Refleksi

Pertamax Boleh Mahal, Tapi Mentalmu Jangan Ikut Langka

Ada fenomena menarik yang acap kali bahan bakar naik. Ketika harga bahan bakar naik, Pertamax (kali ini kena batunya). Keluhan juga ikut naik. Status media sosial mendadak ramai. Grup WhatsApp terasa seperti ruang sidang darurat. Semua orang mendadak menjadi pengamat ekonomi, meski kemarin masih bingung membedakan mana kebutuhan dan mana keinginan. Keluhan itu wajar adanya. Hidup yang sudah terasa berat menjadi sedikit lebih berat. Kendaraanpun tetap harus jalan. Aktivitas tetap harus dilakukan. Dompetlah yang kadang harus belajar menerima kenyataan.

Tetapi ada satu hal yang sering luput dari perhatian kita. Pertamax yang mahal itu masalah ekonomi. Sementara pikiran yang kusut, hati yang gampang meledak, dan kecemasan yang dipelihara setiap hari, itu masalah yang berbeda. Jangan sampai keduanya dicampur dalam satu gelas, lalu diminum sendiri.

Saya sering berpikir, manusia modern ini unik. Kita bisa memahami kenaikan harga barang, tetapi sering gagal memahami penurunan kualitas mental diri sendiri. Kita tahu kapan bensin hampir habis. Lampu indikator di motor memberi tahu. Namun siapa yang memberi tanda ketika semangat mulai menipis? Ketika hati mulai kelelahan? Ketika hidup terasa berjalan, tetapi jiwa seperti tertinggal di belakang?. Tidak ada lampu indikator untuk itu. Karena itu kesehatan mental perlu dirawat dengan kesadaran, bukan menunggu kerusakan.

Ada orang yang kendaraannya selalu diisi Pertamax, tetapi pikirannya setiap hari diisi ketakutan. Tangkinya penuh. Batinnya kosong. Ada pula yang sibuk mencari bahan bakar terbaik untuk mesin, tetapi lupa memberi ruang istirahat untuk dirinya sendiri. Padahal manusia bukan kendaraan. Ia tidak cukup hanya diberi energi. Ia juga perlu makna. Dari sinilah kadang kita perlu belajar dari hal-hal sederhana.

Jika kendaraan membutuhkan bahan bakar agar bisa bergerak, maka jiwa membutuhkan harapan agar tidak berhenti berjalan. Jika mesin perlu perawatan berkala, pikiran pun membutuhkan jeda. Sesekali berhenti dari hiruk-pikuk berita, menjauh dari perlombaan yang tidak perlu, dan duduk sebentar bersama diri sendiri. Sebab yang membuat manusia tumbang sering kali bukan karena harga bensin. Yang membuatnya roboh adalah karena ia membawa terlalu banyak beban yang tidak pernah ia ceritakan kepada siapa pun. Maka ketika mendengar orang mengeluh soal Pertamax yang semakin mahal, saya memahami. Itu persoalan nyata. Tetapi saya juga ingin mengatakan sesuatu yang mungkin terdengar agak nyeleneh. Kalau harga Pertamax naik beberapa ribu rupiah, jangan biarkan harga ketenanganmu turun sampai nol. Karena pada akhirnya, yang paling mahal dalam hidup bukanlah bahan bakar kendaraan. Yang paling mahal adalah pikiran yang sehat, hati yang lapang, dan kemampuan untuk tetap tertawa meski keadaan sedang tidak ramah.

“Pertamax boleh mahal. Tapi mentalmu jangan sampai menjadi barang langka. Sebab SPBU bisa kehabisan stok bensin, sementara manusia yang kehabisan harapan jauh lebih sulit untuk diisi kembali”.

Muhammad Junaedi Mahyuddin

Pria kelahiran dari kampung kecil yang bernama Banua baru. Saat ini aktif mengabdi sebagai pengajar di salah satu perguruan tinggi Muhammadiyah di Sulawesi Selatan

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Check Also
Close
Back to top button