Refleksi

Ketika Panggung Menjadi Ruang Konseling: Membaca “Balada Sumarah” dari Bilik Bimbingan Konseling

Catatan PEKSIMIDA 2026

Ada momen-momen tertentu dalam hidup seorang pendidik yang tidak direncanakan, namun justru di situlah pelajaran paling dalam datang. Salah satunya terjadi ketika saya diberi kesempatan untuk menyaksikan, bahkan terlibat dalam proses latihan mahasiswa Universitas Muhammadiyah Enrekang menjelang PEKSIMIDA 2026. Saya datang sebagai dosen, pendamping tapi pulang sebagai seseorang yang membawa pulang sesuatu yang jauh lebih personal sebuah getir yang sulit saya jelaskan dengan kata-kata sederhana.

Sesuai Juknis Lomba, naskah yang diangkat oleh Tim PEKSIMIDA UNIMEN berjudul Balada Sumarah. Sebuah judul yang sekilas terdengar puitis, namun ketika saya membaca lembar demi lembar naskahnya, saya menyadari bahwa ini bukan sekadar rangkaian kata untuk dipentaskan. Ini adalah potret jiwa manusia yang sedang berjuang dan sebagai seorang yang menekuni bidang bimbingan dan konseling saya tidak bisa membaca naskah ini hanya sebagai penonton. Saya membacanya sebagai seseorang yang setiap hari duduk berhadapan dengan mahasiswa yang membawa luka yang tidak selalu terlihat.

Getir yang Familiar

Kata “Sumarah” sendiri bermakna pasrah atau menyerahkan diri, langsung menggugah sesuatu dalam diri saya. Dalam dunia konseling, kata “pasrah” sering disalah pahami sebagai bentuk kekalahan, sebagai tanda seseorang telah kehabisan daya untuk berjuang. Namun ketika saya menyaksikan mahasiswa berlatih memerankan tokoh ini. Suara yang naik turun antara marah dan lirih, tubuh yang runtuh lalu perlahan berdiri kembali, saya justru melihat sebaliknya. Saya melihat proses yang begitu dekat dengan apa yang selama ini saya pelajari dan ajarkan: tahapan berduka, mekanisme pertahanan diri, hingga jalan panjang menuju penerimaan.

Getir yang saya rasakan bukan datang dari kesedihan semata. Getir itu lahir dari keakraban. Betapa banyak wajah-wajah di ruang bimbingan saya yang tanpa mereka sadari sedang menjalani babak-babak yang sama seperti yang diperankan di atas panggung Baruga Colliq Pujie nantinya. Penyangkalan yang mereka bungkus dengan kalimat “saya baik-baik saja”. Amarah yang mereka pendam karena takut dianggap lemah. Tawar-menawar yang mereka lakukan dalam diam, dengan Tuhan, dengan diri sendiri, dengan masa lalu yang tak bisa diubah.

Mahasiswa sebagai Cermin, Panggung sebagai Ruang Aman

Menyaksikan proses latihan ini, saya menyadari satu hal penting; panggung dalam banyak hal bisa menjadi ruang katarsis yang setara dengan sesi konseling. Ketika mahasiswa yang memerankan Sumarah harus menyelami kemarahan, kesedihan, hingga kelelahan emosional tokohnya, mereka sesungguhnya sedang berlatih sesuatu yang jauh lebih besar dari sekadar akting. Mereka sedang berlatih untuk mengenali, menamai, dan pada akhirnya berdamai dengan emosi-emosi yang mungkin selama ini mereka simpan sendiri.

Sebagai dosen BK, saya melihat ini sebagai bentuk terapi ekspresif yang tidak disengaja namun sangat bermakna. Seni peran, dalam kasus ini monolog adalah memberi ruang bagi mahasiswa untuk mengeksternalisasi apa yang selama ini mungkin hanya berputar di dalam kepala mereka. Ada keberanian yang luar biasa dari mahasiswa yang bersedia berdiri di depan orang lain, membuka lapisan demi lapisan emosi tokoh Sumarah dan dalam prosesnya barangkali juga membuka sedikit lapisan dari diri mereka sendiri.

Refleksi bagi Dunia Pendidikan dan Konseling

Pengalaman ini mengingatkan saya bahwa pendampingan mahasiswa tidak boleh berhenti pada ruang kelas atau ruang konseling formal semata. Ruang-ruang kreatif seperti latihan seni, teater, dan sastra pertunjukan adalah ruang yang sama pentingnya untuk dijaga dan didampingi dengan kepekaan psikologis. Ketika mahasiswa menyelami peran yang berat secara emosional, mereka membutuhkan pendamping yang tidak hanya melatih teknik vokal atau ekspresi panggung, tetapi juga peka terhadap kemungkinan bahwa proses tersebut menyentuh sisi personal yang rapuh.

Saya pulang dari ruang latihan itu dengan rasa haru yang bercampur getir. Haru, karena menyaksikan keberanian dan dedikasi mahasiswa dalam menghidupkan sebuah naskah. Getir, karena naskah itu mengingatkan saya betapa banyak “Sumarah-Sumarah” lain yang mungkin sedang duduk di ruang bimbingan saya sambal menunggu untuk didengar tanpa harus naik ke atas panggung untuk bersuara.

Pada akhirnya, Balada Sumarah bukan hanya tentang satu tokoh yang berjuang menyerahkan diri pada takdirnya. Ia adalah cermin bagi kita semua (pendidik) bahwa proses berdamai dengan luka bukanlah tanda kekalahan, melainkan bentuk keberanian yang paling senyap namun paling kuat.

Catatan ini ditulis sebagai refleksi pribadi setelah menyaksikan dan mendampingi proses latihan mahasiswa Universitas Muhammadiyah Enrekang menjelang PEKSIMIDA 2026, sebagai bagian dari kepedulian terhadap kesehatan psikologis mahasiswa di ranah seni dan akademik.

 

Muhammad Junaedi Mahyuddin

Pria kelahiran dari kampung kecil yang bernama Banua baru. Saat ini aktif mengabdi sebagai pengajar di salah satu perguruan tinggi Muhammadiyah di Sulawesi Selatan

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button