Refleksi
Trending

Jalangkote, Bikang, dan Perempuan

Catatan untuk Hari Perempuan Internasional

Di antara semua cara untuk merayakan Hari Perempuan Internasional, mungkin tidak ada cara yang lebih indah dengan duduk ditepian pantai losari Makassar atau di tepi sungai tinambung sambil menggigit jalangkote dan bikang panas di waktu berbuka, sambil merenung tentang hidup. Entah bagaimana, kalau dipikirkan lebih dalam sambil menunggu gigitan pertama mendingin, jalangkote dan bikang ternyata bisa menjadi dua cermin kecil yang cukup jelas memantulkan wajah perempuan.

Mari memulai dari jalangkote. Ia adalah jajanan yang sekilas tampak biasa saja: kulit tipis, isian sederhana, dijual di pinggir jalan dengan harga yang tidak pernah membuat dompet menangis. Tapi coba perhatikan baik-baik. Jalangkote tidak pernah meminta perhatian berlebihan. Ia tidak berteriak dari etalase mewah. Ia cukup hadir, hangat ketika kamu akhirnya mencicipinya, ia memberikan lebih dari yang kamu bayangkan. Isian wortel, kentang, dan telur rebusnya yang sederhana itu ternyata mengenyangkan dengan cara yang tidak bisa dijelaskan oleh logika. Persis seperti banyak perempuan yang kita kenal: tidak mencolok, tidak rewel minta diakui, tapi begitu mereka tidak ada, baru kita sadar betapa besar perannya selama ini .

Lalu ada bikang. Ah, bikang. Kalau jalangkote adalah perempuan yang kalem dan tidak banyak bicara, maka bikang adalah perempuan yang tahu betul cara membuat kehadiran dirinya diingat. Warnanya cerah, putih bersih, merah kecoklatan ketika dah dilumuri gula Mandar, mekar di bagian atas seperti sedang melambai dan berkata, “Hei, lihat ke sini dulu.” Teksturnya lembut di luar tapi mengembang penuh di dalam. Manis, tapi tidak berlebihan. Bikang tidak pernah setengah-setengah dalam penampilan, sederhana namun kaya dengan keanggunannya. Uniknya, justru karena ia berani mekar, ia menjadi kue yang paling sering dicari di antara tumpukan jajanan pasar lainnya.

“Dunia kerap meminta perempuan untuk lebih mirip jalangkote: sederhana, menonjol, cukup berguna. Tapi banyak perempuan yang sejatinya adalah bikang: mereka lahir untuk mekar, dan tidak ada yang bisa atau berani mendeskripsikannya”.

Yang menarik adalah keduanya, jalangkote maupun bikang, harus melalui proses panas sebelum menjadi sempurna. Jalangkote digoreng dalam minyak panas yang mendidih. Bikang dikukus dalam uap yang tidak kalah menyengat. Tidak ada yang instan. Tidak ada yang lahir jadi tanpa melewati sesuatu yang tidak nyaman. Kalau kamu pernah melihat ibu atau nenek membuatnya, kamu tahu bahwa di balik gigitan nikmat yang kamu rasakan itu ada kesabaran yang panjang, ketelitian yang tidak main-main, dan tangan yang sudah terlalu hafal dengan prosesnya sehingga tidak lagi perlu resep tertulis.

Perempuan juga begitu. Banyak dari mereka yang telah melalui panas dalam berbagai bentuknya: tekanan keluarga, standar ganda masyarakat, ruang kerja yang tidak selalu ramah, dan pertanyaan-pertanyaan yang tidak pernah ditanyakan kepada laki-laki seusia mereka. Tapi seperti jalangkote yang keluar dari penggorengan dengan kulit yang renyah dan sempurna, dan seperti bikang yang mekar justru karena uap panas itu, banyak perempuan tumbuh menjadi versi terbaik dirinya, meski melewati kesulitan.

Hari Perempuan Internasional bukan tentang membandingkan siapa yang lebih kuat atau siapa yang lebih berjasa. Ia lebih seperti momen ketika kamu duduk bersama, membagikan satu piring jalangkote dan bikang, dan mengakui bahwa keduanya enak dengan caranya masing-masing. Tidak perlu memilih. Tidak perlu saling mengalahkan. Dunia cukup luas untuk semua rasa.

Selamat Hari Perempuan Internasional. Semoga kamu hari ini makan jalangkote hangat, ditemani bikang yang mekar sempurna, bersama perempuan-perempuan yang kamu cintai.

Hari ini, ketika kamu menggigit jalangkote atau mengambil bikang dari piring, luangkan sedikit waktu untuk mengingat perempuan-perempuan di hidupmu yang telah rela bersamamu, yang telah mekar berani, dan yang tidak pernah berhenti matang meski api di bawahnya tidak selalu menyala dengan adil”.

Muhammad Junaedi Mahyuddin

Pria kelahiran dari kampung kecil yang bernama Banua baru. Saat ini aktif mengabdi sebagai pengajar di salah satu perguruan tinggi Muhammadiyah di Sulawesi Selatan

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Check Also
Close
Back to top button