
Isi yang Berbeda, Tapi Satu Tujuan
Yang menarik dari jalangkote adalah isinya tidak seragam. Di satu warung ada yang pakai banyak telur. Di warung lain, wortelnya melimpah. Di warung yang satunya bihunnya yang melimpah. Ada yang pedas karena sambalnya tidak tanggung-tanggung, ada yang manis karena penjualnya cantik entahlah, mungkin pembuatnya sedang jatuh cinta.
Ini mengingatkan kita pada konsep psikologi humanistik milik Abraham Maslow tentang individual differences, bahwa setiap manusia itu unik, punya kebutuhan dan cara ekspresi yang berbeda-beda. Tapi semua jalangkote, mau isinya apa pun, tetap punya tujuan yang sama mengisi perut yang kosong, menghangatkan leher yang lapar, menemani yang kesepian di meja makan.
Ramadhan mengajarkan hal yang sama. Kita datang dari latar belakang berbeda, ada yang kaya, ada yang cukup-cukupan, ada yang harus hitung uang receh dulu baru bisa beli jalangkote tiga biji. Tapi di bulan ini, kita semua sama-sama lapar. Lapar adalah bahasa paling jujur yang pernah diciptakan Tuhan untuk menyatukan manusia.
“Jangan lupa berbuka dengan jalangkote”


