Mokel dan Puasa setengah: Kejujuran dan Kebangkrutan Mental

Jam dua belas siang di kampung dan matahari tidak sedang bercanda. Ia memanggang segala yang bergerak dengan tekun. Aspal mengkilap, Ayam mengedem dibawah pohon camba. Bahkan kucing pun malas untuk pura-pura berdiri. Di tengah semua itu, ada seorang anak kecil berdiri di depan lemari es. Tidak membukanya hanya berdiri. Menatapnya seperti seorang filsuf menatap cermin.
Suara bedug masih jauh. Tapi liur sudah kering sejak tadi. Perut sudah tidak berbicara ia sudah berpidato. Bukan sekadar keroncongan, sudah konser orkestra. Anak itu, dengan sekujur keyakinannya, menutup pintu lemari es itu pelan-pelan. Lalu pergi bermain lagi dengan perut kosong dan dengan kepala tegak.
Di kampung kita, khusus untuk anak-anak dikenal dengan puasa setengah hari. Puasa ini khusus kepada anak yang belum sanggup berpuasa penuh diizinkan buka di tengah hari, lalu nanti ikut sahur dan puasa lagi esok hari. Sebuah konsesi peradaban. Sebuah negosiasi antara cita-cita dan kapasitas lambung.
Tapi justru di sinilah letak keajaibannya. Puasa setengah itu bukan kelemahan. Itu adalah laboratorium. Di sanalah seorang manusia kecil pertama kali belajar sesuatu yang kelak lebih sulit dari puasa itu sendiri: jujur kepada diri sendiri. Anak yang puasa setengah tahu batas kemampuannya. Ia tidak pura-pura kuat. Ia tidak bersandiwara di hadapan Tuhan. Ia bilang, “Aku lapar, dan aku akan makan tapi nanti aku lanjut lagi.” Ada semacam kejujuran yang bersih di sana. Polos tanpa agenda.
Bandingkan dengan mokel. Bagi yang belum tahu, mokel adalah seni rahasia yang dikuasai oleh orang-orang dewasa tertentu: makan atau minum secara sembunyi-sembunyi saat seharusnya berpuasa. Bukan karena sakit. Bukan karena dalam perjalanan. Melainkan karena tidak kuat, tapi tidak mau mengaku tidak kuat. Ini berbeda secara mendasar. Ini bukan soal lapar. Ini soal mental.
Anak kecil yang puasa setengah itu jujur. Ia buka di depan ibunya, di depan saudaranya, bahkan mungkin di depan tetangga. Tidak ada yang disembunyikan. Sementara si mokel dewasa, ia pergi ke dapur seorang diri, membuka kulkas dengan pelan agar tidak bunyi, meneguk air dari belakang pintu, lalu kembali ke ruang tamu dengan wajah penuh kekhusyukan. Wajah orang berpuasa. Padahal perutnya sudah penuh.
Inilah yang saya sebut kebangkrutan mental. Bukan sekadar gagal berpuasa itu urusan pribadi dan Tuhan tidak perlu saya ikut campur. Yang saya persoalkan adalah lapisan kebohongannya. Ia berbohong kepada keluarganya. Ia berbohong kepada tetangganya. terutama ia berbohong kepada dirinya sendiri. Kebohongan kepada diri sendiri adalah jenis kebohongan yang paling mahal. Bunga-bunganya tidak kelihatan, tapi cicilannya dibayar seumur hidup.
Saya tidak sedang berkhutbah soal ibadah. Saya hanya sedang memperhatikan gejala Mokel karena mokel itu bukan cuma soal puasa. Mokel bisa jadi nanti menjadi cara hidup. Orang yang terbiasa mokel di Ramadan, terbiasa pula mokel di tempat kerja absen tapi tidak hadir, hadir tapi tidak kerja, kerja tapi tidak sungguh sungguh. Terbiasa mokel dalam pernikahan ada tapi tidak benar-benar ada. Mokel dalam pertemanan berteman demi kepentingan, bukan demi ketulusan.
Kembali ke anak kecil di depan lemari es tadi, perjuangannya itu nyata. Tubuhnya benar-benar lapar. Kepalanya benar-benar pusing. Tapi ia memilih untuk bertahan atau jika tidak mampu, mengaku tidak mampu dan akan melambaikan tangan ke kamera heheheh…. Tidak ada kemunafikan di sana. Perjuangan itu tulus, sebagaimana hanya anak-anak yang sanggup berlaku tulus karena mereka belum belajar bahwa kebohongan bisa menguntungkan.
Ada sesuatu yang kita hilangkan dalam proses menjadi dewasa. Sesuatu yang diam-diam kita simpan di laci dan kita lupa di mana lacinya. Namanya kejujuran terhadap keterbatasan diri. Anak-anak tahu mereka tidak bisa segalanya dan mereka bilang. Orang dewasa juga tidak bisa segalanya tapi mereka sibuk pura-pura bisa. Lalu pura-pura tidak pura-pura.
Maka saya usul: di samping ada ujian baca tulis dan berhitung untuk anak-anak sekolah, perlu ada satu mata ujian lagi. Namanya ujian puasa setengah. Bukan untuk mengukur ketahanan perut. Tapi untuk mengukur satu hal yang jauh lebih langka dari sekadar puasa penuh: kemampuan untuk jujur tentang siapa diri kita sebenarnya.
Perut lapar bisa ditanggung. Tapi jiwa yang pura-pura lapar itu yang sulit diobati.


