Mandar Ethno Musik Concert, obat jiwa

Tadi malam, persis pukul satu, ponsel saya berdenting. Cuma sekali, pelan, seperti jangkrik yang kesepian dan salah alamat. Tapi anehnya, dering setipis itu sanggup membuat jantung saya berdegup seperti baru kedatangan debt collector. Saya buka, dan ternyata cuma notifikasi promo cicilan Shoppe tanpa bunga. Saya menarik napas panjang, separuh lega separuh kesal, sambil membatin, zaman ini benar-benar pandai membuat hal sepele terdengar seperti kiamat kecil.
Itulah barangkali masalah kita, manusia abad ini. Kita sudah lupa cara membedakan bunyi penting dan bunyi receh, Bunyi dering Brimo salah satu misalnya. Semua dering dianggap genting, semua getar dianggap kabar duka, padahal sembilan dari sepuluh kali yang berdenting itu cuma toko daring yang sedang cuci gudang. Tapi hati kita, yang malang itu, sudah terlalu lama jadi satpam dua puluh empat jam, sehingga ia bereaksi pada semua bunyi dengan kadar kepanikan yang sama, entah itu kabar penting atau sekadar iklan sepatu.
Saya jadi berpikir, walau pikiran saya ini pikiran murahan, tidak seperti pikiran psikolog yang dibayar mahal, bahwa kecemasan zaman sekarang itu bukan soal banyaknya masalah, melainkan soal hilangnya jarak antara bunyi dan makna. Dulu, satu bunyi punya satu arti yang jelas. Bedug berarti waktunya berhenti sejenak. Kentongan dipukul tiga kali berarti ada yang harus dijaga bersama. Sekarang, satu bunyi bisa berarti seribu kemungkinan dan otak kita dipaksa menebak-nebak seperti detektif dadakan setiap dua menit, padahal otak kita ini cuma tamatan SMA, bukan tamatan sekolah intelijen.
Kalau hati zaman sekarang itu laci yang penuh sesak dengan kabel kusut, headset, dan kuitansi yang tidak jelas peruntukannya, maka musik tradisi dulu adalah tangan yang sabar mengurai satu per satu, tanpa terburu, tanpa mengeluh, tanpa sekali pun bilang “cepat sedikit, saya ada urusan lain.”
Saya ingat kalindaqdaq yang dilagukan orang-orang tua di kampung, untaian kata yang mengalir seperti air yang justru memilih jalan paling jauh menuju laut, sebab terburu-buru bukan watak air yang bijaksana. Setiap baris kalindaqdaq terasa seperti tepukan pelan di pundak, semacam bisikan yang berkata, “sudah, sudah, tidak usah lari, duduk dulu, biar nanti capeknya yang lari sendiri.”
Begitu pun pattuqduq towaine. Saya dulu mengira itu cuma tarian untuk dilihat mata, ternyata ia juga tarian untuk diam-diam menata napas. Setiap gerak yang tertib adalah cara tubuh membisiki pikiran yang sedang berlarian ke segala arah, “ikuti saja iramaku, jangan kau yang memimpin, nanti kita berdua tersesat di jalan yang sama-sama tidak kita kenal.”
Dan tentu ada nyanyian para penunggu kebun sambil memainkan calong, sambil memandang ladangĀ yang sebentar lagi panen dan berharap hewan pengerat tak merusak harapan keluarga. Pukulan bambu kecil sembari melantunkan syair yang isinya kata yang kaya akan makna. Di titik itu, saya kira, musik berhenti menjadi hiburan dan mulai menjadi semacam doa yang dilagukan, doa yang meminta hati yang sanggup berdamai dengan segala pemberian Sang Esa.
Dari sinilah saya mengangap bahwa musik dalam tradisi Mandar, rasa-rasanya tidak pernah berdiri sendiri sebagai seni semata. Ia selalu bersanding dengan rasa syukur, dengan permohonan, dengan semacam pengakuan kecil bahwa manusia ini cuma numpang, penuh harap, dan menyadari keterbatasannya, dengan cara-cara kaya adab dalam meminta. Melagukan syair atau menari pattuqduq towaine, kalau boleh saya bilang begitu, adalah cara halus untuk bersujud, tanpa harus selalu memakai sajadah.
Coba bandingkan dengan kita sekarang, yang begitu duka datang, langsung mencari tombol next, seolah duka itu lagu di playlist yang boleh dilompati lewat lima detik iklan. Padahal duka bukan lagu yang bisa di skip. Ia tamu yang keras kepala, yang kalau diusir lewat pintu depan, akan masuk lagi lewat jendela kamar, jam tiga pagi, sambil membawa kenangan-kenangan yang tidak pernah diundang dan tidak tahu cara pulang sendiri.
Ketika saya mendengar Taman Budaya dan Museum Provinsi Sulawesi Barat berniat menggelar Musik Ethno Mandar Concert, saya tidak membayangkan sekadar panggung dengan lampu sorot dan mikrofon yang berdiri gagah. Saya membayangkan semacam dermaga kecil, tempat orang-orang yang lelah boleh berlabuh sejenak, menambatkan kapal pikirannya yang sudah berlayar terlalu jauh tanpa istirahat. Saya membayangkan anak muda yang biasanya menatap layar lebih lama daripada menatap wajah ibunya sendiri, tiba-tiba terdiam karena bunyi calong yang sederhana itu ternyata sanggup menyentuh bagian dada yang bahkan algoritma media sosial belum pernah berhasil menjangkau. Anak muda itu berkata, bunyi yang umurnya ratusan tahun itu, bisa lebih dekat ke hati ketimbang kutipan-kutipan motivasi yang setiap pagi numpang lewat di linimasa.
Terlalu dini, tapi Saya hendak bilang bahwa satu konser bisa menyembuhkan satu generasi yang lelah. Itu klaim yang kelewat besar, seperti bilang satu cangkir kopi bisa menggantikan delapan jam tidur yang hilang. Tapi setidaknya, biarlah pada malam konser itu, untuk beberapa jam saja, dering ponsel kalah pamor dari dentingan calong, dan kecemasan yang biasanya berisik itu, ikut diam, ikut menari, lalu duduk, lalu entah bagaimana, ikut tertidur dengan tenang, seperti anak kecil yang akhirnya percaya bahwa malam ini tidak ada yang perlu ditakuti.
Dan kalau esok paginya dering ponsel kembali berbunyi seperti biasa, semoga ada secuil irama Mandar yang masih menggantung di dada kita, cukup untuk mengingatkan satu hal sederhana “hati ini, betapapun gaduhnya, sebenarnya bisa pulang ke Asalnya yang tenang, asal kita mau, sesekali, berhenti, dan benar-benar mendengarkan”.

