Refleksi

Bercermin pada filem “Sore, Istri dari Masa Depan”

Diplomasi Gula dan Logika Sore

Jika Anda merasa hidup hari ini sudah cukup benar hanya dengan menuruti semua keinginan, mungkin Anda perlu meluangkan waktu sejenak untuk menonton ‘Sore: Istri dari Masa Depan’. Serial ini bukan sekadar tontonan romantis dengan latar Italia yang cantik, melainkan sebuah pengingat yang kurang ajar: bahwa masa depan Anda yang sehat dan bahagia sedang menunggu untuk diselamatkan oleh keputusan-keputusan kecil Anda hari ini. Menontonlah, dan bersiaplah bertemu dengan ‘Sore’ bagi diri Anda sendiri, sebelum masa depan datang hanya untuk memberikan tagihan yang tak sanggup Anda bayar.”

Dalam serial ini, drama besarnya bukan soal pengkhianatan atau perebutan harta, melainkan soal diplomasi di meja makan. Melalui sosok Sore, kita diingatkan bahwa musuh terbesar umat manusia bukanlah konspirasi global yang rumit, melainkan butiran kristal putih bernama gula yang kita sesap dengan riang setiap pagi. Di sinilah letak ironi ‘diplomasi healing’ kita yang keliru: kita sibuk mencari ketenangan batin ke ujung dunia, namun abai pada apa yang kita masukkan ke dalam tenggorokan sendiri. Kita menuntut semesta untuk menyembuhkan luka jiwa, tapi kita sendiri yang setiap hari meracuni raga dengan dalih ‘menyenangkan diri’. Sore hadir bukan sebagai pendamping yang memanjakan, melainkan sebagai alarm yang berisik, memaksa Jonathan—dan juga kita—untuk sadar bahwa mencintai diri sendiri seharusnya dimulai dengan cara berhenti mengkhianati tubuh sendiri demi kenikmatan lidah yang hanya sesaat.”

Jonathan itu potret kita semua. Dia hidup di Italia—negeri yang estetiknya bukan main—tapi hidupnya sendiri berantakan. Dia merokok seolah paru-parunya terbuat dari beton, dan pola makannya adalah bentuk penghinaan terhadap metabolisme. Lalu datanglah Sore, perempuan yang mengaku istrinya dari masa depan. Sore tidak datang membawa gombalan maut atau puisi senja yang mendayu-dayu. Ia datang membawa disiplin yang menyakitkan. Sore adalah personifikasi dari Responsibility. Dalam psikologi, kita sering bicara soal Grit atau ketangguhan. Tapi di tangan Sore, Grit itu tidak teoritis. Ia mewujud dalam larangan makan gula berlebih dan paksaan untuk lari pagi.

Lucu, bukan? Masa depan umat manusia seringkali tidak ditentukan oleh perang nuklir, tapi oleh apa yang masuk ke tenggorokan kita saat sarapan. Sore mengajari Jonathan—dan kita semua—bahwa mencintai diri sendiri adalah tentang keberanian untuk mengatakan “Tidak” pada keinginan sesaat demi “Ya” yang lebih abadi di masa depan.

Inilah yang menarik jika kita hubungkan dengan fenomena zaman sekarang: “Generasi Healing”. Kita hidup di zaman di mana “lelah” bukan lagi tanda habis bekerja, melainkan sebuah komoditas. Sedikit-sedikit merasa butuh self-healing. Padahal kalau ditelisik lebih dalam, yang terluka itu jiwanya atau cuma gengsinya? Yang lelah itu pikirannya atau cuma jempolnya yang habis scrolling melihat pencapaian orang lain? Dulu, orang baru merasa perlu “sembuh” kalau habis patah hati hebat atau bangkrut sampai makan pun susah. Sekarang, tidak dibalas chat oleh gebetan selama dua jam saja sudah merasa kena mental breakdown. Kita ini seperti sedang berkompetisi menjadi yang paling rapuh.

Banyak dari kita menggunakan istilah healing hanya sebagai label agar tidak merasa bersalah saat menghamburkan uang yang sebenarnya tidak ada. Kita menyebutnya self-love, tapi dompet kita menangis karena cicilan membengkak demi tiket pesawat ke Enrekang lalu lari ke Gunung Nona, tapi “penyakit” kita tetap ikut di dalam koper. Bukannya meditasi, kita malah sibuk mencari sudut foto yang paling estetik untuk membuktikan pada dunia bahwa kita sedang “sembuh”. Ini namanya bukan menyembuhkan luka, tapi menimbun luka baru dengan plester yang harganya mahal. Dan disitulah letak kita sebagai manusia yang tak bertanggung jawab pada dirinya sendiri.

Bertanggung jawab atas diri sendiri itu berat. Kita asyik menyalahkan keadaan, menyalahkan trauma masa lalu, atau menyalahkan algoritma media sosial. Tapi Sore dalam film itu mengingatkan bahwa tubuh Jonathan adalah satu-satunya rumah yang ia miliki. Jika rumah itu ia bakar sendiri dengan gaya hidupnya, ke mana jiwanya akan berteduh?. Secara psikologis, ini adalah dialektika antara ego hari ini dengan eksistensi masa depan. Healing yang sebenarnya bukanlah perjalanan ke luar kota, melainkan perjalanan ke dalam diri. Ia bukan tentang mencari pemandangan indah untuk diunggah di Instagram, tapi tentang keberanian menatap cermin dan berkata: “Masalahnya bukan pada dunia, tapi pada caraku merespons dunia.”

Para tetua kita dulu—yang hidupnya jauh lebih keras, yang makannya singkong dan tidurnya beralas tikar—tidak kenal istilah healing. Mereka punya ketangguhan. Kalau lelah, mereka tidur. Kalau ada masalah, mereka sujud. Sesederhana itu. Mereka memikul tanggung jawab tanpa perlu merasa jadi korban keadaan. Kita mungkin tidak punya kemewahan didatangi istri atau suami dari masa depan yang cantik atau tampan untuk mengingatkan kita soal kadar gula darah. Kita sendirian. Maka, tugas tersulit manusia adalah menjadi “Sore” bagi dirinya sendiri.

Mencintai diri adalah tentang disiplin. Ia adalah bentuk tanggung jawab yang paling radikal. Jika hari ini Anda memilih untuk hidup sehat, Anda sebenarnya sedang melakukan lobi diplomatik dengan Tuhan dan masa depan agar diizinkan melihat anak-cucu dengan tubuh yang masih tegak. Itulah esensi self-love yang sebenarnya: bukan tentang memanjakan, tapi tentang mempersiapkan. Bukan tentang kepuasan instan, tapi tentang ketahanan jangka panjang. Karena pada akhirnya, masa depan bukan hanya tentang apa yang akan terjadi, tapi tentang siapa yang akan bertahan untuk menyaksikannya.

Muhammad Junaedi Mahyuddin

Pria kelahiran dari kampung kecil yang bernama Banua baru. Saat ini aktif mengabdi sebagai pengajar di salah satu perguruan tinggi Muhammadiyah di Sulawesi Selatan

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button