Butterfly on a River: Sa’diang, Sungai dan Diri Kita
Catatan dari bedah film “Butterfly On A River” pada kegiatan Pasar Malam Rakyat di Pasar Talolo Tinambung

Wahai para pemilik gelar yang berderet seperti gerbong kereta, dan kita semua yang merasa lebih pintar hanya karena sudah berlangganan air mineral galon tanpa perlu mencium bau lumpur. Mari sejenak kita letakkan kacamata teoritis yang tebalnya melebihi nurani itu, untuk menatap layar yang ’lucu”malah jadi cermin.
Catatan ini adalah upaya untuk memahami sesuatu dalam Film Dokumenter “Butterfly On A River”. Bukan sebagai analisis akademis yang formal, melainkan sebagai percakapan yang hangat sehangat hubungan Sa’diang dalam film ini. Saya meminjam kacamata Viktor Frankl sebagai dasar pijakan “dari penjara paling gelap dalam sejarah manusia justru menemukan cahaya paling terang tentang makna hidup”.
Bag ke satu, Pembuka: Layar yang Menjadi Cermin (Tempat kita menumpang malu)
Di Pasar Malam Rakyat itu, Butterfly On A River diputar. Sebuah judul yang mentereng, tapi isinya adalah tentang Sa’diang. Perempuan yang dunianya hanya seluas Sungai Mandar dan langit yang seringkali cemberut. Ia bukan “pahlawan” versi buku sejarah yang berkuda sambil bawa pedang. Ia cuma perempuan yang merasa nyaman diayun arus sungai, sementara kita yang hidup di daratan yang stabil justru merasa oleng diterpa berita trending tiap pagi.
Sa’diang ini bahagia. Nah, di situ masalahnya. Kita yang mengoleksi buku-buku “Self–Help” tentang cara bahagia, justru sering tidak mengerti kenapa Sa’diang bisa tersenyum di bawah bulan yang malu-malu. Kita sibuk mendefinisikan bahagia, Sa’diang sibuk menjalaninya. Kita sibuk dengan teorinya, dia sibuk dengan rasanya. Memang, ilmu pengetahuan seringkali hanya bisa menjelaskan struktur air, tapi tak pernah bisa menjelaskan segarnya rasa haus yang terobati.
Bagian ke dua: Gulang di Tangan Sa’diang Keterbatasan yang Menjadi Identitas
Gambar ke dua yang paling membekas dari film ini adalah wajah Sa’diang berenang dengan damai sambil menarik tali (Gulang) yang telah membentuk barisan yang indah, bersama temannya. Jaregen itu adalah rajutan dan rajutan pada dasarnya adalah seni menyambung hidup dari hal-hal yang terpisah menjadi sesuatu yang berguna menjadi sesuatu yang menahan apa yang seharusnya ditahan dan meneruskan apa yang seharusnya mengalir.
Sa’diang menyatukan dalam satu ikatan. Setiap hari ia lakukan itu. Pertanyaannya bukan soal apakah garejen Sa’diang sempurna secara teknis dalam rumus fisika guna melawan arus sungai Mandar. Pertanyaannya adalah: untuk siapa ia membawa jarigen tersebut?. Di sinilah film dokumenter ini berbicara dengan cara yang tidak langsung namun sangat dalam. Sa’diang dan barisan garejennya bukan untuk dirinya sendiri. Bukan untuk mendapat pujian. Bukan untuk dijual dengan harga tinggi. Ia mengikatnya karena ada hajat hidup yang bergantung pada sungai itu, ada orang-orang di hilir yang membutuhkan air bersih, ada keponakan yang bermain di tepiannya, ada kopi yang harus ia seduh setiap pagi dan ada kehidupan yang terus berjalan sejauh sungai itu terus mengalir.
