Ibu di Gerbang Pabrik

Sewaktu saya kuliah S2 di Semarang, antara 2011 hingga 2014, ada satu pemandangan yang setiap pagi dan sore selalu berhasil membuat saya berhenti sejenak dari lamunan di atas kayuhan sepeda. Jalur dari rumah ke kampus melewati beberapa pabrik besar. Pabrik tekstil, Pabrik garmen, Pabrik yang cerobongnya mengepul dan gerbangnya selalu ramai. Dan yang paling membuat saya tertegun bukan cerobong itu, bukan juga deru mesinnya yang terdengar sampai jalan raya. Yang membuat saya tertegun adalah wajah-wajah itu perempuan yang nampak dengan seragam pabrik.Wajah perempuan. Ratusan dari mereka. Berbaju seragam, bergegas, sebagian menggendong tas kecil, sebagian menjepit ponsel di antara telinga dan bahu sambil bicara, mungkin kepada anaknya, mungkin kepada ibunya, mungkin kepada suaminya yang belum bangun. Mereka bukan sedang berwisata pagi. Mereka sedang berperang. Perang sunyi yang tidak pernah masuk halaman depan koran.
Saya masih ingat, satu sore saya berhenti di Warung ES Sop Buah dekat gerbang pabrik itu. Perempuan-perempuan itu baru keluar shift. Ada yang langsung naik angkot. Ada yang menelepon sambil berjalan dengan cepat. Ada yang tertawa keras bersama temannya. Tiba-tiba saya bertanya kepada diri sendiri dengan serius: Apa jadinya jika ibu bekerja di pabrik? Siapa yang mengurusi anaknya di rumah?

Pertanyaan itu bukan pertanyaan akademis. Saya bukan sedang menyusun bab dua tesis. Pertanyaan itu datang dari bagian diri saya yang paling manusiawi, bagian yang tahu bahwa di balik setiap perempuan berseragam pabrik itu, ada balita yang mungkin belum makan, ada anak SD yang berangkat sekolah tanpa diantar, ada dapur yang ditinggal dalam keadaan belum penuh asap masakan.
Bertahun-tahun kemudian, data berbicara. Dan data tidak pernah berdusta, meskipun ia sering tidak cukup untuk membuat kita benar-benar merasakan sesuatu.
Pada Februari 2024, jumlah pekerja perempuan di Indonesia tercatat hampir 22 juta orang. Hanya 33,52 persen dari seluruh pekerja formal. Sementara laki-laki mendominasi dengan hampir dua pertiganya. Sektor industri manufaktur pabrik, dalam bahasa sehari-hari menyerap lebih dari 19 juta tenaga kerja pada 2023, dan sebagian besar dari mereka adalah perempuan dengan upah di kisaran minimum, berpendidikan menengah ke bawah, dan tinggal di kawasan industri yang padat.
Tetapi angka-angka itu tidak menceritakan satu hal, bahwa mereka pulang ke rumah bukan untuk istirahat. Mereka pulang untuk shift kedua yaitu: memasak, menyiapkan seragam anak, mengerjakan PR bersama anak yang mengantuk. Lalu tidur terlambat dan bangun terlalu pagi untuk menyiapkan bekal sebelum jam tujuh. Itulah “beban ganda.” Tetapi bagi perempuan-perempuan yang saya lihat itiu, tidak ada nama ilmiahnya. Hanya ada kelelahan yang mereka tanggung dengan senyum yang belajar untuk tidak bertanya mengapa.
Maka ketika program Makan Bergizi Gratis yang kita kenal sebagai MBG mulai bergulir pada Januari 2025, saya kembali teringat wajah-wajah di gerbang pabrik Semarang itu. Ini bukan tentang anggaran trilyunan ini bukan tentang sudut pandang politik. Jauh lebih sederhana dan jauh lebih dalam dari semua angka itu. Intinya adalah: ada seorang ibu yang pagi ini tidak perlu bangun setengah jam lebih awal hanya untuk menanak nasi dan menggoreng telur sebagai bekal anaknya ke sekolah.
MBG bukan obat untuk semua luka itu. Tidak ada program tunggal yang bisa menanggung beban sebesar itu. Tetapi MBG adalah pengakuan. Pengakuan bahwa negara melihat perempuan-perempuan itu. Bahwa negara tahu mereka bangun sebelum matahari. Bahwa negara paham betapa beratnya menjadi ibu sekaligus pekerja pabrik sekaligus kepala rumah tangga de facto, meskipun kartu identitas mereka tidak mencantumkan gelar itu. Dan mungkin itulah yang paling berharga dari sebuah kebijakan: bukan hanya apa yang ia berikan secara material, tetapi apa yang ia katakan secara moral. MBG berkata: Kami tahu kamu lelah. Biarkan kami yang memikirkan makan siangnya hari ini.
Saya lulus dari Semarang pada 2014. Gerbang pabrik itu masih ada, saya kira. Perempuan-perempuan berseragam itu masih bergegas di pagi hari. Mungkin anak-anak mereka sekarang sudah SMP, sudah SMA, sudah kuliah. Saya berharap mereka makan dengan baik hari ini. Saya berharap ibunya tidak perlu terlalu khawatir. Dan saya berharap, di suatu pagi yang tenang, seorang ibu pekerja pabrik bisa berangkat kerja tanpa rasa bersalah — karena ia tahu, anaknya akan makan siang dengan layak hari ini.
Bukan karena belas kasihan. Tapi karena memang begitulah seharusnya.
Refleksi dari pinggir jalan Semarang, yang baru selesai ditulis sepuluh tahun kemudian



