
Ada kabar yang tidak pernah siap saya dengar, meski saya tahu ia pasti datang. Kabar wafatnya Annangguru Muhammad Syibli adalah salah satunya. Saya masih ingat betul bagaimana kabar itu sampai ke saya. Saya diam, menunduk, cukup lama, menahan gemuruh sesak di dalam dada. Kata-kata Mutiara “kita selalu tahu kematian itu pasti” belum berfungsi 100%. Hal itu menjadi penanda bahwa saya masih amatir, selaras dengan penggalan lirik lagu sesi potret.
Waktu berlalu, sehari setelah pemakaman Annangguru Muhammad Syibli, dalam perjalanan menuju Enrekang, isi kepala saya menuju pada ke kisah Dzulkarnain Yakjuj dan Makjuj. Maafkan jika saya begitu mencocoklogikan pada kisah Dulkarnain, tulisan ini bukan tafsir baku tetapi inilah caraku dalam merefleksikan perjalanku bersama Annangguru.
Saya baru nyadar bahwa selama ini Annangguru membangun tembok dalam diri saya dan itu dimulai dari hal kecil, secara berulang: misalnya, tatapan, candaan, dsb sebagai bentuk isyarat yang entah mengapa selalu nyambung dengan permaslahan yang saya hadapi saat itu, saya sering menyebutnya,,, na issang sannali issinna ate.
Jawabannya saya temukan justru di ujung kisah Dzulkarnain. Besi itu adalah ketegasan beliau. Tembaga cair itu adalah kasih sayangnya yang membuat semua ketegasan tadi menyatu dan tidak retak adalah gejolak nafsu yang tak henti mendesak dan tembok itu adalah benteng yang dibangun lewat disiplin, dzikir, dan bimbingan. Seperti itulah besi yang ditumpuk satu per satu. Dan kasih sayang beliau yang kadang tidak kelihatan itulah tembaga cairnya yang membuat semuanya menyatu dan tidak retak. Setelah semua kerja kerasnya, ia tidak membanggakan hasil karyanya. Ia hanya berkata, “Ini rahmat dari Allah. Kalau janji Allah sudah datang, Dia akan meratakannya.” Seorang raja yang baru selesai membangun tembok terhebat di zamannya malah mengingatkan bahwa tembok itu pun akan hancur suatu hari.
Awalnya kalimat itu terasa biasa saja. Tapi makin saya pikirkan, makin saya paham maksudnya dan semoga saja saya tak salah. Guru itu perantara. Beliau dikirim Allah untuk menjaga kita selama waktu yang ditentukan dan yang menjaga kita sebenarnya Allah sendiri. Kalau selama ini saya bersandar pada Annangguru seolah beliau sumber segalanya, mungkin saya sedang ditegur halus: sandaranmu bukan di situ. Dan saya kira Annangguru sendiri akan setuju. Seingat saya, beliau tidak pernah mau dijadikan pusat. Beliau selalu menunjuk ke arah yang lebih tinggi dari dirinya.
Kini, ada satu hal lagi yang pelan-pelan masuk dalam ruang kesadaran saya. Dulu saya kira tembok itu berdiri di luar diri saya, tempat saya berlindung. Ternyata yang beliau tinggalkan sudah pindah ke dalam. Adab yang sudah jadi kebiasaan, cara saya menahan marah, cara saya menghormati orang yang lebih tua, doa-doa yang tidak lagi saya hafal karena sudah mengalir sendiri. Itu semua tidak ikut terkubur bersama jasad beliau.
Jadi berduka, buat saya, bukan cuma soal menangis. Berduka juga berarti merawat. Melanjutkan nasihat beliau ajarkan, mengirim doa, dan menjaga tingkah laku agar supaya beliau tidak malu pernah punya murid seperti saya. Tembok yang dibangun bersama orang-orang baik tidak runtuh karena pembangunnya berpindah tempat. Walaupun biasanya ia runtuh karena penghuninya malas merawatnya.
Malam tadi, di tauziah malam ke tiga saya datang menengok ruangan yang sering kali saya gunakan untuk duduk sambal menatap wajahnya, Saya masih rindu, dan saya tidak akan berpura-pura sudah ikhlas sepenuhnya. Semoga Allah mengijinkan, saya ingin rindu ini jadi tenaga, bukan beban. Seperti api yang meniup besi sampai merah menyala, mudah-mudahan rindu ini yang menyatukan kenangan, ajaran, dan doa menjadi sesuatu yang lebih kuat.
Malam ini, Pertanyaan yang pertama muncul di kepala saya sederhana saja: apa tembok yang telah ia bangun itu ikut roboh?, Semoga Tembok Itu Masih Berdiri
Ya Allah, rahmatilah guru kami, KH. Muhammad Syibli Sahabuddin. Lapangkan kuburnya, terangi jalannya, dan pertemukan kami kembali dengan beliau di sisi-Mu. Dan jagalah, murid-muridnya, supaya tembok yang beliau titipkan tetap berdiri di dalam dada murid-muridnya sampai janji-Mu tiba.



