Refleksi

Kopi, Nada, dan Orang-Orang yang Hidupnya Adalah Musik

Catatan refleksi dari sudut Cafe Oke Zona, Mapilli

Saya tidak tahu persis jam berapa cerita asyik itu dimulai. Yang saya tahu, saya terlambat datang. Dan seketika kopi saya datang dengan asap yang mengepul. Obrolan sudah masuk ke wilayah yang biasanya hanya ada di buku-buku tebal dengan sampul membosankan. Tapi malam itu tidak membosankan. Sama sekali tidak.

Kami duduk di Cafe Oke Zona, Mapilli. Sebuah tempat yang namanya saja sudah mengundang rasa ingin tahu, Oke Zona, seolah tempat itu sedang meyakinkan saya bahwa semuanya baik-baik saja di sini, zona aman, zona nyaman, silakan duduk dan jangan buru-buru pulang. Dan memang begitulah adanya.

Di meja itu duduk orang-orang yang saya sebut suhu. Bukan karena mereka tua dan berambut putih, meskipun beberapa memang begitu. Tapi karena cara mereka berbicara tentang musik seperti orang berbicara tentang anaknya sendiri. Penuh cinta, penuh hafal detail, dan kadang penuh khawatir.

Saya datang tanpa bekal. Saya harus jujur dari awal: saya awam soal musik. Maksud saya, saya hanya bisa menikmati musik. Tapi saya tidak bisa membedakan mana ritme mana experimental, tidak tahu apa itu etnik nusantara, dan kalau ditanya tentang tangga nada, jawaban saya paling jauh hanya “do re mi” seperti lagu Budi Doremi.

Keilmuan saya sedikit tentang psikologi. Lebih spesifik, bimbingan dan konseling. Sehari-hari saya bekerja dengan manusia dengan kegelisahan mereka, dengan cerita yang mereka simpan terlalu lama, dengan pertanyaan-pertanyaan yang tidak punya jawaban tunggal. Itu dunia saya. Tapi malam itu saya masuk ke dunia lain. Dan ternyata dunia lain itu tidak seseram yang saya bayangkan.

Salah satu suhu malam itu bercerita, mengabarkan berita “bahwa dalam tradisi Mandar, musik bukan sekadar hiburan”. Musik adalah cara orang Mandar mengingat dirinya sendiri. Saya terdiam sebentar mendengar itu.

Ada sesuatu yang mengguncang di kalimat itu. Bukan karena kalimatnya dramatis, suhu itu mengatakannya sambil menyeruput kopi, biasa saja  tapi karena saya tiba-tiba sadar bahwa selama ini saya memandang musik terlalu sempit. Terlalu sebagai hiburan. Terlalu sebagai latar belakang aktivitas lain. Padahal, kalau dipikir lagi,  dan ini mulai masuk ke wilayah psikologi saya, ada benarnya. Kita mendengarkan lagu tertentu bukan karena lagunya bagus secara teknis, tapi karena lagu itu menyimpan kenangan. Lagu itu adalah portal. Begitu mengalun tiga detik, tiba-tiba kita sudah ada di tempat lain, di waktu lain, bersama orang yang mungkin sudah tidak ada.

Kalau begitu, ketika sebuah musik tradisi punah, yang hilang bukan hanya bunyinya. Yang hilang adalah portal itu. Yang hilang adalah cara sebuah komunitas bepergian ke masa lalunya sendiri.

Alan Merriam pernah menulis bahwa musik punya tiga dimensi: konsep, perilaku, dan bunyi. Ketika saya dengar suhu-suhu itu berbicara, saya akhirnya mengerti apa yang dimaksud. Bunyinya bisa direkam di kaset, di YouTube, di mana saja. Tapi konsepnya, cara masyarakat memahami mengapa musik itu ada dan perilakunya bagaimana musik itu dipraktikkan, diwariskan, dihidupkan, itu yang jauh lebih mudah hilang. Dan kalau itu hilang, kaset pun tidak banyak gunanya. Seperti menyimpan foto orang yang Anda cintai tapi melupakan semua cerita di baliknya.

