
Ada pemandangan yang sungguh khas di setiap kantor ketika Ramadan tiba. Seseorang yang biasanya gesit tiba-tiba berubah menjadi patung bernapas. Jika anda sering menonton Netflix berada pada pengaturan kecepatan 0,5 Gerakannya melambat seperti film yang diputar setengah kecepatan. Ketika ditanya ada apa, jawabannya selalu satu, puasaki e. Seolah-olah Ramadan adalah surat dokter resmi yang membebaskan seseorang dari kewajiban berpikir, bergerak, dan berfungsi sebagai manusia produktif.
Mari kita berselancar sebentar jauh merenungi aktivitas Nabi Muhammad SAW yang pernah memimpin Perang Badar tepat di bulan Ramadan dengan pasukan yang jumlahnya seidikit disbanding dengan lawan dan pada waktu itu lagi berpuasa. Mereka bukan cuma berjalan dari ruang rapat ke ruang istirahat. mereka berperang, sungguhan. Sementara kita per hari ini dengan segala kemewahan kursi yang sangat empuk dan ditambah pendingin ruangan sudah merasa seperti memikul Gunung Latimojong hanya karena harus menyelesaikan tiga lembar laporan dalam format Word atau Excel.
Saya menegajak, mari kita luruskan satu hal sejak awal: Ramadan bukan diskon jam kerja yang seharusnya mendapat jatah libur bukan tangan kita, bukan kaki kita, bukan jari-jari yang mengetik. Yang seharusnya libur adalah pabrik prasangka di dalam kepala, yang perlu istirahat adalah mesin produksi kecurigaan, iri hati, dan keluhan yang selama ini beroperasi dua puluh empat jam penuh tanpa pernah kita sadari.
Psikologi kognitif mengajarkan kita satu konsep yang kerap dilupakan dalam keseharian bahwa tidak semua kelelahan berasal dari tubuh yang bergerak. Ada jenis lelah yang jauh lebih menguras, namun tidak terasa karena tidak meninggalkan keringat di baju. Kelelahan itu bernama cognitive overload kondisi di mana otak menanggung beban pemrosesan informasi yang melebihi kapasitasnya. Dengan singkat kata, kata ustads yang ceramah subuh tadi bahwa pikiran yang banyak berseliweran hal-hal yang tak semestinya kita pikirkan. Hal itu yang banyak memproduksi beban kognitif.
Berpikir negatif atau dalam terminologi psikologi disebut negative filtering ternyata memakan energi otak yang jauh lebih besar daripada sekadar angkat beras dua karung. Ketika seseorang menaruh curiga kepada tetangga yang belum tentu bersalah, ketika pikiran terus berputar di sekitar skenario buruk yang belum pasti terjadi, atau ketika seseorang sibuk merasa dirinya adalah korban paling malang seantero semesta semua aktivitas mental itu menguras tenaga yang diproduksi glukosa.
Maka patut direnungkan dengan serius, mengapa kita jam dua siang sudah Lelah bawaannya pengen tidur dan istirahat? Bukan semata karena kurang nasi dari Warung Sari Laut Mbak Aisyah waktu sahur. Bisa jadi karena sejak jam delapan pagi, kepala kita sudah sibuk memproduksi skenario bencana tentang masa depan yang belum pernah dan bisa jadi tidak akan pernah terjadi. Kita melelahkan diri sendiri dengan cara yang paling tidak produktif, dengan kata lain mencemaskan yang belum ada. Meminjam Bahasa dikampungku (Kayyang Sarao).
Penelitian dalam psikologi menunjukkan bahwa pikiran yang tidak terkendali yang melompat-lompat dari satu kekhawatiran ke kekhawatiran lain mengaktifkan jaringan otak yang sama dengan yang digunakan untuk memecahkan masalah nyata. Artinya, khawatir tentang sesuatu yang tidak ada sama efek energinya dengan benar-benar mengerjakan sesuatu yang ada. Bedanya: yang satu menghasilkan pekerjaan selesai, yang satu lagi hanya menghasilkan kepala yang pening.
Puasa sebagai Cognitive Restructuring
Dalam dunia Cognitive Behavioral Therapy (CBT), ada teknik yang disebut cognitive restructuring proses menantang dan mengganti pola pikir otomatis yang tidak akurat dengan cara pandang yang lebih realistis dan sehat. Terapis mengajak pasien untuk berhenti sejenak, memeriksa apakah pikiran yang muncul itu benar-benar fakta atau sekadar asumsi, kemudian memilih respons yang lebih konstruktif.
Tanpa perlu membayar lebih biaya konsultasi psikolog, Ramadan menawarkan hal yang sama, bahkan lebih. Setiap kali lapar menyerang, tubuh secara alami memicu respons emosional yang dalam ilmu neurosains dikenal sebagai amygdala hijack: bagian otak primitif mengambil alih kendali, emosi meningkat, dan pikiran jernih tergusur. Di sinilah medan perang sesungguhnya. Bukan di meja makan saat berbuka, tapi di dalam kepala saat perut keroncongan dan ada rekan kerja yang menyebalkan, ada bos yang kurang bijaksana, ada situasi yang tidak berjalan sesuai rencana.
