Refleksi

Nitizen ber-lebaran

Lebaran itu seperti racik (baca: stelan) opor, bumbunya beda-beda, level pedasnya selang-seling, tapi pas masuk mulut, ya judulnya tetap menjadi makanan yang enak di makan sewaktu menyantap opor tetangga. Di negeri +62 ini yang ramah tapi hobi debat ini, lebaran sering kali diawali dengan ritual “intip-intipan” bulan yang bikin kepala pening. Ada yang sudah takbir seolah besok kiamat, ada yang masih anteng melahap sahur terakhir karena hilalnya masih malu-malu kucing.

Beda hari itu biasa, tapi di tangan netizen, urusan beda hari ini bisa lebih panas dari kuah opor yang telah tercampur ketupat yang dipanaskan tujuh kali. Di sinilah letak uniknya psikologi nitizen. Nitizen ini penganut setia Groupthink, sebuah gejala di mana keinginan untuk harmoni dalam kelompok mengalahkan nalar kritis. Kalau kelompok satu lebaran Selasa, ya yang Rabu itu alien. Nitizen merasa “paling benar” bukan karena dalilnya paling kuat, tapi karena merasa lebih aman kalau gerombolannya banyak.

Padahal, kalau mau pakai kacamata santai ala filosofis, perbedaan itu cuma soal sudut pandang. Bayangkan Anda melihat angka 6 di tanah; teman Anda yang berdiri di depan Anda akan teriak itu angka 9. Apakah Anda harus baku hantam? Tidak perlu. Cukup geser pandangan sedikit saja, Anda akan paham kenapa dia bilang 9. Dalam psikologi, ada istilah Cognitive Dissonance. Ini adalah rasa tidak nyaman saat kita melihat sesuatu yang tak sama dengan keyakinan kita. Saat tetangga sudah pakai baju baru dan bau parfumnya sampai ke teras rumah kita, sementara kita masih memegang tasbih dan menahan lapar, di situlah iman dan ego sedang duel. “Kok dia sudah Lebaran? Apa saya yang ketinggalan zaman atau dia yang terlalu nafsu?”

Tapi lihatlah keajaibannya. Begitu hari raya tiba bagi semuanya, semua ketegangan itu larut dalam semangkuk opor. Psikologi nitizen itu aneh, ia bisa berdebat soal metode rukyat dan hisab sampai berbusa, tapi begitu ketemu rendang, semua identitas itu melebur. Itu yang diharapkan terjadi, itu yang disebut Social Identity Theory. Pada akhirnya, kita merasa bagian dari kelompok besar bernama “Umat yang Pengen Bahagia”.

Lebaran itu adalah momen Disosiasi masal yang positif. Kita sejenak memutus hubungan dari penatnya cicilan, tugas sekolah yang menumpuk dan drama media sosial. Kita seolah-olah “keluar” dari identitas diri yang stres dan masuk ke dalam identitas baru yang pemaaf (meski kadang cuma bertahan dua hari). Kita mendadak jadi orang suci yang hobi minta maaf, padahal besoknya mungkin sudah kembali hobi gibah.

Nitizen berada pada kategori anak muda sekarang mungkin melihat perbedaan ini sebagai bahan “meme”. Dan itu bagus. Tertawa adalah mekanisme pertahanan diri paling sehat walaupun mungkin dikalangan nitizen yang sudah berumur menganggap ruang perpecahan.

Persatuan kita itu bukan pada kalendernya tapi pada “rasanya”. Kita ini satu ikatan bukan karena seragam tapi karena sama-sama paham bahwa setelah Ramadhan, perut butuh kompensasi yang layak. Perbedaan hari itu cuma soal teknis administrasi langit, tapi substansinya tetap satu: kembali fitri, kembali jadi manusia yang tidak merasa paling benar sendiri.

Jadi, mau Lebaran hari apa pun, santai saja. Agama itu untuk memudahkan, bukan untuk bikin darah tinggi. Kalau hilal belum kelihatan, ya sudah, nikmati satu hari lagi untuk membersihkan hati (dan mungkin membersihkan kulkas). Pada akhirnya, yang dinilai bukan seberapa cepat kita makan ketupat, tapi seberapa luas hati kita menerima mereka yang makan ketupat di hari yang berbeda.

Muhammad Junaedi Mahyuddin

Pria kelahiran dari kampung kecil yang bernama Banua baru. Saat ini aktif mengabdi sebagai pengajar di salah satu perguruan tinggi Muhammadiyah di Sulawesi Selatan

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button