Kita yang hidup di kota besar membeli air minum dalam kemasan plastik yang tidak pernah benar-benar memikirkan dari mana air di kran itu berasal sebelum sampai di wastafel kita. kita adalah orang-orang yang berada di hilir dari pekerjaan Sa’diang yang kita hampir tidak pernah menyadarinya. Ada banyak Sa’diang di sekitar kita. Perempuan-perempuan yang setiap pagi pergi ke pasar, yang membelanjakan rejeki kecil mereka untuk kebutuhan sehari-hari, yang dengan tindakan ekonomi paling sederhana itu sebenarnya menghidupkan pasar, menghidupkan pedagang, menghidupkan rantai distribusi, menghidupkan seluruh ekosistem sosial yang tanpanya kota ini tidak akan bisa berdetak. Pasar yang kita jadikan membedah film ini ada karena ada Sa’diang-Sa’diang yang setiap hari muncul dengan keranjang belanja dan uang yang tidak berlebih, namun dengan niat yang sangat jelas: memberi makan keluarga sehingga nafas pasar terjaga. Kita belajar dari Sa’diang bukan karena ia luar biasa dalam pengertian yang biasa kita maksud. Kita belajar darinya justru karena ia sangat biasa dan dalam kebiaasaannya yang tidak bisa lebih biasa dari itu, ia menunjukkan kepada kita apa artinya hidup dengan integritas yang tidak memerlukan panggung.
Bagian Ketiga: Meja Makan yang Kosong dan Layang-Layang di Langit
Ada dua gambar dalam film ini yang saling bertentangan secara visual namun saling melengkapi secara maknawi: meja makan dan layang-layang.
Adegan makan bersama yang dalam film ini terasa seperti sesuatu yang langka, sesuatu yang harus diperjuangkan, bukan sesuatu yang terjadi begitu saja setiap hari. Di zaman ini, makan bersama sudah mulai kita tinggalkan. Bukan karena kita tidak punya makanan. Kita justru punya terlalu banyak pilihan makanan. Bukan karena kita tidak punya waktu dalam pengertian angka jam di jam tangan. Kita justru bisa memesan makanan antar dalam tiga puluh menit. Namun kita tidak lagi makan bersama, karena makan bersama membutuhkan sesuatu yang lebih susah dari sekadar kelaparan: ia membutuhkan (kehadiran).
Makan bersama yang sesungguhnya bukan tentang duduk di meja yang sama. Ia tentang hadir di meja yang sama, hadir dengan pikiran, hadir dengan perhatian, hadir dengan kesediaan untuk melihat dan dilihat oleh orang-orang yang duduk bersama kita. Itu yang Sa’diang miliki dalam keterbatasannya dan itu yang kita hilangkan dalam kelimpahan kita.
Saat kita makan bersama, kita sedang melakukan salah satu ritual paling kuno dan paling manusiawi yang ada ritual pengakuan. Kita mengakui bahwa kita membutuhkan makanan, bahwa kita membutuhkan orang lain, bahwa kita ada bersama-sama dan bukan sendiri-sendiri. Ketika kita kehilangan ritual itu, kita kehilangan lebih dari sekadar momen makan. Kita kehilangan salah satu cara paling sederhana untuk mengingatkan diri sendiri bahwa kita adalah makhluk sosial yang tidak lengkap tanpa kehadiran yang lain.
Sa’diang makan dengan orang-orang di sekitarnya bukan karena ia punya meja makan yang mewah atau makanan yang istimewa. Ia makan bersama karena itu adalah cara hidupnya. Cara hidup yang tidak memisahkan antara bertahan hidup dan menjalani hidup bersama orang lain.
Gambar kedua adalah layang-layang. Dalam salah satu adegan yang paling puitis dalam film ini, Sa’diang menaikkan layang-layang. Ia berdiri di tepi sungai, tangan menggenggam benang, wajahnya mendongak ke langit dan untuk beberapa detik, seluruh keterbatasannya seolah terangkat bersama layang-layang itu.
Layang-layang adalah metafor yang sangat kaya. Ia terbang karena ada angin, namun ia tidak hanyut karena ada benang yang memegangnya. Ia bebas dalam batas, ia bebas karena batas. Tanpa benang, ia bukan layang-layang yang terbang, ia hanya selembar kertas yang jatuh.
Namun ada yang lebih dalam dari itu. Sa’diang menaikkan layang-layang bukan untuk dirinya sendiri. Dalam seluruh gerak-geriknya di adegan itu, ada sebuah kerinduan yang tidak diucapkan namun sangat terasa. Kerinduan untuk mengangkat, untuk membawa orang-orang yang ia cintai terbang menuju mimpi dan cita-cita yang mungkin tidak bisa ia raih sendiri. Sa’diang bekerja keras setiap hari bukan semata-mata untuk bertahan hidup, ia bekerja keras untuk kembali pulang. Pulang dalam rangka membahagiakan mereka yang menunggu. Dan layang-layang yang ia naikkan adalah cara ia menyampaikan impian itu kepada langit bahwa meski tubuhnya terikat pada bumi oleh keterbatasan, mimpinya untuk keluarganya boleh terbang setinggi angin bisa membawa.