Tantangan nyata Ramadan bukan sekadar menahan lapar dan haus. Tantangannya adalah tetap bekerja secara profesional, tetap berpikir jernih, tetap bersikap adil kepada orang-orang di sekitar, sementara seluruh sistem biologis kita sedang dalam kondisi defisit. Apakah dalam kondisi seperti itu kita masih sanggup untuk tidak kayyang sara sob? Tidak merasa jadi manusia yang paling teraniaya?
Hidup, pada akhirnya, memang soal sudut pandang. Pekerjaan yang sama bisa terasa seperti batu besar yang menindih punggung atau bisa terasa seperti gerakan yang menyimpan makna. Tangan yang bergerak mengerjakan sesuatu yang berguna adalah tangan yang sedang memuliakan hidupnya sendiri. Dalam konteks Ramadan, itu adalah pahala yang tidak perlu menunggu sampai akhirat untuk dinikmati cukup tunggu sampai adzan Maghrib.
Overthinking ke Flow State
Psikolog Mihaly Csikszentmihalyi pernah menggambarkan sebuah kondisi mental puncak yang ia sebut flow: keadaan di mana seseorang begitu terserap dalam pekerjaannya sehingga rasa lapar, waktu, bahkan pikiran yang tidak perlu semuanya menjadi tidak relevan. Dalam kondisi flow, otak bekerja pada kapasitas terbaiknya, dan secara paradoks, justru tidak terasa melelahkan.
Strategi praktisnya sederhana, daripada membiarkan pikiran berkeliaran ke pertanyaan eksistensial seperti “Kok hidup gini amat?” atau “Kenapa nasib orang lain lebih baik?”, arahkan perhatian kepada detail konkret pekerjaan yang ada di depan mata. Satu kalimat, satu kolom, satu tugas. Fokus yang terjaga bukan hanya menyelamatkan produktivitas ia juga membebaskan pikiran dari penjara kegelisahan yang kita bangun sendiri.
Ada yang menarik dari tradisi spiritual Islam yang bersinggungan dengan temuan psikologi modern ini. Dzikir pengulangan nama atau atribut Tuhan dengan kesadaran penuh secara neurologis memiliki efek yang sangat mirip dengan meditasi mindfulness: mengaktifkan sistem saraf parasimpatik, menurunkan kortisol, dan mengembalikan korteks prefrontal ke fungsi optimalnya. Pekerjaan yang dikerjakan dengan sungguh-sungguh, dengan tangan yang bergerak dan pikiran yang hadir, adalah juga sebuah bentuk dzikir. Tangan yang kreatif adalah tangan yang sedang menjalin percakapan diam-diam dengan Penciptanya.
Setan memang dibelenggu di bulan Ramadan, demikian menurut ajaran Islam. Tapi jika pikiran buruk masih terus beroperasi dengan kapasitas penuh, jangan-jangan kita ini adalah asisten manajer setan yang terlalu loyal: tetap masuk lembur walau sang bos sedang cuti panjang.
Menjadi Manusia yang Selesai
Pada akhirnya, apa yang kita harapkan dari sebulan penuh Ramadan? Bila tolok ukurnya hanya timbangan badan, kita akan sangat kecewa sebab statistik menunjukkan bahwa berat badan kebanyakan orang justru naik setelah Ramadan, akibat strategi balas dendam yang diterapkan secara intensif setiap malam sejak adzan Maghrib hingga menjelang Isya.
Hasil yang lebih berharga dari Ramadan adalah pikiran yang lebih jernih. Dalam psikologi positif, ini disebut mindfulness: kemampuan untuk hadir penuh di momen yang sedang berlangsung, tanpa tertelan oleh penyesalan masa lalu atau kecemasan masa depan. Ramadan, bila dijalani dengan benar, adalah latihan mindfulness paling intensif yang tersedia karena ia tidak hanya melatih perhatian, tetapi juga melatih pengendalian diri, empati, dan kapasitas untuk menunda kepuasan.
Pulang kerja dengan badan yang capek adalah hal yang sangat wajar. Itu tanda bahwa kita telah menggunakan tubuh kita untuk sesuatu yang berguna. Yang jauh lebih berbahaya adalah pulang dengan hati yang butek: penuh endapan kekecewaan, kecurigaan yang belum terselesaikan, dan amarah yang diperam sepanjang hari. Kelelahan fisik bisa dipulihkan dengan tidur. Kelelahan batin yang dibiarkan menumpuk bisa bertahan jauh lebih lama.
Manusia yang selesai bukan manusia yang tidak punya masalah. Ia adalah manusia yang sudah berdamai dengan kenyataan bahwa masalah adalah bagian dari kehidupan, bukan penghinaan pribadi dari alam semesta. Ia tidak menghabiskan energi untuk marah kepada hal-hal yang tidak bisa diubah, dan tidak membuang waktu untuk meratapi nasib yang sedang ia jalani.
Maka, mari kembali bekerja. Bukan karena kita budak dari sistem yang tidak kita pilih. Tapi karena Tuhan menciptakan tangan untuk berkarya, menciptakan pikiran untuk berpikir jernih, dan menciptakan Ramadan bukan sebagai tiket untuk berhenti melainkan sebagai undangan untuk memulai sesuatu yang lebih baik dari dalam. Karena menopang dagu sambil meratapi nasib di jam-jam kritis menjelang buka itu, jujur saja, bukan ibadah. Itu hanya kemalasan yang diberi jubah spiritualitas.


