
Pagi tadi saya duduk di warung kopi, mendengar dua bapak bahagia karena Portugal, tim kesayangannya di Piala Dunia 2026 menang dengan angka 5-0. Bahagianya semakin terasa ketika C. Ronalado berhasil menyumbangkan 2 gol. Bapak yang satunya saya pastikan pendukung Argentina karena ia sesekali menyebut nama Messi dan mencoba mengkomparasikan antara C.Ronaldo. Anda sudah tahukan suasana warung kopi itu kan?. Di dunia maya aja ribut, apatalagi di dunia nyata… Hingga membandingkan, siapa yang lebih layak disebut pemain bola terbaik sepanjang masa. Satu bilang Messi itu anugerah langit, satu lagi ngotot Ronaldo itu hasil keringat semata. Saya cuma diam, menyeruput kopi tanpa gula yang sudah dingin, sambil bergumang dalam hati: Iya juga sih…. mereka berdua prototipe dari dua wajah, yaitu: Usaha dan Anugrah.
Tapi yang bikin saya kepikiran lama bukan debat itu. Yang bikin saya kepikiran adalah anak tetangga saya, masih SMA, beberapa hari lalu bilang begini, “Buat apa saya bercita-cita tinggi, saya bukan orang berbakat seperti Messi, dan saya juga nggak punya tenaga seperti Ronaldo.” Kalimat itu pendek, tapi rasanya seperti pukulan, karena di baliknya ada banyak anak muda lain yang diam-diam berpikir serupa, merasa tidak cukup berbakat untuk jadi istimewa dan terlalu lelah untuk jadi pekerja keras yang ideal.
Ini yang menurut saya keliru. Kita terlalu sibuk menjadikan Messi dan Ronaldo sebagai dua jawaban yang bertolak belakang, padahal sebenarnya mereka berdua bisa jadi satu pelajaran yang sama: bahwa jalan menuju sesuatu yang besar itu Tunggal dan tidak ada yang harus menunggu sampai tahu dirinya “termasuk golongan mana” sebelum ia mulai.
Coba pikir begini. Messi kecil itu badannya kurus, bahkan pernah punya gangguan hormon pertumbuhan, sampai keluarganya harus pindah negara demi pengobatannya. Itu bukan jalan mulus orang yang “memang sudah ditakdirkan jadi bintang”. Dia juga jatuh, juga diragukan, juga harus berjuang lebih dulu sebelum dunia tahu dia istimewa. Sementara Ronaldo, meski dikenal sebagai simbol kerja keras, juga sudah kelihatan menonjol sejak kecil sampai direkrut klub besar di usia dua belas tahun. Jadi kalau dipikir-pikir, dua orang ini bukan contoh bakat lawan kerja keras. Mereka contoh bahwa bakat dan kerja keras itu selalu jalan berdampingan, cuma porsinya kelihatan beda di mata orang yang nontonnya dari jauh.
Nah, ini yang menurut saya lebih penting buat anak-anak muda yang masih pesimis sama masa depannya. Mari menjadikan dua tokoh ini alasan untuk berhenti mencoba, jadikan mereka alasan untuk berani mulai, walau belum tahu nanti jadi yang seperti apa. Kamu tidak perlu menunggu tahu apa kamu “berbakat” dulu baru boleh berusaha. Bakat itu kadang baru kelihatan setelah dicoba, bukan sebelum dicoba. Kerja keras juga tidak harus langsung sehebat orang yang sudah dua puluh tahun berlatih. Cukup mulai dari yang kecil, konsisten, pelan-pelan, tidak usah buru-buru membandingkan diri dengan yang sudah di puncak.
Saya kembali kepada dua bapak-bapak itu yang tetap saja ribut. Lebih jauh, justru kita acapkali meminjam cerita orang besar seperti Messi dan Ronaldo bukan untuk menyemangati, tapi untuk mengecilkan hati sendiri. “Ah, saya tidak seberbakat Messi.” “Ah, saya tidak setahan banting Ronaldo.” Padahal cerita mereka semestinya dipakai sebaliknya: lihat, bahkan dua orang paling istimewa di dunia ini pun harus mulai dari titik yang tidak pasti, dari keraguan, dari badan kurus dan latihan yang membosankan setiap hari. Kalau mereka bisa, bukan berarti kita harus jadi seperti mereka, tapi setidaknya kita jadi punya alasan untuk percaya bahwa jalan kita sendiri, betapapun kecilnya, juga masih layak dijalani.
Jadi lain kali ada yang ribut soal Messi anugerah atau Ronaldo keringat, saya rasa sudah waktunya kita berhenti memilih sisi. Ambil saja dua-duanya. Anggap mereka berdua cermin yang menunjukkan hal sama dari sudut berbeda: bahwa untuk jadi luar biasa, kita cuma perlu berani mulai dari yang kita punya sekarang, sekecil apa pun itu, dan percaya bahwa hasilnya baru akan kelihatan nanti, bukan hari ini.

