Seporsi Sop Ubi untuk Dia yang Takut Pulang

Malam itu, setelah tarawih, sop ubi sudah menunggu di meja.
Asapnya mengepul pelan, seperti orang yang sedang berpikir keras tapi pura-pura santai. Ubi-ubinya mengapung tenang di dalam kuah bening yang kekuningan. Sungguh pemandangan yang damai. Terlalu damai, kalau boleh jujur. Karena di sebelah mangkuk itu, duduk seorang lelaki yang tidak setenang sopnya.
Lelaki itu adalah Dia. Dan ibu dia sedang menatap dia dengan cara yang hanya bisa dilakukan oleh ibu-ibu yang anaknya belum menikah di usia yang sudah seharusnya.
Tatapan itu tidak marah. Tidak juga sedih. Ia lebih seperti tatapan seorang nelayan yang melihat jaringnya masih belum memberi isyarat padahal sudah melempar jala dengan mantra pemberian turun temurun milik kakeknya dan diapun telah bertawassul.
“Gimana kalau Ibu cariin?” kata beliau, sambil menyendok kuah ke mangkuk saya. Penuh. Melimpah. Seperti harapannya.
Sop ubi ini bukan makanan yang suka tampil mewah. Tidak ada nama panjangnya. Tidak ada hashtag nya. Tidak ada influencer yang datang jauh-jauh untuk memfotonya dari sudut dramatis sambil berpura-pura tidak tahu ada kamera.
Sop ubi datang apa adanya: hangat, sederhana, dan tidak pernah bertanya macam-macam.
Sayangnya, dia tidak bisa bilang hal yang sama tentang kondisi malam itu.
Karena beberapa teman dia kemudian muncul dari arah pagar pintu masuk, membawa sejumbo teh dan kopi, dan duduk dengan cara yang menandakan bahwa ini bukan makan malam biasa. Ini sidang. Sidang keluarga kecil dengan agenda tunggal: kenapa anaknya masih jomblo?
Kalau boleh saya jelaskan dan memang harus saya jelaskan, karena kalau tidak, penjelasan versi ibu dia yang akan beredar di arisan masalahnya bukan tidak ada yang mau. Masalahnya lebih rumit dari itu.
Mungkin, dia takut
Bukan takut seperti takut hantu atau takut cicak jatuh dari langit-langit. Takut yang ini lebih halus. Lebih licin. Lebih susah ditangkap dan dijadikan alasan yang masuk akal di depan orang tua.
Dia takut hidup berpasangan.
Dia takut nanti ada orang yang setiap pagi melihat muka saya sebelum saya sempat bersiap. Saya takut nanti ada yang tahu bahwa saya kadang berbicara sendiri di dapur. Saya takut nanti ada yang sadar bahwa saya tidak sehebat yang saya tampilkan di luar bahwa di balik semua cerita dan candaan, ada juga lelaki yang tidak selalu tahu harus bagaimana.
Hidup sendiri itu mudah. Tidak perlu negosiasi. Tidak perlu kompromi soal suhu AC atau menu makan malam. Tidak perlu menjelaskan kenapa hari ini saya diam saja, atau kenapa tiba-tiba saya tertawa di depan layar hp tanpa berbagi ceritanya.
Hidup sendiri itu… aman.
Dan dia sudah terlalu lama merasa aman, sampai lupa bahwa aman bukan berarti baik-baik saja.
Sop ubi di depan dia terus mengepul.
Ubi itu, kalau dipikir-pikir, tidak pernah minta dilindungi. Ia tumbuh di dalam tanah, gelap, sendirian, terkubur tapi ia tidak berhenti tumbuh. Dan pada waktunya, ia naik ke permukaan. Mau tidak mau. Siap tidak siap.
Mungkin ubi lebih berani dari dia.
Ibu Dia masih menatap. Teman saya menyeruput teh dengan sabar, sabar yang sudah terlatih selama bertahun-tahun menunggu saya dewasa dalam berbagai hal.
“Ibu ada kenalan,” kata beliau lagi. “Orangnya baik. Kerja. Keluarganya juga bagus.”
Dia mengangguk pelan. Bukan tanda setuju. Lebih ke tanda bahwa saya masih hidup dan sedang memproses informasi.
Di dalam kepala dia, ada dua suara yang sedang berdebat. Satu suara berkata: ini saatnya. Kamu tidak bisa selamanya makan sop ubi sendirian. Suara lain berkata: tapi kalau ada orang lain, siapa yang akan kamu salahkan kalau sop ubinya kurang garam?
Saya tahu suara mana yang lebih bijak dalam pikiran dia. Saya juga tahu suara mana yang lebih sering menang, Saya pernah mengalami hal yang pernah dirasakan dia.
Ramadan punya cara yang tidak adil untuk membuat orang jujur.
Mungkin karena perut lapar membuat pertahanan diri melemah. Mungkin karena suasana malam yang tenang setelah tarawih membuat pikiran tidak bisa lagi berpura-pura sibuk. Mungkin karena sop ubi yang hangat ini memiliki kandungan filosofis yang tidak tercantum di label gizinya.
Apapun alasannya, malam itu dia duduk di depan orang tua dan untuk pertama kalinya dalam waktu lama, saya tidak punya jawaban yang cepat dan lucu untuk melompat dari topik.
Dia hanya duduk. Makan. Dan diam-diam mengakui kepada diri sendiri bahwa mungkin, mungkin ada hal yang lebih menakutkan dari hidup berpasangan.
Yaitu terus hidup sendirian sambil berpura-pura itu adalah pilihan, bukan pelarian.
Mangkuk sop ubi saya sudah hampir kosong.
Ibu dia tersenyum. Entah karena menang, atau karena memang senyum itu sudah dari tadi disimpan untuk momen yang tepat.
“Kapan Ibu boleh hubungi dia?” tanya beliau kepada dia
Dia menatap sisa kuah di mangkuk. Hangat. Sederhana. Tidak banyak tuntutan. Persis seperti yang dia rasakan tapi selama ini tidak berani dia akui.
“Setelah lebaran,” kata dia, akhirnya dia berguman.
Dan untuk pertama kalinya malam itu, teman dia tertawa.
Sop ubinya masih hangat. Ramadan masih berjalan. Dan dia, perlahan-lahan, sedang belajar bahwa berani bukan berarti tidak takut.
Berani adalah makan sop ubi sampai habis, lalu bilang iya.
Meskipun masih gemetar.


