Panggilan Alam “Fomo”

Ada sebuah fenomena psikologis yang luput dari catatan para ilmuwan, namun terbaca jelas di raut wajah para ibu, bapak, hingga pasangan muda-mudi di minggu terakhir Ramadan. Saya menyebutnya sebagai “Panggilan Alam (FOMO)”. Bukan panggilan alam yang membuat kita lari ke kamar mandi, melainkan tarikan magnetis yang membuat kaki-kaki kita selalu berakhir di pasar malam, kafe yang estetik, atau hamparan rumput alun-alun.
Coba perhatikan. Di awal Ramadan, masjid adalah primadona. Namun, begitu masuk sepuluh malam terakhir, terjadilah sebuah pergeseran tektonik dalam struktur spiritualitas kita. Magnet masjid perlahan melemah, kalah sakti dibanding grup WhatsApp yang mendadak berisik dengan ajakan “Ngopi tipis-tipis” atau rengekan kekasih yang ingin menikmati angin malam di alun-alun sebelum mudik melanda.
Di titik ini, perburuan mencari Lailatul Qadar mulai tersaingi oleh perburuan mencari meja kosong di kafe. Seolah-olah, pintu langit baru benar-benar terbuka jika kita sudah mengunggah foto cangkir kopi dengan latar belakang lampu kota yang temaram. Kita yang di awal bulan begitu khusyuk mengejar “malam yang lebih baik dari seribu bulan”, tetiba menjadi petualang malam yang lebih sibuk mengejar “momen yang lebih estetik dari seribu momen”. Spiritualitas kita mendadak mengalami penyusutan dimensi dari yang tadinya urusan hati yang luas, menjadi urusan sudut pandang kamera yang pas.
Masuk ke pasar di sore hari dan berakhir di alun-alun saat malam adalah memasuki arena peperangan yang ganjil. Di sini, kekhusyukan salat tarawih mulai terganggu oleh gangguan sinyal dari dunia luar. Saat imam sedang membaca surat yang panjang, di dalam kepala kita justru muncul grafik harga baju yang naik dengan kecepatan yang melampaui roket Iran. Pikiran kita bercabang; separuh di sujud, separuh lagi memikirkan apakah cafe itu masih kosong atau gebetanku masih berada di alun-alun atau sudah pulang.
Inilah satir paling getir dari ibadah kita. Kita seringkali merasa sudah menang melawan hawa nafsu selama tiga minggu namun menyerah telak di hadapan godaan nongkrong bersama kawan lama. Cafe dan Alun-alun berubah menjadi pusat gravitasi, tempat orang-orang melakukan “tawaf” mengelilingi pedagang kaki lima, berharap mendapatkan berkah berupa tawa riang bersama kekasih, meski harga parkir melonjak tak masuk akal. Kita rela berdesakan di antara asap sate dan bising klakson, seolah-olah rukun iman yang ketujuh adalah: “Nongkronglah sebelum hari raya tiba.”Padahal, jika kita mau sedikit lebih santai ala gaya orang-orang arif, lebaran itu bukan soal seberapa sering kita pamer kemesraan di bawah lampu alun-alun atau seberapa mahal kopi yang kita seruput di kafe. Tapi ya itu tadi, manusia memang makhluk yang unyu. Kita merasa lebih percaya diri menghadap Tuhan di hari raya jika kita sudah “menuntaskan” rindu pada dunia, daripada membawa hati yang tulus namun merasa ketinggalan zaman (FOMO).
Akhirnya, pasar dan tempat nongkrong tetaplah menjadi panggilan alam yang tak terelakkan. Ia adalah ujian terakhir yang lebih berat daripada menahan haus di siang bolong. Ia menguji apakah niat iktikaf kita lebih kuat daripada keinginan untuk memesan sepiring camilan di tengah gelak tawa teman. Saat Ramadan pamit, alun-alun dan kafe menang telak dalam urusan statistik kunjungan. Kita pulang dengan mata mengantuk dan saldo yang kritis, sambil berharap Tuhan tetap memberikan pahala yang utuh atas ibadah yang sedikit “terkontaminasi” oleh aroma kopi dan bayang-bayang harga kebutuhan modis yang belum juga diskon.
Ramadan memang suci, tapi nongkrong bagi sebagian besar orang ternyata jauh lebih “seksi”.




