya lagi. Dunia malah menunggu kegagalannya untuk bisa berkata, “Lihat, nafasnya dah tak beraturan”. Hal inilah yang saya saksikan semalam, di tengah riuh penonton bola. yang entah apa betul ia datang untuk menyaksikan permainan bola (fans) atau ia hanya datang untuk mencomooh pemilik nomor punggung 7 di Portugal setelah menyaksikan Messi mencetak 3 Gol di leg pertama piala dunia 2026.

Messi, Messi, Messi…!!!!!

Menjadi sorakan yang paling nyaring untuk mematikan C.Ronaldo bahkan untuk membuat para fans C.Ronaldo pada malam tadi.  kata-kata yang sering digunakan pada (katakanlah) pembenci Ronaldo. “Messi meninggalkan lapangan dengan sebuah lambang emas Piala Dunia di tangannya, Ronaldo hanya punya deretan trofi klub dan prestise pribadi dan Piala EUROPA.

Bayangkan kamu bekerja keras seumur hidup, mengubah tubuhmu, mengorbankan setiap momen bersama keluarga untuk keunggulan atletik, dan lalu ada seseorang yang lebih pendek, tidak seperti yang kamu bayangkan, dengan DNA yang tampaknya tidak dirancang untuk sukses dalam bidang Bola, namun ia menjadi pemain yang mampu mengkoleksi gelar Piala dunia.,, C.Ronaldo Belum pernah…

Itu bukan hanya perbandingan. Itu adalah pengadilan oleh penonton.

Dan sebagaian orang di dunia nyata, bahkan di dunia Maya menikmati ini. Dunia membully Ronaldo, membandingkannya, meremehkan setiap pencapaiannya dengan frase sederhana: “Tapi Messi punya Piala Dunia.”

Bullying dan Standar Ganda yang Gila-Gilaan

Kamu tahu apa yang paling gilakah? Jika Ronaldo mencetak 30 gol dalam satu musim, media akan berbicara tentang bagaimana dia “masih berusaha membuktikan diri.” Jika Messi mencetak 20 gol, akan ada naskah panjang tentang “bagaimana dia bermain dengan efisiensi dan kontrol tempo pertandingan.”

Standar ganda adalah besi yang digunakan untuk rantai Ronaldo. Dia disuruh memenangkan Piala Dunia sendirian, padahal Messi memiliki 10 pemain lain yang bermain dengan sempurna. Dia disuruh tetap muda, padahal tubuh manusia memiliki jadwal yang tidak bisa dinego lagi. Dia disuruh mencetak gol di setiap pertandingan. C.Ronaldo adalah manusia, dia bukan Dewa, bahkan dewapun akan capek dengan ekspektasi yang berlebihan itu.

Harusnya kita belajar pada C.Ronaldo

Sekarang, dengarkan!. Jangan sampai kamu merasa kasihan untuk Ronaldo. Itu bukan poin dari cerita ini.

Poin dari cerita ini adalah bahwa Ronaldo terus bermain meskipun dia tahu bahwa publik akan selalu membandingkannya. Dia terus bermain meskipun media membully-nya. Dia terus bermain meskipun dunia mengatakan bahwa pencapaiannya tidak cukup. Inilah semangat yang seharusnya kita ambil lalu contohkan.

Tidak ada yang mengatakan bahwa kehidupan akan adil. Tidak ada jaminan bahwa kerja kerasmu akan diakui, bahwa dedikasi akan dihargai, atau bahwa langkahmu akan dipuji. Ada banyak orang yang akan membandingkanmu, mengkritik gerakanmu, dan membuat kesimpulan tentang nilaimu hanya dengan melihat satu slide dari film hidupmu.

Tapi Cristiano Ronaldo tidak peduli usia, tidak peduli kritik, tidak peduli bullying yang terus mengikat di dalam lapangan dan diluar ke lapangan. C. Ronaldo tetap menujukkan etos kerja yang paling murni. Bukan karena dia akan menang. Bukan karena dunia akan merayakannya. Tapi karena itu adalah satu-satunya bahasa yang dia ketahui untuk berbicara dengan dirinya sendiri.

Piala Dunia 2026: Terakhir 

Ketika Piala Dunia 2026 ini masih berjalan beberapa pekan lagi, dan ketika (atau jika) Ronaldo mencetak golnya, atau ketika (atau jika) dia tidak melakukannya, ingatlah bahwa ada seorang pria yang berusia 41 tahun (atau lebih) yang masih mencoba. Dia masih membawa beban bersama-sama dengan 10 pemain lain, dan dia masih melakukan itu dengan kesadaran penuh bahwa dunia sudah memutuskan cerita akhirnya.

Itu bukan kehilangan. Itu adalah menang dengan cara yang paling keras, paling jujur, dan paling manusiawi. Karena pada akhirnya, trophie itu akan berkarat. Medali akan jatuh dari leher kita. Tetapi semangat, semangat untuk terus berusaha meskipun dunia mengatakan bahwa kamu tidak cukup, itu adalah satu-satunya hal yang tidak pernah hilang. Dan itulah hal yang seharusnya kita ambil dari Cristiano Ronaldo. Bukan laporan statistiknya. Bukan piala yang dia menang atau tidak menang. Tapi semangat untuk tetap berdiri, meskipun semua orang sudah menulis epitafmu.

“Dalam kehidupan kita yang jauh lebih biasa, kita juga menghadapi Messi kita. Kita juga dibandingkan. Kita juga dibully oleh standar ganda. Tapi jika Ronaldo bisa melakukannya di panggung paling besar dunia, maka kita juga bisa melakukannya di panggung kita sendiri”

Muhammad Junaedi Mahyuddin

Pria kelahiran dari kampung kecil yang bernama Banua baru. Saat ini aktif mengabdi sebagai pengajar di salah satu perguruan tinggi Muhammadiyah di Sulawesi Selatan

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Check Also
Close
Back to top button