
Sore itu, di pinggir Sungai Tinambung, dua orang penikmat musik dekker, duduk sambil memandangi air yang mengalir pelan. Sebenarnya tidak ada pembicaraan yang penting. Hanya obrolan dua manusia yang menuju dewasa mulai gelisah melihat keadaan sekitar. Mulai gelisah dengan munculnya nene di Sungai.
“Menurutmu, Apa yang membuat musik tradisional luput dari pantauan anak muda dan apakah musik tradisional masih perlu dimainkan sekarang?” tanya salah satunya.
Dijawabnya sambil tersenyum kecil.
“Entahlah. Mungkin karena ada sesuatu yang tidak bisa digantikan oleh playlist Spotify.”
Mereka tertawa.
Dulu orang Mandar tumbuh bersama bunyi-bunyian yang akrab. Bunyi ombak yang memukul perahu. Bunyi angin yang datang dari laut. Bunyi rebana saat perayaan. Bunyi calong yang dimainkan pelan di malam hari. Adalah bunyi menjadi syair yang tidak hanya enak didengar, tetapi juga menyimpan nasihat hidup. Menjadikan Bunyi-bunyi itu bukan sekadar hiburan. Bunyi Ia adalah cara memahami dunia. Bunyi adalah cerita.
Memang aneh. Hari ini kita bisa mendengarkan lagu dari Korea, Amerika, Afrika, Arabian atau belahan dunia mana pun hanya lewat telepon genggam. Jenis lagu bossas, rock, punk, pop dsb hanya dengan satu kali klikc. Setiap hari muncul genre baru, trend baru, suara baru. Tapi kadang-kadang justru di tengah begitu banyak suara, kita kehilangan bunyi yang paling dekat dengan diri kita sendiri.Mungkin yang sedang hilang hari ini bukan budayanya. Budaya itu masih ada. Alat musiknya masih ada. Lagu-lagunya masih ada. Orang-orang yang bisa memainkannya juga masih ada. Yang mulai jarang ada adalah waktu untuk duduk dan mendengarkan. Anak-anak muda hari ini sibuk. Design dunia memang mengharuskan sibuk. Mereka mengejar kuliah, pekerjaan, peluang, mimpi, dan masa depan. Tidak ada yang salah dengan itu.
Kadang kami bertanya-tanya?, “Apakah mereka masih sempat mendengar cerita yang tersimpan di balik bunyi-bunyi itu?”. Atau jangan-jangan semuanya perlahan berubah menjadi pajangan?. Sebab musik tradisional bukan cuma benda yang disimpan. Musik tradisional adalah makna yang dipahami. Gendang bukan hanya alat yang dipukul. Kecapi bukan hanya senar yang dipetik. Syair bukan hanya kata-kata yang dinyanyikan. Di dalamnya ada pengalaman hidup. Ada cara pandang. Ada kebijaksanaan yang diwariskan dari orang-orang yang pernah hidup jauh sebelum kita.
Mungkin perlu bunyi-bunyian yang ada pada musik tradisional itu kembali digaungkan bahkan dihadirkan . Bukan karena kita ingin kembali hidup seperti masa lalu. Bukan juga karena kita menolak perkembangan zaman. Justru sebaliknya. Kita ingin mendengar bunyi-bunyian yang lama itu berbicara tentang kehidupan hari ini karena ternyata zaman tidak selalu dibaca lewat angka, grafik, atau berita yang berseliweran di media sosial, kadang zaman bisa dibaca lewat bunyi. Lewat tabuhan yang mengingatkan kita tentang kebersamaan ketika orang-orang mulai sibuk dengan dunianya masing-masing. Lewat syair yang mengingatkan tentang kesederhanaan ketika semua orang berlomba menunjukkan kemewahan. Lewat musik yang mengingatkan bahwa manusia membutuhkan akar, bukan hanya sayap.
Di pinggir Sungai Tinambung itu, obrolan kami terus berlanjut.
Kami melihat anak-anak muda yang lalu-lalang. Sebagian sibuk dengan telepon genggamnya. Sebagian sedang bercanda bersama teman-temannya. Sebagian mungkin sedang memikirkan masa depan yang belum jelas arahnya. Kami sadar betul bahwa mereka bukan generasi yang kehilangan harapan. Mereka hanya hidup di zaman yang sangat bising karenanya itu menjadi penting untuk membangun ruang untuk mendengar kembali. Mendengar bunyi yang datang dari kampungnya sendiri. Mendengar cerita yang pernah membentuk identitas masyarakat Mandar. Mendengar suara-suara yang selama ini tenggelam oleh kebisingan dunia digital karena kebudayaan yang sehat bukan kebudayaan yang hanya dipamerkan saat festival atau disimpan di museum. Kebudayaan yang sehat adalah kebudayaan yang terus diajak bicara. Yang terus diberi ruang untuk hidup. Yang terus menemukan cara baru untuk menyapa generasi baru.
Musik tradisional tidak perlu melawan modernitas. Tidak perlu bersaing dengan musik-musik populer. Ia cukup hadir sebagai pengingat. Pengingat bahwa kita punya cerita. Pengingat bahwa kita punya akar. Pengingat bahwa sebelum menjadi bagian dari dunia yang luas, kita pernah menjadi bagian dari sebuah kampung yang mengajarkan banyak hal tentang kehidupan.
Kami berharap pada musik tradisional, untuk hadir menambal lubang dalam jiwa. Mengajak pendengar untuk bertamasya dalam sanubari, berhenti sejenak dari kebisingan. Membuka ruang agar bunyi-bunyi lama bisa kembali didengar yang mungkin, di tengah derasnya perubahan zaman, itulah yang paling kita butuhkan. Bukan sekadar suara yang lebih keras. Tetapi suara yang membuat kita ingat siapa diri kita sebenarnya.


