Apapi lagi, menikahlah!.

Ada masa ketika seorang pemuda sudah tidak lagi bisa disebut “terlalu muda” untuk menikah. Ia telah memiliki pekerjaan, mampu memenuhi kebutuhan dirinya, memahami arti tanggung jawab, dan mulai lelah menjalani hidup hanya untuk dirinya sendiri. Dalam diam, ia mungkin sudah membayangkan rumah kecil, pasangan untuk berbagi cerita, serta anak-anak yang kelak memanggilnya ayah/ibu, mami/papi, aqba/ummi, atau kindo/amma.
Namun setiap kali pembicaraan tentang pernikahan muncul, hatinya justru bergetar. Bukan karena ia tidak ingin menikah. Ia ingin. Bahkan mungkin sangat ingin. Hanya saja, keinginan itu selalu dibuntuti pertanyaan pertanyaan yang tidak berhenti datang: “Bagaimana jika aku salah memilih?”, “Bagaimana jika rumah tanggaku tidak bahagia?” “Bagaimana jika pasangan yang kupilih berubah setelah menikah?” “Bagaimana jika aku tidak mampu menjadi suami atau istri yang baik?”
Pada akhirnya, ia memilih mengambil jurus diam atau mencakar meja. Ialu, Ia mengatakan kepada banyak orang bahwa dirinya belum siap, meskipun jauh di dalam hati ia tahu bahwa masalahnya bukan semata kesiapan. Bisa jadi adalah ketakutan.
Rasa takut seperti ini sebenarnya manusiawi. Menikah bukan keputusan kecil. Menikah berarti menyerahkan sebagian ruang hidup kepada orang lain. Menikah berarti belajar menerima bahwa hidup tidak lagi hanya berjalan sesuai kehendak sendiri. Ada kebiasaan baru yang perlu dipahami, ada karakter yang perlu diterima, ada ego yang harus dikurangi, serta ada konflik yang harus diselesaikan dengan kepala dingin.
Tidak sedikit anak muda yang tumbuh dengan gambaran buruk tentang pernikahan. Ada yang menyaksikan orang tuanya saling menyakiti. Ada yang melihat pertengkaran menjadi makanan sehari-hari di rumah. Ada yang pernah dikhianati dalam hubungan. Ada pula yang terlalu sering menyaksikan kabar perceraian, ada pula yang menyaksikan kasus perselingkuhan media online, dan kekerasan rumah tangga hingga akhirnya menyimpulkan bahwa pernikahan adalah sesuatu yang berbahaya.
Dari sinilah keraguan tumbuh. Seseorang ingin memiliki pasangan, tetapi takut kehilangan ketenangan. Ia ingin membangun rumah, tetapi takut rumah itu kelak berubah menjadi tempat paling melelahkan. Ia ingin dicintai, tetapi pengalaman masa lalu membuatnya sulit percaya.
Secara psikologis, ini adalah bentuk perlindungan diri. Pikiran mencoba menghindarkan kita dari kemungkinan terluka dengan cara menunda keputusan. Otak menciptakan berbagai skenario buruk agar kita tidak gegabah. Namun, perlindungan diri yang berlebihan kadang berubah menjadi penjara. Kita menjadi terlalu sibuk memikirkan kemungkinan gagal sampai tidak memberi ruang bagi kemungkinan baik untuk datang.
Padahal, tidak ada manusia yang bisa mendapatkan kepastian seratus persen sebelum menikah. Tidak ada pasangan yang datang dengan jaminan bahwa hidup akan selalu mulus. Tidak ada hubungan yang bebas dari perbedaan. Bahkan dua orang yang sama-sama baik pun tetap bisa mengalami salah paham, kelelahan, persoalan ekonomi, perbedaan cara mendidik anak, atau ujian kesehatan.
Pernikahan bukan tentang menemukan orang yang sempurna. Pernikahan adalah tentang memilih seseorang yang mau sama-sama belajar ketika keadaan tidak sempurna.
Di titik ini, firman Allah dalam Surah An-Nur ayat 26 layak menjadi bahan renungan:
“Perempuan-perempuan yang keji untuk laki-laki yang keji, dan laki-laki yang keji untuk perempuan-perempuan yang keji (pula), sedangkan perempuan-perempuan yang baik untuk laki-laki yang baik, dan laki-laki yang baik untuk perempuan-perempuan yang baik (pula).”
Ayat tersebut sering dipahami hanya sebagai janji bahwa orang baik akan selalu mendapatkan pasangan yang baik. Namun, ada pesan yang lebih dalam untuk direnungkan. Sebelum terlalu sibuk meminta pasangan yang baik, mungkin kita perlu bertanya kepada diri sendiri: sudahkah aku berusaha menjadi pribadi yang baik?
