Di Bawah langit Bendan Ngisor: Persahabatan Itu Mulai terikat

Dahulu, langit Bendang Ngisor, Semarang, menjadi saksi bagi dua pasang kaki yang melangkah dengan ragu namun penuh ambisi. Kampus Pasca UNNES (Universitas Negeri Semarang) bukan sekadar tempat mengejar gelar bagi dua pemuda ini; ia adalah kawah candradimuka yang satu membawa napas laut dan keberanian pelaut Pinisi dari Bulukumba yang satunya membawa keteguhan hati dan kelembutan Nahkoda Perahu Sandeq, Polewali Mandar.
Di sela-sela kuliah yang padat, di bawah rindangnya pohon-pohon kampus, mereka sering bertukar mimpi. Saat itu, dompet mungkin tipis dan masa depan tampak seperti kabut di pagi hari di puncak Ungaran terlihat dingin dan tak pasti. Namun, bagi mereka, irit ala mahasiswa rantau atau keterbatasan bukanlah tembok Gaza, melainkan tangga. Mereka adalah anak-anak zaman yang percaya bahwa dialektika bukan hanya ada di buku teks, tapi di dalam cara mereka bertahan hidup di perantauan.
Waktu berlalu seolah menjadi pemisah yang paling dingin. Setelah toga dipindahkan, mereka berlayar ke arah mata angin yang berbeda. Kabar mulai memudar, ditelan oleh kesibukan mencari jati diri. Namun, satu hal yang tidak pernah putus adalah doa yang terselip di antara sujud-sujud panjang. Pemuda Bulukumba itu menghilang ke ufuk timur, membawa spirit Resopa Temmangingngi Malomo Naletei Pammase Dewata (Hanya dengan kerja keras yang tidak berhenti, maka akan mendapat rahmat dari Tuhan). Ia tidak hanya pergi untuk bekerja; ia pergi untuk menanam ide. Di tanah Sorong, di bawah bendera Universitas Muhammadiyah Sorong, ia merajut kembali serpihan-serpihan mimpi dari Semarang. Ia bertarung dengan realitas pendidikan di garis depan nusantara, membuktikan bahwa intelektualitas bukan hanya milik mereka yang ada di pusat tapi milik siapa saja yang berani mencerdaskan kehidupan bangsa di mana pun kaki berpijak.
Tahun demi tahun berganti. Di sebuah forum ilmiah yang dipenuhi oleh aroma kertas dan wibawa pemikiran, mereka kembali dipertemukan. Bukan lagi sebagai mahasiswa yang berebut kursi di depan kelas, melainkan sebagai pejuang literasi. Sahabat dari Polewali Mandar itu tertegun. Di depan sana, sahabatnya berdiri menjadi Motivator dalam wilayah Riset. Sosok yang dulu dikenalnya sebagai kawan berbagi mie instan di kos-kosan. Ia tak hanya sebagai motivator, dibarisan namanya dibacakan protokoler terdengar begitu megah: Wakil Rektor III Universitas Muhammadiyah Sorong. Ada rasa hangat yang menjalar di dada sang sahabat dari Mandar. Tidak ada rasa iri, yang ada hanyalah sujud syukur yang tak tampak. Ia melihat sahabatnya bukan sebagai “pejabat”, melainkan sebagai bukti hidup bahwa takdir bisa dijemput dengan keberanian. Ia melihat jejak-jejak pasir Bulukumba yang kini telah menjadi mutiara di tanah Papua.
Sahabatnya dari Polman menyadari satu hal: Kebahagiaan tertinggi seorang kawan adalah ketika melihat kawannya menjadi manfaat bagi orang banyak. Kesuksesan putra Bulukumba ini di Sorong adalah “monumen hidup” yang mengatakan bahwa anak daerah, sesulit apa pun akarnya, bisa tumbuh menjadi pohon yang menaungi banyak orang. Kisah ini mengajarkan kita bahwa persahabatan sejati tidak diukur dari seberapa sering kita bertemu, tapi dari seberapa dalam kita saling menginspirasi dalam diam. Pertemuan di forum ilmiah itu adalah pesan bagi generasi kelahiran 90-an: Jangan takut pada sunyi, jangan takut pada proses yang lama. Dari UNNES mereka belajar ilmu, dari tanah kelahiran mereka belajar karakter, dan dari perpisahan mereka belajar ketangguhan.
“Sorong mungkin jauh dari Bulukumba dan Polewali Mandar mungkin punya jalannya sendiri. Namun di bawah langit ilmu, semua jarak adalah nol. Kesuksesanmu, wahai sahabatku sang Wakil Rektor, adalah kesuksesanku juga. Sebab di dalam darahmu, mengalir cintaNYA lewat doa kita saat masih mahasiswa dulu.”
