Refleksi

Merasa kurang itu menumbuhkan

Ada satu pemandangan yang sering bikin saya malu sendiri. Seorang pemuda tanpa kedua tangan melukis dengan kakinya. Garisnya mantap, warnanya berani. Sementara saya punya dua tangan lengkap, sehat wal afiat, dan paling sering dipakai untuk memegang gawai.

Saya tidak sedang mengasihani dia. Saya malah iri. Dia punya sesuatu yang saya tidak punya, yaitu alasan yang jelas untuk bersungguh-sungguh.

Alfred Adler, psikolog dari Austria, menyebut gejala ini kompensasi. Rasa kurang, kalau tidak dibiarkan membusuk jadi minder, bisa berubah jadi bahan bakar. Beethoven terus menggubah ketika pendengarannya runtuh. Di sekitar kita pun ada saudara-saudara difabel yang piawai bermusik, melukis, atau membuat program. Bukan karena Tuhan memberi mereka bonus, tapi karena dunia menyempitkan satu pintu, sehingga mereka terpaksa menggali jendela. Dan orang yang tekun menggali, lama-lama ketemu harta.

Tapi jangan salah tangkap. Tulisan ini bukan ajakan, “Ayo cacat dulu biar berbakat.” Itu dungu, dan kurang ajar pula. Tak ada orang waras yang memesan penderitaan. Yang kita petik bukan lukanya, melainkan pelajarannya: manusia tumbuh bukan ketika merasa cukup, tapi ketika merasa kurang.

Orang yang kenyang tidak akan mencari makan. Rasa kurang itu lapar versi jiwa. Para psikolog punya istilah resmi untuknya, motivasi intrinsik dan desirable difficulties, kesulitan yang justru menyehatkan. Otot besar karena diberi beban. Ia tumbuh dari seratnya yang robek sedikit-sedikit. Jiwa juga begitu. Ia tidak mekar di ruangan ber-AC yang semua keinginannya sudah tersedia sebelum sempat diinginkan.

Nah, sekarang lihat remaja kita. Saya tidak sedang menyalahkan mereka. Kitalah, orang-orang dewasa ini, yang menggelar karpet merah dari kamar sampai kulkas. Apa yang diminta, datang. Apa yang tertunda, dianggap pelanggaran hak asasi. Maka begitu keinginan telat sedikit, mereka marah, merengek, bahkan menendang pintu. Kasihan pintunya. Ia tidak punya salah apa-apa, hanya kebetulan berada di arah kaki.

Psikologi menyebutnya rendahnya toleransi frustrasi. Anak yang tak pernah diberi kesempatan kecewa tak pernah berlatih pulih. Maka kecewa pertama di usia tujuh belas terasa seperti kiamat kecil, padahal penyebabnya hanya kuota habis atau permintaan yang belum dituruti. Kita menyangka sedang menyayangi, padahal diam-diam sedang mencabut akar yang seharusnya menguatkan mereka.

Sebab susah itu guru yang tidak pernah minta honor. Ia mengajarkan sabar tanpa ceramah, mengajarkan kreatif tanpa seminar. Orang yang terbiasa susah tahu bahwa jalan buntu sering bukan akhir, hanya undangan untuk berputar. Orang yang tak pernah susah mengira jalan buntu adalah penghinaan.

Maka mungkin tugas kita bukan buru-buru menambal setiap kekurangan anak. Biarkan ia sesekali merasa kurang. Biarkan ia menunggu, mencari, gagal, lalu mencoba lagi. Dari situlah bakat biasanya keluar dari persembunyian. Bakat itu pemalu, Saudara. Ia tidak mau muncul kalau semuanya sudah disediakan.

Kita tidak perlu kehilangan tangan untuk belajar dari pelukis tadi. Cukup mau mengakui bahwa diri kita pun belum lengkap, belum selesai, dan karena itu masih boleh tumbuh. Kekurangan yang disadari adalah pintu. Kekurangan yang ditolak hanya melahirkan rengekan.

Dan pintu, kalau mau diperlakukan dengan benar, dibuka. Bukan ditendang.

Muhammad Junaedi Mahyuddin

Pria kelahiran dari kampung kecil yang bernama Banua baru. Saat ini aktif mengabdi sebagai pengajar di salah satu perguruan tinggi Muhammadiyah di Sulawesi Selatan

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button