Ini adalah bentuk cinta yang paling bersih yang bisa ada cinta yang tidak mengumumkan dirinya sendiri, cinta yang bekerja sebelum semua orang bangun dan belum selesai setelah semua orang tidur, cinta yang diukur bukan dalam kata-kata indah melainkan dalam tindakan yang konsisten dan tanpa syarat.
Bagian Ke Empat: Nafas yang Terpongoh dan Kehadiran yang Memilih
Ada adegan dalam film ini yang mungkin tidak berdurasi panjang, namun bagi saya ia adalah adegan yang paling mengandung filosofi: Sa’diang berjalan melawan arus sungai Mandar sambil menarik pasukan jarigen yang berat, nafasnya terpongoh, langkahnya melambat, namun ia tidak berhenti. Nafasnya terpongoh. Tapi ia tetap hadir. Ia tetap melangkah. Ia tetap memberi arti pada setiap derap kakinya yang berat.
Viktor Frankl, dalam karyanya yang lahir dari pengalaman bertahan hidup di kamp konsentrasi Nazi, menulis tentang sesuatu yang ia sebut sebagai kebebasan terakhir manusia, kebebasan yang tidak bisa dirampas bahkan oleh sistem paling kejam sekalipun. Kebebasan itu adalah kemampuan untuk memilih sikap di dalam situasi yang tidak bisa kita ubah. Bukan kebebasan untuk mengubah nasib secara tiba-tiba. Bukan kebebasan dari penderitaan. Melainkan kebebasan untuk menentukan bagaimana kita berdiri di hadapan penderitaan itu.
Sa’diang tidak memilih untuk dilahirkan dalam kondisi terbatas. Ia tidak memilih letak geografisnya, tidak memilih untuk berhenti beratnya jarigen yang harus ia bawa, tidak memilih arus. Namun setiap hari, dalam setiap langkah yang terpongoh itu, ia memilih untuk tetap maju. Dan pilihan itu yang kelihatannya kecil, yang tidak ada kamera yang merekamnya dalam kehidupan nyata adalah pilihan yang jauh lebih besar dari kebanyakan pilihan yang kita buat di dalam kehidupan kita yang penuh fasilitas.
Kita yang hari ini memiliki pilihan tanpa batas justru sering terjebak dalam apa yang ahli psikologi Barry Schwartz sebut sebagai “Paradox of choice”, semakin banyak pilihan, semakin sulit kita merasa puas dengan apa pun yang kita pilih. Kita bisa memesan makanan dari puluhan restoran berbeda dalam satu aplikasi, namun tetap tidak tahu apa yang kita inginkan. Kita bisa memilih dari ribuan lagu, namun tidak menemukan satu pun yang benar-benar menemani. Kita bisa pergi ke ratusan tempat, namun tidak merasa betul-betul “hadir” di satu pun dari tempat-tempat itu.
Sa’diang tidak punya masalah itu. Bukan karena hidupnya mudah, justru sebaliknya. Tapi karena keterbatasannya memaksanya untuk hadir sepenuhnya di dalam apa yang ada, di dalam apa yang sedang ia jalani, di dalam satu-satunya jalan yang tersedia di depannya. Dan dalam kehadiran penuh itu, ia menemukan sesuatu yang banyak dari kita habiskan seumur hidup untuk mencarinya tanpa benar-benar menemukannya: “ketenangan yang tidak bersumber dari kondisi eksternal”.
Nafas yang terpongoh itu adalah nafas manusia yang hidup sepenuhnya. Ia tidak punya energi untuk berpura-pura, tidak punya ruang untuk performa, tidak punya waktu untuk memikirkan citra dirinya di mata orang lain. Yang ada hanya langkah demi langkah dan dalam setiap langkah itu sebuah keputusan kecil namun absolut untuk terus.
