Mandar Etno Musik Konser: Laboratorium Pendidikan Karakter

Belakangan ini, lini masa media sosial saya dipenuhi oleh poster dan flyer digital yang mempromosikan kegiatan Mandar Etno Musik Konser. Bertebaran dari satu akun ke akun lain, dari unggahan komunitas ke story pribadi, dari grup WhatsApp ke linimasa Instagram, seolah ada gelombang kecil yang diam-diam menyebar tanpa banyak orang menyadari maknanya. Mulanya saya hanya membacanya sebagai informasi acara biasa, semacam undangan yang lalu-lalang dan mudah terlupakan. Namun semakin sering player itu muncul di hadapan saya, semakin saya merasa ada sesuatu yang lebih besar sedang bergerak di baliknya, bukan sekadar promosi sebuah pertunjukan musik, melainkan getaran kecil dari sebuah ikhtiar kolektif untuk menghidupkan kembali sesuatu yang nyaris kita lupakan bersama. Dari situlah, sebagai seorang yang menggeluti ilmu pendidikan, saya merasa perlu berhenti sejenak, tidak sekadar menggeser layar, melainkan benar-benar membaca apa yang sebenarnya hendak disampaikan oleh peristiwa ini.
Saya sudah mulai membayangkan bahwa malam itu akan terjadi sebuah peristiwa sejarah musik Mandar. Membayangkan ketukan kulung-kulung berpadu dengan petikan kecapi dan tubuh-tubuh muda yang biasanya larut dalam dentuman musik digital tiba-tiba terdiam, lalu ikut bergerak mengikuti irama yang sebenarnya sudah lama mengalir di darah mereka sendiri tanpa pernah mereka sadari. Itulah Mandar Etno Musik Konser: bukan sekadar pertunjukan, melainkan ruang di mana teks budaya bertemu konteks zaman, di mana warisan leluhur dikawinkan dengan cara yang elegan untuk berdialog dengan masa kini. Dan dari pertemuan itulah identitas budaya Mandar menemukan pondasinya kembali, sebuah pondasi yang selama ini retak diam-diam oleh derasnya arus globalisasi. Namun bila ditelisik lebih dalam, peristiwa semacam ini sesungguhnya bukan hanya panggung kesenian. Ia adalah medium pendidikan, pendidikan nonformal dan informal yang justru sering memuat fungsi pedagogis lebih dalam ketimbang banyak materi ajar di ruang kelas.
Dari sudut pandang ilmu pendidikan, ada hal berharga yang bisa kita lihat dari peristiwa tersebut. Musik etnik yang ditampilkan dalam konser sebenarnya mengajarkan banyak hal kepada anak dan remaja, walau mereka tidak merasa sedang belajar. Inilah yang dalam ilmu pendidikan disebut kurikulum tersembunyi, pelajaran yang masuk lewat rasa, bukan lewat hafalan. Erikson, dalam teorinya tentang pembentukan jati diri, mengatakan bahwa seseorang baru menemukan dirinya secara utuh ketika ia punya akar budaya yang jelas. Banks, lewat gagasan pendidikan multikultural, menambahkan bahwa akar budaya itu akan lebih kuat tertanam jika dihayati, bukan sekadar dibaca dari buku. Di titik inilah Mandar Etno Musik Konser punya peran besar, ia berusaha menghidupkan kembali apa yang nyaris hilang, membawa tradisi lama ke suasana yang baru, dan membuktikan bahwa identitas budaya bukan benda mati yang hanya disimpan di museum, melainkan sesuatu yang harus terus dihidupkan agar tidak benar-benar mati.
Jika kita bandingkan dengan perkembangan musik etnik di Jawa membuat kesenjangan ini terasa makin tajam. Di Jawa, musik etnik terutama gamelan telah lama menemukan jalan institusionalnya. Yogyakarta Gamelan Festival, misalnya, telah berlangsung konsisten hampir tiga dekade, didukung penuh oleh dinas kebudayaan setempat dan melibatkan puluhan kelompok karawitan dari berbagai desa budaya setiap tahunnya. Dewan Kesenian Jakarta sejak 2019 secara rutin menggelar Ethnic Music Festival yang menjadi panggung bagi ansambel-ansambel eksperimental untuk meleburkan gamelan tradisional dengan musik kontemporer, sementara Jawa Tengah menggelar Gamelan Music Ethnic Festival di Surakarta yang turut memanfaatkan status gamelan sebagai Warisan Budaya Tak Benda UNESCO untuk menarik musisi dari berbagai daerah. Ekosistem semacam ini lahir dari akumulasi dukungan puluhan tahun: pendidikan formal yang konsisten, pendanaan pemerintah daerah yang berkelanjutan, serta jejaring komunitas seni yang saling menopang lintas generasi. Mandar Etno Musik Konser, sebaliknya, masih berdiri di titik yang jauh lebih muda dan rapuh lebih banyak bergantung pada inisiatif sporadis Taman Budaya Mandar dan segelintir komunitas, tanpa jaringan akademik maupun pendanaan yang sekuat apa yang dimiliki gamelan Jawa. Namun ini bukan soal Mandar tertinggal dalam kualitas atau kedalaman filosofis. Sesungguhnya musik tradsional di Mandar menyimpan kekayaan makna yang tidak kalah dari gamelan. Maka peta jalannya semestinya jelas, bukan meniru Jawa secara membabi buta, tetapi belajar dari pola institusionalisasinya, lalu meraciknya kembali dengan kekhasan Mandar dan filosofinya yang menjadi jati diri Mandar.
