Refleksi

Inggris Bukan Tempat Penitipan Dendam

Beberapa hari ini linimasa saya penuh oleh orang-orang yang tiba-tiba jadi suporter Inggris. Bukan karena mencintai teh sore atau hujan gerimis London, tapi karena Argentina harus dikalahkan. Alasannya sederhana, Argentina dianggap anak emas FIFA, disayang wasit, dimanja keputusan dan kalau boleh dikatakan dengan bahasa warung kopi “agak kurang ajar cara mainnya”. Maka jadilah Inggris yang biasanya cuma didukung separuh hati, mendadak punya suporter dadakan sebanyak penduduk satu kelurahan.

Saya tersenyum melihat ini. Bukan karena lucu tapi karena saya kenal betul tabiat semacam ini. Ini bukan cinta bola. Ini titip dendam.

Begini logikanya: negara yang saya bela kalah, hati saya panas dan panas itu harus dibuang ke suatu tempat. Tidak mungkin dibuang ke tukang parkir atau ke pasangan di rumah. Maka dicarilah kambing hitam yang paling dekat dengan musuh dari tim yang mengalahkan kita. Inggris pun kebagian jatah jadi tempat sampah emosi. Ia menang bukan karena dicintai tapi karena kebetulan berdiri di jalur pelampiasan.

Saya kira ini yang perlu direnungkan pelan-pelan. Sepak bola itu ibarat cermin retak, ia memantulkan wajah kita tapi dengan bentuk yang agak menyeramkan. Kita kira sedang menonton pertandingan, padahal sedang menonton diri sendiri tentang bagaimana kita memperlakukan kekalahan, bagaimana kita menaruh amarah dan ke mana amarah itu kita alirkan ketika tidak berani menanggungnya sendiri.

Menitip dendam itu gampang. Menerima kekalahan itu yang susah karena menerima kekalahan berarti mengaku bahwa jagoan kita bukan yang terbaik hari itu, bahwa usaha belum tentu berbuah, bahwa dunia tidak selalu berpihak pada tim yang kita sayangi. Itu pahit Bro!.Maka daripada menelan pahit itu sendirian. Kita kemudian mencari cara supaya rasa pahit itu pindah tangan lalu dibungkus jadi dukungan buta pada siapa saja yang kebetulan berhadapan dengan “musuh” kita.

Padahal ini cuma bola. Dua puluh dua orang mengejar benda bundar selama sembilan puluh menit, lalu wasit meniup peluit, lalu semua pulang. Tapi justru di sinilah letak bahayanya. Kita sering menenangkan diri dengan kalimat “ah, cuma bola kok”, seolah kalimat itu bisa menghapus kebiasaan buruk yang sedang kita rawat diam-diam. Padahal tidak ada yang “cuma” dalam kebiasaan. Bisa jadi yang kita anggap remeh hari ini, kalau diulang terus-menerus, pelan-pelan menjelma jadi pola. Dan pola yang diulang bertahun-tahun itu dalam bahasa ilmu jiwa, disebut karakter.

Jadi kalau hari ini kita gampang menitip dendam ke tim lain karena jagoan kita kalah, besok kita akan gampang juga menitip kesalahan ke orang lain karena rencana kita gagal. Kalau hari ini kita menyepelekan cara kita marah di depan layar kaca, besok kita akan menyepelekan cara kita marah di depan orang-orang yang sungguh-sungguh dekat dengan kita. Sepak bola cuma latihan kecil. Tapi latihan kecil yang dibiarkan, lama-lama jadi otot yang kita pakai di kehidupan yang sebenarnya.

Maka izinkan saya usul yang sederhana saja. Dukunglah siapa pun dengan riang. Kecewalah sewajarnya kalau jagoan kita tersingkir. Tapi berhentilah di situ. Jangan diteruskan jadi dendam yang dititipkan ke tim lain, apalagi jadi kebencian yang dipanjangkan sampai berhari-hari. Karena yang sedang dipertaruhkan bukan cuma trofi di Amerika sana. Tapi juga kebiasaan hati kita sendiri di rumah, kantor dan di tengah orang-orang yang setiap hari harus menanggung akibat dari cara kita mengelola kekecewaan.

Piala Dunia akan usai dalam hitungan minggu. Tapi karakter yang kita bentuk dari cara kita menyikapinya, itu yang akan terus kita bawa, jauh setelah pialanya diangkat dan dilupakan orang.

Muhammad Junaedi Mahyuddin

Pria kelahiran dari kampung kecil yang bernama Banua baru. Saat ini aktif mengabdi sebagai pengajar di salah satu perguruan tinggi Muhammadiyah di Sulawesi Selatan

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Check Also
Close
Back to top button