
Malam di penghujung Ramadhan yang baru saja berlalu, seorang anak yang duduk di dapur dengan mulut masih penuh remah-remah kue kering milik neneknya. Mukanya memerah. Matanya bergerak cepat ke kiri dan kanan seperti mata seseorang yang baru saja melakukan kejahatan internasional. Padahal yang dilakukannya hanyalah sedikit mencoba kue yang seolah-olah butuh untuk dicicipi. Neneknya masuk. Dua pasang mata bertemu. Nenek itu tidak marah. Ia hanya berkata, “Besok coba lagi ya.” Lalu pergi. Anak itu menangis. Bukan karena dimarahi. Tapi karena tiba-tiba ada sesuatu yang berat di dadanya, sesuatu yang belum ia punya nama untuk menyebutnya, tapi yang rasanya seperti menyesal sekaligus ingin memperbaiki diri.
Anak itu, tanpa tahu, sedang mengalami salah satu momen paling manusiawi dalam hidupnya. Saya ingin mengajak kita semua melakukan sesuatu yang agak tidak lazim. Bukan meditasi. Bukan terapi mahal. Cukup menutup mata sebentar dan mencoba mengingat wajah kita sendiri waktu kecil. Wajah yang mungkin belepotan sisa makanan. Kaus yang tidak dimasukkan. Lutut selalu kotor. Tapi di balik semua itu ada sesuatu yang bersih di sana. Sesuatu yang sekarang, kalau kita jujur, sudah agak susah ditemukan.
Para psikolog humanistik menyebutnya “unconditional positive regard toward the self” suatu penerimaan terhadap diri sendiri yang tidak bersyarat. Anak kecil secara alamiah memiliki ini. Ketika ia jatuh, ia menangis sebentar, lalu berdiri lagi. Ketika ia gagal, ia kecewa sebentar, lalu mencoba lagi. Tidak ada rapat internal panjang. Tidak ada sidang evaluasi diri yang berlangsung tiga hari. Ia jatuh, ia bangkit, ia lanjut. Sesederhana itu. Dan yang paling penting, anak kecil yang kemarin mokel itu tidak membangun identitas di atas kemokelannya. Ia tidak bilang, “Saya memang tipe orang yang tidak puasa.” Ia tidak merumuskan filosofi hidup dari satu kegagalan siang hari. Ia mokel, malu, menangis, lalu esok paginya sahur lagi dengan semangat yang sama persis seperti kemarin. Seolah-olah kemarin tidak pernah terjadi. Atau lebih tepatnya, kemarin terjadi tapi tidak harus menentukan hari ini.
Bandingkan dengan orang dewasa. Orang dewasa yang sekali gagal puasa di hari pertama Ramadan, sering kali menggunakan kegagalan itu sebagai izin untuk gagal di hari-hari berikutnya. “Tanggung, sudah telanjur.” Atau “Tahun ini memang sedang banyak cobaan.” Atau yang paling canggih: “Saya sedang dalam perjalanan spiritual yang tidak linier.”
Dalam psikologi, ini dikenal sebagai “moral licensing” fenomena di mana seseorang yang merasa telah berbuat salah sekali, justru memberikan izin kepada dirinya sendiri untuk terus berbuat salah. Seolah-olah satu kegagalan membuka rekening overdraft moral yang boleh terus ditarik tanpa batas. Anak TK tidak mengenal konsep ini. Orang dewasa yang canggih justru menggunakannya dengan mahir. Dan di sinilah paradoks terbesarnya, anak TK yang mokel karena tidak kuat, jauh lebih dewasa secara mental daripada orang dewasa yang mokel lalu membangun narasi pembenaran berlapis-lapis di atasnya. Yang satu kalah, mengakui, dan berjanji mencoba lagi. Yang satu kalah, menyangkal, dan merekrut akalnya untuk memastikan bahwa ia sebenarnya tidak kalah.
Fitrah. Kata ini sering kita ucapkan di penghujung Ramadan, biasanya sambil bersalaman dan mengenakan baju baru. Tapi maknanya lebih dalam dari sekedar momen lebaran. Fitrah adalah kondisi asal manusia bersih, tulus, belum terlapis oleh terlalu banyak pengalaman menyerah yang tidak diakui, terlalu banyak kegagalan yang dicat ulang menjadi kebijaksanaan. Anak kecil yang mokel dengan muka belepotan kue itu sedang berada sangat dekat dengan fitrahnya. Ia gagal, tapi ia tidak hancur. Ia malu, tapi ia tidak lari dari rasa malunya. Ia jatuh dan ia tahu bahwa jatuh bukan akhir dari cerita, hanya jeda.
Kita yang dewasa ini, dengan semua pengalaman dan pengetahuan yang sudah kita kumpulkan, seharusnya lebih dekat ke fitrah itu. Bukan malah lebih jauh. Bukan malah lebih pandai menipu diri. Bukan malah lebih terampil menyusun pembenaran. Ilmu semestinya membuat kita lebih jujur, bukan lebih lihai.
Maka izinkan saya, di penghujung esai ini, menyampaikan satu pesan yang sesederhana mungkin. Bukan karena kesederhanaan itu mudah. Tapi justru karena yang sederhana itulah yang paling sering kita lewatkan. Jangan sampai kita punya badan dewasa, rekening yang cukup, jabatan yang terhormat, dan ceramah moral yang selalu siap diluncurkan di momen yang tepat tapi mental kita masih mental mokel. Lebih kekanak-kanakan dari anak TK, karena anak TK yang mokel itu masih mau disebut mokel. Masih mau mengangkat tangan dan bilang, “Iya, saya tadi makan.” Sedangkan kita? Kita makan, lalu mencari pasal undang-undang pribadi yang membenarkan makan kita.
Pulang ke fitrah bukan berarti kembali menjadi anak kecil yang tidak tahu apa-apa. Pulang ke fitrah artinya membawa semua pengetahuan kita yang sudah bertumpuk ini, lalu menggunakannya untuk satu tujuan yang paling sederhana dan paling sulit sekaligus: JUJUR kepada Tuhan, kepada orang-orang yang kita cintai, dan terutama kepada diri kita sendiri.
Nenek yang bijak itu bilang, “Besok coba lagi ya.”
Kalimat itu tidak pernah kadaluarsa. Tidak untuk anak kelas tiga SD. Tidak untuk kita yang sudah berkumis, beranak, dan berKTP. Selalu ada besok untuk mencoba lagi, selama kita tidak terlanjur terlalu pintar untuk mengakui bahwa hari ini kita belum berhasil.
Kita lahir bersih. Pertanyaannya tinggal satu: apakah kita dah siap dengan tetek bengek ke pulangan menuju ke Fitra-an diri yang Fitri. Ada banyak kerempongan yang menanti, tinggal kita harus Jujur kepada diri sendiri?.


