Refleksi

Malam 15 Ramadhan , Kue Bikang di rumah Cahaya.

Ada satu aroma yang selalu membuatku berhenti berjalan ketika bulan Ramadan datang. Aroma itu tidak datang dari restoran mahal. Bukan juga dari makanan yang sedang viral. Aroma itu datang dari sebuah kue sederhana, Bikang.

Kue tradisional khas Mandar yang sebenarnya tidak terlihat istimewa bagi orang yang baru pertama kali melihatnya. Bentuknya sederhana. Warnanya putih yang terkadang jika rejeki menghampiri kau akan mendapatkan putih yang kecoklat-coklatan diakibatkan sedikit gosong. Pinggirannya sering retak-retak kecil namun manis dipandang seperti senyum wanita pujaan hatimu yang bermukena putih menuju masjid samping rumahnya. Tapi entah kenapa, setiap melihatnya, ada perasaan yang sulit dijelaskan. Seperti ada bagian dari masa lalu yang tiba-tiba bangkit mengelayuti pikiran.

Masih berbekas dalam ingatan, menjelang waktu berbuka, meja di rumah tidak pernah benar-benar penuh. Kadang hanya ada kopi, jalangkote, dan beberapa potong bikang. Tidak mewah. Tapi anehnya, rasanya selalu cukup. Dulu aku tidak pernah memikirkan itu. Aku hanya makan. Hanya sekarang aku mulai menyadari sesuatu: kadang yang kita rindukan bukan makanannya. Tapi suasana di sekitarnya.

Dalam psikologi, ada konsep yang disebut emotional memory ingatan yang melekat kuat karena terhubung dengan emosi. Hal-hal sederhana seperti aroma makanan, suara tertentu, atau bahkan cahaya senja bisa langsung membawa kita kembali ke sebuah waktu yang jauh di masa lalu. Itulah sebabnya satu gigitan kue bisa terasa seperti perjalanan waktu. Ketika mencium aroma bikang yang baru diangkat dari cetakan panas, yang datang bukan hanya rasa manisnya yang datang adalah kenangan.

Kenangan tentang ibu yang sibuk di dapur menjelang maghrib. Tentang suara piring yang disusun di meja. Tentang adzan yang terdengar dari masjid dekat rumah. Kenangan tentang menikmatinya Bersama saudara dab bahkan temanmu. Hal-hal yang dulu terasa biasa saja. Sekarang justru terasa berharga. Menariknya, psikologi juga menjelaskan sesuatu yang disebut nostalgia. Dulu orang mengira nostalgia hanyalah perasaan sedih karena merindukan masa lalu. Tapi penelitian modern menunjukkan bahwa nostalgia sebenarnya memiliki efek yang lebih dalam. Ia membuat seseorang merasa lebih terhubung dengan identitas dirinya.

Ketika kita mengingat sesuatu dari masa lalu seperti rasa sebuah kue tradisional, bikang. Kita sebenarnya sedang mengingat dari mana kita berasal, keluarga kita, dan cerita yang membentuk hidup kita. Mungkin itu sebabnya kue-kue tradisional sering terasa lebih “hidup” dibanding makanan modern. Bukan karena rasanya lebih mewah. Tapi karena mereka membawa cerita. Setiap daerah punya kue seperti itu, di bandung sedangkal pengetahuanku di sebut surabi. Kue yang mungkin sederhana bagi orang luar, tapi penuh makna bagi orang yang tumbuh bersamanya.

Bagi sebagian orang Bikang mungkin hanya kue biasa. Tapi bagi orang yang pernah menunggu azan maghrib sambil melihatnya di atas meja, ia adalah bagian dari cerita Ramadan. Sekarang, setiap kali aku melihatnya dijual di pinggir jalan menjelang berbuka, ada satu pertanyaan kecil yang sering muncul di kepalaku. Apakah rasa yang kurindukan itu benar-benar rasa kue bikangnya?. Atau sebenarnya yang kurindukan adalah waktu yang dulu menyertainya? Karena kadang kita baru menyadari nilai sebuah momen setelah momen itu lewat. Dan mungkin, tanpa kita sadari, kue sederhana itu sedang mengingatkan sesuatu yang penting. Bahwa kebahagiaan tidak selalu datang dari hal yang besar. Kadang ia datang dari sesuatu yang hangat, sederhana, dan hampir terlupakan.

Seperti sepotong Bikang yang dimakan perlahan sambil menunggu azan maghrib. Atau malam ke 15 ramadhan kali ini saya menikmatinya Bersama-sama dengan saudara2ku seusai tarawih. Ia menjadi memori baru!. Menjadi kuat memori itu karena sebelumnya terbahas tentang Sosok yang dinamai Sumber Cinta.

Muhammad Junaedi Mahyuddin

Pria kelahiran dari kampung kecil yang bernama Banua baru. Saat ini aktif mengabdi sebagai pengajar di salah satu perguruan tinggi Muhammadiyah di Sulawesi Selatan

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button