Tanjung Verde mengajarkan arti semangat

Laga itu akhirnya usai di Miami. Argentina menang 3-2, lewat babak tambahan waktu, lewat gol bunuh diri yang menyakitkan di menit 111. Anehnya, tersisa di kepala saya bukan kekalahan itu, yang tersisa justru kekaguman. Sebab dua kali Tanjung Verde tertinggal dan dua kali pula mereka bangkit menyamakan kedudukan. Messi membuka gol di menit 29 dengan sepakan kelasnya. Tanjung Verde membalas di menit 59. Argentina unggul lagi di awal extra time. Tanjung Verde menyamakan lagi di menit 103. Baru kemudian, empat menit sebelum extra time usai, bola sundulan yang mengenai kaki pemain belakang Tanjung Verde sendirilah yang akhirnya menentukan segalanya. Bukan karena mereka kalah kelas. Mereka kalah karena keberuntungan sedang berpihak lain, di penghujung waktu yang begitu panjang.
Bayangkan, sang juara bertahan dunia, tim peringkat satu FIFA, harus berjibaku 120 menit penuh untuk mengalahkan tim peringkat 67 dunia yang baru pertama kali menginjak kaki di Piala Dunia. Bahkan pelatih Argentina sendiri sampai menegaskan bahwa kelolosan Tanjung Verde ke sana bukanlah kebetulan.
Di sinilah cerita ini menjadi lengkap. Pada artikel saya yang lalu, saya menulis, skill memang penting tetapi semangatlah yang menyalakannya. Sekarang, saya melihat buktinya secara telanjang di lapangan hijau. Kesebelasan yang berisi pemain-pemain bergaji miliaran yang dipimpin manusia paling banyak mencetak gol sepanjang sejarah Piala Dunia ternyata harus dua kali dikejar oleh tim yang para pemainnya mungkin tidak dikenal satu pun penonton sebelum turnamen dimulai.
Menariknya, kekalahan itu sendiri tidak membuat Tanjung Verde kehilangan wibawa. Justru sebaliknya. Pelatih mereka pulang dengan kepala tegak, memuji martabat timnya sendiri meski kalah dramatis. Ini bukan kekalahan yang menunduk. Ini kekalahan yang berdiri gagah karena mereka sudah memberikan segalanya dan dunia menyaksikan itu.
Saya kemudia berpikir, barangkali ada dua jenis kekalahan di dunia ini. Kekalahan pertama karena berhenti berjuang sebelum peluit dibunyikan dan kedua karena keberuntungan yang datang terlambat setelah perjuangan habis-habisan. Tanjung Verde mengalami yang kedua dan justru kekalahan jenis kedua inilah yang sering melahirkan rasa hormat lebih besar ketimbang kemenangan itu sendiri.
Saya yang menonton dari layar kaca, mungkin tidak akan ingat detail skor pertandingan ini bertahun-tahun ke depan. Tapi kita akan ingat bagaimana tim kecil dari kepulauan yang berpenduduk setengah juta jiwa itu membuat sang juara bertahan kelimpungan dua kali mengejar ketertinggalan melawan tim penuh bintang dan baru takluk lewat kejadian yang nyaris tidak disengaja siapa pun.
Itulah yang saya maksud dengan semangat yang membukakan mata. Bukan hanya soal bagaimana mereka bisa sampai ke Piala Dunia. Tapi juga soal bagaimana mereka berdiri di sana, tanpa gentar menghadapi nama sebesar Messi, Martinez dkk tanpa kehilangan keberanian meski sudah dua kali tertinggal.
Barangkali, inilah pelajaran paling jujur dari sepak bola. Kemenangan besar tidak selalu diukur dari angka di papan skor. Terkadang, kemenangan sejati justru terjadi jauh sebelum peluit akhir dibunyikan yaitu ketika seseorang atau sebuah tim kecil dari pulau yang jarang disebut, memutuskan untuk tidak menyerah pada nama besar yang berdiri di hadapannya.
Pertanyaan untuk kita semua tetap sama seperti sebelumnya hanya sekarang dengan bukti yang lebih nyata: sudahkah kita, dengan segala kemampuan dan pengalaman yang kita miliki hari ini, masih menyisakan keberanian sebesar itu untuk terus mengejar, bahkan ketika sudah tertinggal dua kali?

