Refleksi

Belajar Menjadi Sumur

Beberapa pekan terakhir ini saya tertegung menyaksikan mobil silih berganti masuk di halaman Masjid Taqwa Enrekang. Mobil tersebut mengangkut tong yang berisi air.  Air yang mereka sedot dari sumur yang ada di halaman Masjid Taqwa Muhammadiyah Enrekang. Disela kegiatan, saya coba menghitung. Berton-ton air sudah diangkat dari perutnya. Berpuluh mobil datang dengan tong silih berganti, kosong waktu datang, penuh waktu pulang. Orang-orang mengambil dan mengambil.

Bentuknya biasa saja. Tidak ada prasasti atau tugu, tidak ada yang mengundang wartawan. Cuman lubang di tanah, dinding melingkar dan air yang terus didalammnya, seperti orang tua yang sudah terlalu sering ditanya dan memilih tidak banyak menjawab. Sumur itu tidak mengeluh, tidak minta cuti, tidak pasang tarif. Ia tidak surut. Saya membayangkan jika itu manusia dan diperlakukan begitu, besok pagi sudah mengajukan pengunduran diri.

Manusia memang aneh. Disuruh berbagi, yang pertama kita hitung adalah sisa. “Nanti kalau saya kasih, saya sendiri kebagian apa?” Pertanyaan itu terdengar masuk akal. Namun, saya malu ketika saya melihat sumur ini. Ia habis diambil, lalu terisi lagi. Diambil lagi, terisi lagi. Seakan-akan bumi sedang berkata pelan, “Tenang saja, Nak, urusan isi-mengisi itu bagianku. Bagianmu cuma mengambil, lalu membagi.”

Orang pintar bilang itu soal muka air tanah dan keseimbangan tekanan. Betul. Saya tidak membantah, dan saya malah senang ada penjelasannya. Tetapi tahu cara kerja sesuatu tidak sama dengan tahu maknanya. Kita tahu cara kerja jantung, tapi tidak pernah merasa perlu berterima kasih padanya. Tahu itu urusan kepala. Syukur itu urusan dada. Sayangnya, kita sering rajin mengisi kepala dan lupa mengisi dada.

Sekarang air itu tidak berhenti di halaman masjid. Lewat program pembagian air bersih gratis untuk warga perkotaan Enrekang, air itu berjalan jauh dari tempat lahirnya. Lazismu Enrekang, MDMC Enrekang dan Kampus Muhammadiyah Enrekang berjalan bersama di belakangnya. Ada yang menarik selang, ada yang memencet saklar, ada yang mengangkut, ada yang mencatat, ada yang mengantar. Tidak ada satu pun yang bisa mengaku, “Ini air saya.” Dan itu justru bagus. Kebaikan yang terlalu sering diberi nama pemilik biasanya cepat basi.

Orang kota sering dikira tidak kekurangan apa-apa. Padahal yang dekat dengan keran belum tentu dekat dengan air. Ada rumah yang kerannya ada tetapi alirannya cuma lewat sebentar, seperti tamu yang pamit sebelum duduk. Bagi rumah seperti itu, satu tong air bersih bukan barang remeh. Itu pagi yang lebih tenang, dapur yang jalan, anak yang berangkat sekolah dalam keadaan bersih.

Yang menarik, sumurnya ada di halaman masjid. Mungkin itu bukan kebetulan, atau kalaupun kebetulan, ia kebetulan yang pintar. Masjid memang seharusnya begitu: bukan hanya tempat orang menaruh dahi di lantai, tetapi tempat orang mengambil sesuatu lalu pulang dengan tangan penuh. Sujud di dalam, tong terisi di luar. Orang yang rajin salat tetapi tetangganya kehausan sedang mengerjakan separuh agama, dan separuh itu bukan yang tertulis di jadwal.

Sumur ini tidak pernah berceramah. Ia cuma mengerjakan. Dan barangkali itulah khotbah yang paling jujur: diam, dalam, dan tetap memberi.

Jadi kalau suatu hari kita bertanya, “Kenapa makin banyak diberi kok makin tidak habis?”, jangan buru-buru mencari rumusnya. Coba lakukan dulu. Siapa tahu jawabannya baru terasa setelah tangan kita sendiri basah.

Semoga sumur di halaman Masjid Taqwa itu tidak pernah capek. Semoga yang menimba, mengangkut, dan mengantar juga tidak. Dan semoga kita semua belajar darinya satu hal sederhana: yang dibagi tidak hilang, ia hanya pindah tempat, lalu pulang dalam bentuk yang lain.

Muhammad Junaedi Mahyuddin

Pria kelahiran dari kampung kecil yang bernama Banua baru. Saat ini aktif mengabdi sebagai pengajar di salah satu perguruan tinggi Muhammadiyah di Sulawesi Selatan

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button