Refleksi

Post Holiday Blues; Halusinasi Kapurung

Hari pertama kerja pasca-lebaran bukanlah dimulai saat kita menginjakkan kaki di tangga kecil lobi kantor, melainkan di depan cermin kamar tidur. Di sana, sebuah drama kolosal terjadi: kancing kemeja kerja tiba-tiba melakukan aksi mogok kerja. Ia tampak bermusuhan dengan lubangnya sendiri, seolah-olah ada kekuatan gaib yang menarik kain itu hingga menjauh.

Dalam situasi ini, kita biasanya menolak kenyataan dengan mencari kambing hitam yang paling logis. Kita akan menyalahkan hasil setrikaan istri yang terlalu panas atau deterjen baru yang dituding memiliki efek samping merubah warna kain. Padahal, jauh di lubuk hati yang paling dalam, yang mungkin tersembunyi di balik tumpukan lemak baru, kita tahu benar bahwa ini adalah hasil konspirasi jahat antara: Kapurung, kari ayam, tape, dan kue nastar yang bersekutu secara epik di dalam perut selama seminggu penuh di rumah mertua. Kita berusaha meyakinkan diri bahwa kita masih orang yang sama dengan yang cuti seminggu lalu, namun angka di timbangan dan kemeja yang mencekik leher berkata lain.

Masuk ke kantor dalam kondisi ini menciptakan sebuah fenomena psikologis yang disebut kognitif disonansi. Ada jurang yang menganga lebar antara memori otak yang masih tertinggal di kampung halaman istri yang penuh dengan memori santai, tawa keluarga, dan ritual makan tanpa henti dengan kenyataan jari yang harus menempel di mesin fingerprint.

Finger Print adalah benda paling jujur sekaligus paling kejam yang pernah diciptakan manusia, tidak memiliki empati. Ia tidak peduli seberapa “fitri” hati kita setelah saling bermaafan atau seberapa tulus doa kita di hari kemenangan. Ia hanya peduli pada ketepatan waktu. Di depan mesin itu, kesucian hati seringkali ternoda oleh angka merah yang muncul di layar. Kita menyadari bahwa “kembali ke fitrah” ternyata tidak otomatis membuat kita kembali ke kedisiplinan. Jari kita mungkin sudah menempel di mesin, tapi jiwa kita masih tertinggal di ruang tamu rumah yang sedang menjangkau stoples kue dengan segelas kopi dan hembusan rokok sempurna dengan kaki yang satu terangkat diganjal paha.

Saat tubuh sudah dipaksa duduk di kursi kerja, serangan berikutnya muncul dalam bentuk halusinasi visual. Layar monitor yang biasanya menampilkan tabel Excel yang rumit tiba-tiba tampak seperti hamparan kapurung dan jagung yang kuning mengkilap. Kumpulan ikon di desktop terlihat seperti potongan sayur yang tertata rapi.

Ini adalah momen di mana konsentrasi kita berada di titik nadir. Suara ketikan rekan kerja di sebelah terdengar seperti bunyi ikan teri yang dikunyah dengan renyah. Setiap kali pintu kantor terbuka, kita berharap ada aroma sambal goreng hati yang masuk, padahal yang datang hanyalah aroma kopi saset yang dipaksakan untuk menahan kantuk. Kantor berubah menjadi ruang simulasi, di mana realitas pekerjaan hanyalah gangguan bagi lamunan tentang sisa kapurung yang mungkin masih diracik oleh mertua di rumah.

Pada akhirnya, “Halusinasi kapurung” adalah ritus transisi yang harus dilalui oleh setiap manusia urban yang jiwanya masih tertancap di kampung. Kita harus belajar menerima bahwa lebaran telah usai dan kemeja yang menyempit adalah “pajak” atas kebahagiaan yang kita konsumsi secara berlebihan.

Kunci untuk bertahan hidup adalah dengan perlahan-lahan menurunkan ego dan mengakui bahwa mesin cuci tidak bersalah. Kita perlu menjinakkan bayangan kapurung di meja kerja dengan mulai mengerjakan satu per satu tugas yang menumpuk. Karena bagaimanapun juga, satu-satunya cara untuk menikmati kapurung di lebaran tahun depan adalah dengan berhenti menghayalkannya sekarang dan mulai mengejar angka-angka di layar monitor. Selamat bekerja kembali; semoga kancing kemeja Anda segera menemukan jalan pulang ke lubangnya.

Muhammad Junaedi Mahyuddin

Pria kelahiran dari kampung kecil yang bernama Banua baru. Saat ini aktif mengabdi sebagai pengajar di salah satu perguruan tinggi Muhammadiyah di Sulawesi Selatan

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button