Bagian Ke Lima: Sungai, dan Lingkungan yang Dimulai dari Dalam
Film ini tidak berbicara tentang lingkungan dengan cara yang didaktis atau menggurui. Ia berbicara tentang lingkungan dengan cara yang jauh lebih dalam: dengan cara menunjukkan bahwa ada hubungan yang tidak terpisahkan antara manusia dan alam yang menghidupinya. Sungai dalam film ini bukan hanya latar. Ia adalah tokoh. Ia mengalir, berubah musim, kadang tenang kadang deras, kadang jernih kadang keruh. Dan Sa’diang hidup dalam hubungan yang bukan subjek-objek dengan sungai itu, bukan manusia yang mengeksploitasi sungai dan bukan sungai yang sekadar menjadi pemandangan latar hidup manusia. Mereka adalah dua hal yang saling menentukan.
Ada hajat hidup yang bergantung pada sungai. Bukan hanya Sa’diang, seluruh mahluk di sepanjang alirannya karena itulah menjaga sungai bukan pilihan pribadi yang romantis, melainkan tanggung jawab kolektif yang bermakna secara eksistensial. Namun ada lapisan yang lebih dalam dari metafor sungai ini dan saya ingin mengajak kita untuk berselancar sejauh mungkin. Apabila kita berbicara tentang lingkungan, dan kemudian kita bertanya apakah lingkungan itu untuk setiap manusia secara paling dekat dan paling personal? jawabnya adalah seluruh panca indra kita. Mata kita adalah sungai yang mengalirkan apa yang kita lihat ke dalam pikiran. Telinga kita adalah sungai yang mengalirkan apa yang kita dengar ke dalam kesadaran. Hidung, lidah, kulit semua adalah sungai-sungai kecil yang mengalirkan dunia ke dalam diri kita.
Dan jika kita pergi lebih jauh lagi ke dalam tubuh kita secara literal. sungai-sungai itu dapat dijejaki hingga ke sistem saluran tubuh, dikatakanlah ia darah. Darah adalah sungai internal kita. Ia mengalir ke setiap sel, membawa oksigen, membawa nutrisi, membawa kehidupan ke tempat-tempat yang tidak terlihat dari luar. Ketika kita mencemari lingkungan di luar, pada akhirnya yang kita cemari adalah sungai-sungai dalam diri kita juga. Kualitas udara yang kita hirup, kualitas air yang kita minum, kualitas tanah yang menumbuhkan makanan kita, semuanya berakhir menjadi kualitas dari darah yang mengaliri tubuh kita.
Kita yang merasa telah melampaui ketergantungan pada sungai karena sudah ada PDAM dan air mineral kemasan, kita yang merasa sudah modern sehingga tidak perlu lagi memikirkan dari mana air berasal. Kita justru adalah manusia yang paling abai terhadap sungai-sungai dalam diri kita sendiri. Kita mengalirkan konten yang penuh kebencian ke dalam mata kita. Kita mengalirkan kebisingan yang tidak bermakna ke dalam telinga kita. Kita mengalirkan makanan yang tidak bergizi ke dalam tubuh kita. Dan kemudian kita heran mengapa kita merasa kosong, lesu, cemas tanpa alasan yang jelas. Sa’diang dengan garejennya sedang mengajari kita tentang filsafat lingkungan yang paling mendasar: jaga apa yang mengalir ke dalam dirimu, karena kamu adalah sungai yang hanya bisa jernih sejauh hulu yang kamu jaga.
Jarigen yang Sa’diang bawa itu berat. Dalam kehidupan keseharian kita, masing-masing kita membawa jarigen kita sendiri dan jarigen itu beban yang tidak terlihat oleh orang lain, beban yang tidak selalu bisa kita ceritakan, beban yang kadang terasa terlalu berat untuk badan yang tidak cukup kuat. Namun kupu-kupu tidak terbang karena ia berhasil membuang beban. Kupu-kupu terbang justru karena ia berdamai dengan seluruh gravitasi yang menariknya ke bawah dan dari berdamai itulah lahir sebuah gerakan yang kita sebut terbang.
Ingin menjadi kupu-kupu? Bawalah beban itu dengan keikhlasan hidup karena bebanmu bisa jadi itu adalah caramu untuk terbang.
Penutup: Menatap Muara
Film berakhir dengan kamera yang menatap Muara. Membawa kita pada kesejatian diri untuk berlayar ke Ujung sungai yang lebih Luas. Sa’diang Harus Pulang/Belum Pulang….Wallahu a’lam.



