Refleksi

Jalangkote dan Problematinya (Part 3)

Tukang Jalangkote dan Psikologi Resiliensi

Pernah tidak kamu perhatikan tukang jalangkote yang berjualan di pinggir jalan? Dia bangun jam tiga subuh, menguleni adonan kulit, memotong wortel sampai tangannya bau sayuran seminggu ke depan. Lalu dia goreng ratusan biji, dibungkus plastik, ditata rapi di atas tampah anyaman, dan dijual dengan harga yang kalau dihitung modalnya…. aduh, lebih untung tidur saja.

Tapi dia tidak tidur. Dia tetap berdiri. Karena ada anak yang menunggu di rumah. Ada tunggakan sekolah yang belum lunas. Ada mimpi kecil yang dijaga seperti menjaga nyala lilin di tengah angin.

Dalam psikologi, ini disebut resiliensi kemampuan bangkit dan bertahan di tengah tekanan. Dan tukang jalangkote itu, tanpa pernah membaca satu pun buku psikologi, sudah mempraktikkannya setiap hari. Dia bukan sekadar menjual kue. Dia sedang mendemonstrasikan bahwa hidup ini soal tetap bergerak, meski gerakannya pelan dan baunya minyak goreng bekas.

Muhammad Junaedi Mahyuddin

Pria kelahiran dari kampung kecil yang bernama Banua baru. Saat ini aktif mengabdi sebagai pengajar di salah satu perguruan tinggi Muhammadiyah di Sulawesi Selatan

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button