Sudahkah aku mampu mengelola emosiku ketika marah? Sudahkah aku terbiasa meminta maaf ketika salah? Sudahkah aku dapat bertanggung jawab terhadap uang, waktu, dan amanah? Sudahkah aku mampu berkomunikasi tanpa merendahkan? Sudahkah aku menyelesaikan luka-luka masa lalu yang selama ini membuatku sulit percaya pada orang lain?
Keinginan mendapatkan pasangan yang saleh atau salehah memang wajar. Namun, keinginan itu akan lebih indah jika dibarengi dengan perjuangan untuk menjadi laki-laki atau perempuan yang juga pantas dipercaya. Menjadi baik bukan berarti tidak pernah salah. Menjadi baik berarti mau mengakui kesalahan, mau memperbaiki diri, dan tidak lelah belajar menjaga hati serta akhlak.
Barangkali selama ini kita terlalu menunggu hidup menjadi stabil dalam segala hal. Menunggu tabungan cukup banyak. Menunggu karier berada di puncak. Menunggu rumah sudah tersedia. Menunggu hati bebas dari seluruh rasa takut. Menunggu diri menjadi sempurna.
Sayangnya, hidup jarang memberi keadaan yang sepenuhnya ideal.
Ada orang yang telah memiliki segalanya tetapi tetap takut menikah. Ada juga orang yang hidupnya belum sepenuhnya mapan, tetapi berani melangkah karena ia punya kesungguhan, tanggung jawab, dan keyakinan kepada Allah. Ini bukan ajakan untuk menikah dengan terburu-buru. Kesiapan finansial, mental, spiritual, dan emosional tetap penting. Akan tetapi, kita perlu jujur membedakan antara belum siap dan tidak berani.
Belum siap berarti ada hal nyata yang harus diperbaiki. Mungkin pekerjaan belum cukup stabil, utang belum terkendali, emosi masih sulit dijaga, atau hubungan dengan calon pasangan masih penuh tanda bahaya. Dalam keadaan seperti itu, menunda dapat menjadi keputusan yang bijak. Namun, penting juga untuk dikurasi lebih dalam agar tak berubah bentuk menjadi ketakutan atau kecemasan.
Namun, jika yang membuat kita terus berhenti hanyalah ketakutan akan sesuatu yang belum tentu terjadi, mungkin yang kita butuhkan bukan penundaan tanpa akhir. Kita membutuhkan keberanian untuk tumbuh.
Keberanian bukan berarti tidak memiliki rasa takut. Keberanian berarti tetap melangkah dengan pertimbangan yang matang meskipun rasa takut belum sepenuhnya hilang. Seseorang dapat mengenal calon pasangannya dengan cara yang baik, meminta pandangan keluarga dan orang-orang tepercaya, memperhatikan akhlak serta cara calon pasangan menghadapi masalah, lalu melibatkan Allah melalui doa dan istikharah. Sebab menikah bukan pertaruhan yang dilakukan dengan mata tertutup. Menikah adalah ikhtiar. Ada proses mengenal, menilai, mempertimbangkan, memohon petunjuk, lalu memilih dengan sadar.
Jika kamu adalah pemuda yang sudah cukup layak menikah tetapi masih terus diliputi keraguan, jangan langsung menganggap dirimu lemah. Mungkin ada luka yang belum kamu pahami. Mungkin ada ketakutan yang perlu kamu bicarakan. Mungkin kamu perlu berdamai dengan pengalaman masa lalu sebelum membuka pintu untuk masa depan.Tetapi jangan pula biarkan ketakutan itu memimpin seluruh hidupmu. Jangan sampai kamu terlalu sibuk mencari manusia yang tidak akan pernah mengecewakan, sampai lupa bahwa kamu sendiri pun bukan manusia tanpa kekurangan. Jangan sampai kamu menunggu kepastian tentang seluruh masa depan, padahal Allah hanya meminta kita untuk berikhtiar sebaik mungkin pada hari ini.
Menikah memang tidak menjanjikan hidup tanpa masalah. Namun, pernikahan yang dibangun dengan niat baik, tanggung jawab, komunikasi, dan kedekatan kepada Allah dapat menjadi tempat dua orang yang tidak sempurna untuk saling menguatkan.
Maka mungkin pertanyaannya bukan lagi, “Apakah aku tidak takut menikah?”
Pertanyaan yang lebih jujur adalah, “Apakah ketakutanku sedang menjagaku dari sesuatu yang buruk, atau justru menghalangiku dari kebaikan yang mungkin telah Allah siapkan?”
Karena pada akhirnya, seseorang tidak perlu menunggu menjadi sempurna untuk memulai perjalanan yang baik. Ia hanya perlu cukup dewasa untuk bertanggung jawab, cukup rendah hati untuk belajar, dan cukup berani untuk percaya bahwa bersama Allah, langkah yang baik tidak pernah benar-benar sendirian.
Wallahu allam…..