Ada satu momen yang membuat saya hampir tertawa tapi menahan diri karena tidak ingin terlihat tidak sopan. Seorang suhu berkata: “Orang sering pikir melestarikan tradisi itu seperti menaruh barang antik di lemari kaca. Dipajang, dikunci, dilarang disentuh. Padahal tradisi itu makhluk hidup. Dia harus bernapas.”

Bruno Nettl, ethnomusikoloog yang namanya disebut dalam catatan yang saya baca pada layar laptop punya pendapat serupa. Tradisi musik selalu berubah. Itu bukan kelemahan, itu justru bukti bahwa tradisi itu masih hidup. Yang berbahaya bukan perubahan, yang berbahaya adalah ketika tidak ada lagi orang yang peduli untuk membawa tradisi itu ke zaman berikutnya.

Saya jadi teringat beberapa mahasiswa saya di ruang konseling. Banyak yang datang membawa krisis identitas, tidak tahu lagi siapa mereka, dari mana mereka berasal, mau ke mana mereka pergi. Dan salah satu hal yang sering membantu adalah ketika mereka kembali terhubung dengan akar. Kadang lewat cerita keluarga, kadang lewat ritual-ritual kecil yang sudah lama ditinggalkan. Ternyata akar bukan penjara. Akar adalah tempat kita mengisi ulang tenaga sebelum tumbuh lebih tinggi. Musik tradisi, dalam pengertian ini, adalah salah satu bentuk akar itu.

Saya berguman dalam hati: “Mungkin yang kita bicarakan ini bukan hanya soal musik. Ini soal kesehatan jiwa kolektif sebuah komunitas. Ketika identitas budaya rapuh, yang paling merasakan dampaknya adalah individu-individu di dalamnya. Mereka kehilangan cerita tentang diri mereka sendiri.”

Saya tidak punya kata yang tepat untuk mendeskripsikan perasaan saat itu. Bukan bangga. Mungkin lebih ke hangat. Seperti ternyata dua dunia yang tampak sangat berbeda itu punya pintu yang saling terhubung, dan malam itu kami tidak sengaja menemukannya.

Saya pulang dengan kepala penuh. Bukan penuh pengetahuan teknis tentang musik, itu butuh waktu bertahun-tahun dan saya tidak yakin saya punya bakat ke sana. Tapi penuh dengan pertanyaan yang rasanya lebih berharga dari jawaban mana pun. Siapa yang bertanggung jawab menjaga musik tradisi? Hanya seniman? Hanya akademisi? Atau kita semua, termasuk konselor, psikolog, pendidik, bahkan orang awam seperti saya yang hanya tahu menikmati tanpa tahu cara menciptakan?

Apa yang terjadi pada generasi muda Mandar yang tumbuh lebih akrab dengan lagu viral di media sosial daripada dengan suara kecapi tradisi leluhur mereka?. Dan yang paling mengusik: apakah ada cara untuk mencintai dua dunia sekaligus, masa kini dan masa lalu, tanpa harus merasa berdosa pada salah satunya?.

Saya tidak punya jawabannya malam itu. Mungkin tidak akan pernah punya jawaban yang tuntas. Tapi setidaknya saya sudah bertanya. Dan bertanya, kata para suhu itu, adalah langkah pertama yang paling penting dalam musik, dalam ilmu, dan mungkin juga dalam hidup, disebutlah Pemahaman.

Terima kasih, Cafe Oke Zona. Terima kasih, Mapilli. Terima kasih, para suhu yang mau berbagi meja dan pikiran dengan seorang bocah yang masih pusing stem guitar plastik punya anak saya, yang tidak tahu apa-apa tentang musik tapi tahu betul bahwa malam itu adalah salah satu malam terbaik yang pernah saya lalui.

Muhammad Junaedi Mahyuddin

Pria kelahiran dari kampung kecil yang bernama Banua baru. Saat ini aktif mengabdi sebagai pengajar di salah satu perguruan tinggi Muhammadiyah di Sulawesi Selatan

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button