Refleksi

Menjaga Streak Api dan FOMO

Di layar ponsel, ada api kecil yang tampak sederhana. Warnanya merah-oranye, menyala di samping nama teman, disertai angka yang terus bertambah: 10 hari, 50 hari, 100 hari, bahkan lebih. Bagi sebagian orang dewasa, itu mungkin hanya fitur permainan dalam TikTok. Namun, bagi banyak remaja, streak api bukan sekadar tanda bahwa dua akun saling berkirim pesan setiap hari. Ia dapat menjadi semacam bukti: bahwa mereka masih diingat, masih memiliki teman, masih dianggap penting, dan masih punya tempat di tengah keramaian digital.

Yang mengkhawatirkan bukanlah api kecil itu sendiri, melainkan rasa takut yang menyertainya. Ketika streak hampir padam, sebagian remaja merasa gelisah. Mereka segera membuka aplikasi, mengirim pesan seadanya, bahkan ketika sebenarnya tidak ada hal yang ingin dibicarakan. Pesan itu kadang hanya berupa emoji, foto gelap, atau kata singkat tanpa makna. ang penting bukan isi percakapannya, melainkan agar angka tetap hidup. Dalam keadaan seperti ini, hubungan tidak lagi selalu dibangun dari kedekatan, melainkan dari kewajiban untuk mempertahankan tanda.

Fenomena tersebut dapat dibaca sebagai salah satu gejala kegelisahan identitas remaja masa kini. Masa remaja memang selalu menjadi fase pencarian diri. Seseorang mulai bertanya dalam diam: “Siapa aku?”, “Apakah aku cukup berharga?”, “Apakah orang lain menyukaiku?”, dan “Di mana tempatku?” Pertanyaan-pertanyaan itu dahulu mungkin dijawab melalui keluarga, pertemanan langsung, sekolah, kegiatan sosial, atau pengalaman hidup. Kini, jawaban-jawaban itu sering dicari melalui layar: jumlah pengikut, tanda suka, balasan pesan, unggahan yang ramai, dan streak api yang terus menyala.

Masalahnya, dunia digital bergerak sangat cepat. Apa yang ramai hari ini bisa hilang besok. Apa yang dianggap menarik minggu ini bisa menjadi biasa saja minggu depan. Remaja kemudian hidup dalam arus yang menuntut mereka terus mengikuti sesuatu agar tidak merasa tertinggal. Inilah yang sering disebut fear of missing out atau FOMO: kecemasan bahwa orang lain sedang mengalami sesuatu yang lebih menyenangkan, lebih penting, atau lebih bermakna daripada dirinya.

FOMO membuat seseorang mudah membandingkan hidupnya dengan kehidupan orang lain yang telah dipilih dan dihias untuk tampil di media sosial. Mereka melihat teman-teman yang tampak selalu bahagia, memiliki banyak relasi, mengikuti tren, pergi ke tempat menarik, dan mendapat perhatian. Padahal, layar hanya memperlihatkan bagian kecil dari kehidupan manusia. Di balik unggahan yang penuh senyum, bisa saja ada kesepian. Di balik streak yang panjang, bisa saja tidak ada percakapan yang sungguh-sungguh hangat.

Ketakutan kehilangan streak api memperlihatkan bahwa sebagian remaja mulai menggantungkan rasa berharga pada sesuatu yang sangat rapuh. Sebuah hubungan terasa aman bukan karena ada saling memahami, tetapi karena ada simbol yang belum hilang. Padahal, kedekatan tidak selalu harus dibuktikan dengan komunikasi setiap hari. Sahabat sejati tidak selalu hadir melalui notifikasi. Kadang, ia tetap ada meskipun percakapan berhenti beberapa waktu. Ia tidak lenyap hanya karena angka kembali menjadi nol.

Di sinilah remaja perlu perlahan belajar kembali untuk pulang kepada dirinya sendiri. Bukan berarti harus menjauhi teknologi atau menganggap media sosial sebagai musuh. Teknologi dapat menjadi ruang bertemu, belajar, dan berbagi. Namun, manusia perlu menyadari bahwa dirinya lebih luas daripada akun yang dimilikinya. Nilai seseorang tidak bertambah karena streak-nya panjang, dan tidak berkurang karena streak-nya padam.

Ada ruang di dalam diri yang tidak bisa diisi oleh notifikasi. Ruang itu hanya dapat dipenuhi melalui keheningan, penerimaan, hubungan yang jujur, dan keberanian untuk mengenal diri sendiri tanpa terlalu banyak bergantung pada penilaian orang lain. Remaja perlu diberi kesempatan untuk memahami bahwa tidak semua yang hilang harus dikejar, dan tidak semua yang menyala harus dipertahankan.

Mungkin api kecil di TikTok dapat tetap menjadi permainan yang menyenangkan. Namun, jangan sampai api itu berubah menjadi pusat kehidupan. Sebab, api yang paling penting bukanlah yang menyala di layar, melainkan kesadaran di dalam diri: bahwa seseorang tetap berharga, bahkan ketika tidak ada yang mengirim pesan hari ini.

Muhammad Junaedi Mahyuddin

Pria kelahiran dari kampung kecil yang bernama Banua baru. Saat ini aktif mengabdi sebagai pengajar di salah satu perguruan tinggi Muhammadiyah di Sulawesi Selatan

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button