Refleksi

Menghidupkan Cerita, Membiasakan Mendengar

Ada yang menarik dari generasi muda hari ini. Mereka hidup pada zaman yang begitu kaya informasi, namun miskin percakapan. Melalui layar kecil yang mereka miliki, dapat mengakses informasi di seluruh dunia dalam satu klik, sehingga terkadang ia tak lagi mengenal cerita yang tumbuh di halaman rumahnya sendiri. Dikatakalnlah ia adalah generasi muda sedang kehilangan budaya.

Saya tidak sepenuhnya setuju. Budaya itu tidak hilang. Ia masih ada. Ia hidup di rumah-rumah tua yang masih berdiri. Ia berdenyut dalam lagu daerah yang sesekali masih dinyanyikan. Ia bernafas dalam bahasa ibu yang masih terdengar di dapur, di pasar, atau di beranda rumah saat senja turun perlahan. Yang mulai hilang justru sesuatu yang lebih sederhana, waktu untuk mendengarkan.

Kita hidup dalam zaman yang serba cepat. Semua orang berlomba menjadi yang terdepan. Mahasiswa berlomba mengejar IPK. Organisasi berlomba membuat program. Anak muda berlomba membangun personal branding. Bahkan kebahagiaan pun sering diperlombakan melalui unggahan media sosial. Dalam perlombaan itu, kita sering lupa duduk sebentar. Lupa mendengarkan kisah-kisah yang diwariskan oleh mereka yang lebih dulu berjalan. Lupa bertanya kepada kakek tentang laut yang pernah ia arungi. Lupa mendengar nenek bercerita tentang kampung yang mengedepankan nilai siwaliparri (gotong royong). Lupa memahami mengapa leluhur menciptakan tradisi, kesenian, dan petuah-petuah yang tampak sederhana tetapi sesungguhnya menyimpan kebijaksanaan yang dalam. Padahal sebuah budaya tidak hidup karena bangunan adatnya. Tidak hidup karena pakaian tradisionalnya. Tidak hidup karena festival-festival yang meriah. Budaya hidup karena cerita. Ketika cerita berhenti didengar, budaya perlahan berubah menjadi pajangan. Ia mungkin masih dipamerkan, tetapi tidak lagi dipahami. Ia mungkin masih dipentaskan, tetapi tidak lagi dihayati.

Dalam psikologi, ada sebuah pendekatan yang disebut Narrative Psychology atau psikologi naratif. Pendekatan ini memandang bahwa manusia memahami dirinya melalui cerita. Identitas seseorang tidak hanya dibentuk oleh pengalaman yang ia alami, tetapi juga oleh bagaimana ia menceritakan pengalaman itu kepada dirinya sendiri dan kepada orang lain. Dengan kata lain, manusia adalah makhluk yang hidup melalui narasi. Karena itu, ketika generasi muda kehilangan hubungan dengan cerita-cerita keluarganya, cerita kampung halamannya, atau cerita kebudayaannya, sesungguhnya mereka tidak hanya kehilangan pengetahuan tentang masa lalu. Mereka juga berisiko kehilangan sebagian dari pemahaman tentang siapa dirinya. Cerita-cerita yang diwariskan oleh orang tua, leluhur, dan masyarakat bukan sekadar kenangan. Ia adalah fondasi psikologis yang membantu seseorang menemukan makna, arah hidup, dan rasa memiliki.

Mahasiswa hari ini contohnya, menghadapi tantangan yang berbeda dengan generasi sebelumnya. Mereka dituntut untuk siap menghadapi masa depan yang tidak pasti. Dunia kerja berubah cepat. Teknologi berkembang tanpa jeda. Kompetisi semakin ketat. Tidak ada yang salah dengan bekerja keras mengejar masa depan. Namun ada satu hal yang perlu diingat. Pohon yang tinggi tidak pernah tumbuh tanpa akar yang kuat.

Akar tidak terlihat. Ia berada di dalam tanah. Ia tidak mendapat tepuk tangan. Ia tidak muncul dalam foto-foto keberhasilan. Tetapi justru akar itulah yang membuat pohon tetap berdiri saat badai datang. Demikian pula manusia. Ilmu pengetahuan adalah cabang dan ranting yang membuat kita menjangkau langit. Keterampilan adalah daun-daun yang membuat kita berkembang. Prestasi adalah buah yang bisa dipetik orang lain. Tetapi nilai-nilai budaya, kearifan lokal, dan identitas diri adalah akar yang membuat semuanya tetap kokoh.

Dalam perspektif psikologi, akar itu juga berfungsi sebagai sumber ketahanan diri atau resilience. Seseorang yang memahami asal-usulnya, mengenal nilai yang diwariskan kepadanya dan merasa terhubung dengan komunitasnya cenderung lebih mampu menghadapi tekanan hidup. Ia tidak mudah goyah oleh perubahan karena memiliki pegangan yang jelas tentang siapa dirinya dan apa yang ia yakini.

Ketika seorang mahasiswa mengenal budayanya, ia tidak sedang berjalan mundur. Ia justru sedang memperkuat pijakan untuk melangkah lebih jauh. Ia belajar bahwa kemajuan tidak harus berarti meninggalkan asal-usul. Modernitas tidak harus dibangun dengan melupakan jati diri. Ia bisa menguasai teknologi tanpa kehilangan kesantunan. Ia bisa bergaul dengan dunia tanpa melupakan kampung halaman. Ia bisa menjadi warga global tanpa berhenti menjadi anak dari kebudayaan yang membesarkan dia. Mungkin karena itu, tugas terbesar generasi muda dan mungkin kita yang masih merasa muda, hari ini bukan sekadar menjadi pintar. Bukan pula sekadar menjadi sukses. Tugas yang lebih penting adalah menjaga agar cerita-cerita itu tetap hidup.

Suatu hari nanti, ketika teknologi terus berubah dan zaman bergerak semakin cepat, yang akan membuat manusia tetap manusia bukanlah kecanggihan alat yang dimilikinya, melainkan kebijaksanaan yang diwarisinya. Dan kebijaksanaan selalu lahir dari mereka yang bersedia berhenti sejenak, lalu mendengarkan. Mendengarkan cerita orang tua, mendengarkan pengalaman masyarakat, mendengarkan bunyi-bunyi kebudayaan yang masih hidup di sekitar kita. Sebab di sanalah manusia menemukan dirinya. Dan ketika seseorang menemukan dirinya, ia tidak hanya siap menghadapi masa depan, tetapi juga mampu memahami dari mana ia berasal dan ke mana ia hendak melangkah.

Muhammad Junaedi Mahyuddin

Pria kelahiran dari kampung kecil yang bernama Banua baru. Saat ini aktif mengabdi sebagai pengajar di salah satu perguruan tinggi Muhammadiyah di Sulawesi Selatan

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button