Refleksi

Jalangkote dan Problematikanya 2

Isi yang Berbeda, Tapi Satu Tujuan

Isi yang Berbeda, Tapi Satu Tujuan

Yang menarik dari jalangkote adalah isinya tidak seragam. Di satu warung ada yang pakai banyak telur. Di warung lain, wortelnya melimpah. Di warung yang satunya bihunnya yang melimpah. Ada yang pedas karena sambalnya tidak tanggung-tanggung, ada yang manis karena penjualnya cantik entahlah, mungkin pembuatnya sedang jatuh cinta.

Ini mengingatkan kita pada konsep psikologi humanistik milik Abraham Maslow tentang individual differences, bahwa setiap manusia itu unik, punya kebutuhan dan cara ekspresi yang berbeda-beda. Tapi semua jalangkote, mau isinya apa pun, tetap punya tujuan yang sama mengisi perut yang kosong, menghangatkan leher yang lapar, menemani yang kesepian di meja makan.

Ramadhan mengajarkan hal yang sama. Kita datang dari latar belakang berbeda, ada yang kaya, ada yang cukup-cukupan, ada yang harus hitung uang receh dulu baru bisa beli jalangkote tiga biji. Tapi di bulan ini, kita semua sama-sama lapar. Lapar adalah bahasa paling jujur yang pernah diciptakan Tuhan untuk menyatukan manusia.

“Jangan lupa berbuka dengan jalangkote”

Muhammad Junaedi Mahyuddin

Pria kelahiran dari kampung kecil yang bernama Banua baru. Saat ini aktif mengabdi sebagai pengajar di salah satu perguruan tinggi Muhammadiyah di Sulawesi Selatan

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Check Also
Close
Back to top button