Refleksi

Diplomasi Mahasiwa Pemalu

Dunia kampus itu sebenarnya miniatur rimba liar yang dibungkus dengan gedung-gedung megah dan aroma makalah yang telah melewati mesin fotokopian yang khas. Di sana, ada satu spesies yang paling menarik perhatian saya: Mahasiswa Pemalu. Makhluk ini biasanya memiliki kemampuan luar biasa untuk menjadi “transparan”. Mereka duduk di barisan paling belakang, menyatu dengan warna tembok, dan memiliki radar yang sangat peka terhadap gerakan dosen. Begitu mata dosen mulai menyisir ruangan mencari “korban” untuk bertanya, mereka mendadak sibuk menunduk, pura-pura menulis sesuatu yang sangat penting, padahal mungkin cuma sedang menggambar bentuk yang tak bermakna di pojok buku catatan.

Mahasiswa pemalu ini adalah penganut setia prinsip “diam itu emas”. Padahal di dalam kelas, diam itu sering kali berarti “saya sedang berdoa agar tidak ditunjuk”. Mereka menganggap kelas sebagai medan ranjau; satu kata yang salah ucap bisa meledakkan harga diri mereka berkeping-keping.

Secara psikologis, mereka ini sedang mengalami krisis Self-Efficacy  diri. Ini bukan soal bodoh atau pintar. Banyak dari mereka yang otaknya sekelas perpustakaan Alexandria, tapi lidahnya terkunci oleh gembok ketakutan. Mereka menderita “alergi perhatian”. Baginya, diperhatikan orang banyak itu rasanya lebih perih daripada ditaburi garam di atas luka lama.

Maaf kan, saya gunakan analogi yang sedikit “kurang ajar” tapi nyata: Mahasiswa pemalu itu ibarat bisul yang matang.

Iya, bisul. Dia ada di sana, tersembunyi di balik kain, menyimpan “nutrisi” atau potensi yang luar biasa banyak, tapi dia takut pecah. Dia merasa kalau dia “pecah” atau tampil ke permukaan, dunia akan menertawakannya. Padahal, dunia justru butuh ledakan isinya itu agar suasana kelas tidak hambar. Dia menahan diri begitu rupa sampai-sampai potensi kognitifnya membusuk di dalam karena tidak pernah dikeluarkan. Dia lebih memilih menjadi “mulus” namun tak bermakna, daripada “pecah” tapi memberi dampak.

Untuk menyembuhkannya, kita tidak bisa memakai cara kasar. Kita butuh pendekatan Mastery Experience, memberikan kemenangan-kemenangan kecil. Kita tidak butuh dia langsung jadi orator yang menggelegar di atas podium rektorat. Itu namanya pembunuhan karakter. Kita cukup menuntunnya untuk berani melakukan “pemberontakan kecil”. Mulailah dengan berani menatap mata dosen tanpa gemetar, atau setidaknya mengumpulkan tugas paling depan agar namanya terbaca jelas. Saat dia melihat bahwa dunia tidak kiamat hanya karena dia bersuara, di situlah bibit efikasi dirinya mulai bertunas.

Kita juga perlu menyentil kesadaran mereka lewat Vicarious Experience. Lihatlah tokoh-tokoh besar dunia yang dulunya introvert. Mereka tidak mengubah diri jadi cerewet, mereka hanya mengubah “diam” mereka menjadi “karya”. Menjadi mahasiswa berprestasi bagi si pemalu bukan berarti harus berubah jadi “humas kampus” yang hobi basa-basi. Kita tidak butuh lebih banyak orang cerewet yang isinya cuma angin. Kita butuh mahasiswa yang diamnya berpikir, dan bicaranya adalah solusi. Prestasi itu adalah ketika dia yang biasanya menunduk, mulai berani mengangkat tangan dan berkata, “Maaf Pak, teori Anda sepertinya perlu saya koreksi sedikit.” Itu adalah puncak kejayaan seorang introvert!

Dunia ini sudah terlalu penuh dengan “tong kosong” yang bunyinya nyaring. Kita butuh “gentong penuh” yang meski berat dan sulit digeser, sekali dibuka isinya adalah air segar yang memuaskan dahaga ilmu. Menjadi mahasiswa berprestasi adalah cara paling elegan untuk membuktikan bahwa diammu bukan karena kosong, tapi karena sedang berisi.

Jadi, untukmu mahasiswa yang masih hobi sembunyi di balik punggung teman: berhentilah menjadi pajangan kampus. Kampus sudah punya banyak patung pahlawan, jangan ditambah lagi dengan wujudmu yang mematung di pojok kelas. Keluarlah dari zona nyamanmu yang pengap itu. Karena sungguh, bangku depan itu tidak panas, yang panas itu adalah melihat temanmu yang kemampuannya di bawahmu justru mendapat panggung hanya karena dia lebih berani “ngoceh” daripada kamu yang cuma bisa menelan ludah.

Sore ini, selagi menyeruput kopi, renungkanlah: Lebih baik menjadi mahasiswa yang sedikit “pecah” karena berani berpendapat, daripada menjadi mahasiswa “mulus” yang prestasinya nihil karena terlalu rajin bersembunyi di bawah bayang-bayang. Jangan sampai ijazahmu nanti hanya menjadi bukti bahwa kamu pernah membayar SPP, tanpa ada satu pun orang yang ingat bahwa kamu pernah punya pemikiran yang hebat.

————————————$$$##$$$$$####—————————-
Santai miki, saya pun juga seperti ini, sangat pemalu. Kita sama namun kita berbeda karena saya belajar untuk tidak lagi menjadi pemalu. Anda bisa….. tinggal butuh waktu.

Muhammad Junaedi Mahyuddin

Pria kelahiran dari kampung kecil yang bernama Banua baru. Saat ini aktif mengabdi sebagai pengajar di salah satu perguruan tinggi Muhammadiyah di Sulawesi Selatan

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button