Namun tantangan yang dihadapi tidak bisa dianggap remeh. Pertama, ada jurang generasi yang lebar: bagaimana mungkin sebuah konser etnik bisa menyaingi daya tarik konser musik mainstream yang dipromosikan algoritma media sosial tanpa henti?. Kedua, ada keterbatasan dukungan infrastruktur dan pendanaan. Seniman tradisional Mandar kerap berjuang sendirian, tanpa panggung yang layak, tanpa sistem tata suara yang memadai tanpa apresiasi finansial yang sepadan dengan jerih payah pelestarian yang mereka lakukan. Ketiga, dan ini yang paling halus namun paling berbahaya, ada ancaman pendangkalan makna: ketika musik etnik dipentaskan hanya demi tontonan eksotis bagi wisatawan, tanpa penghayatan terhadap filosofi di baliknya, maka konser semacam ini berisiko menjadi cangkang kosong yang indah dipandang tetapi kehilangan jiwa. Keempat, regenerasi pelaku seni masih timpang, banyak maestro yang usianya sudah lanjut, sementara pewaris yang benar-benar menguasai esensi bukan sekadar gerakan permukaan masih sangat terbatas jumlahnya. Dan di balik semua itu, ada satu kelemahan struktural yang jarang disorot: pendidikan seni tradisi di sekolah formal masih diposisikan sebagai pelengkap, bukan substansi. Mata pelajaran Seni Budaya sering diajarkan secara generik, tanpa kedalaman konteks lokal, sehingga anak-anak Mandar sendiri tumbuh asing terhadap warisan yang seharusnya menjadi identitas mereka.
Maka solusi dan harapan harus dirumuskan dengan kesadaran bahwa pelestarian budaya tidak boleh berhenti pada romantisme nostalgia dan juga tidak boleh berhenti pada panggung semata. Pemerintah daerah, melalui lembaga seperti Taman Budaya Mandar dirasa perlu disupport dan posisinya berada dipe’uluang (pusat penjaga ritme), diapresiasi dengan tepukan tangan yang sangat keras dan doa yang paling tinggi. Sehingga Taman Budaya dan Museum Mandar menjadikan Mandar Etno Musik Konser sebagai agenda tahunan yang konsisten. Kolaborasi lintas generasi harus difasilitasi secara serius, para maestro perlu dipertemukan dengan musisi muda yang akrab dengan teknologi produksi musik modern, sehingga lahir aransemen-aransemen baru yang tetap berpijak pada akar tradisi namun terdengar segar di telinga generasi Z. Ini semua adalah sebuah proses scaffolding lintas generasi sebagaimana dimaksud Vygotsky, di mana pengetahuan diwariskan melalui interaksi langsung, bukan transfer satu arah dari buku teks. Di sinilah konsep tripusat pendidikan yaitu: keluarga, sekolah, dan masyarakat yang menemukan relevansinya. Kehadiran konser etnik mengisi ruang ketiga yang sering terabaikan, yakni pendidikan berbasis masyarakat. Dan tak kalah penting, dokumentasi serta penelitian akademik yang sistematis harus digarap serius, baik dalam bentuk rekaman audio-visual berkualitas, arsip lirik dan notasi, maupun kajian ilmiah yang terdokumentasi, tanpa itu, kearifan ini akan terus bergantung pada memori lisan yang rentan punah seiring wafatnya generasi pemegang tradisi. Jika semua ini berjalan beriringan, harapan bukan lagi sekadar angan “identitas budaya Mandar bisa berdiri tegak sebagai pondasi, bukan sebagai puing yang ditinggalkan zaman”.
Pada akhirnya, kita harus berani bertanya pada diri sendiri, jika kacapi berhenti dilantunkan atau ditampilkan tanpa pendalaman makna, lalu apa yang sebenarnya tersisa dari kita sebagai orang Mandar, selain nama yang kita sandang tanpa pernah benar-benar kita hayati?. Mandar Etno Musik Konser bukan sekadar hiburan di tengah hiruk-pikuk zaman dan ia juga bukan sekadar acara seni yang berhenti ketika lampu panggung dimatikan. Ia adalah laboratorium pendidikan karakter dan identitas yang hidup, ruang belajar yang jauh lebih jujur daripada ruang kelas mana pun, sebab di sanalah anak-anak Mandar belajar menjadi diri mereka sendiri, bukan sekadar belajar tentang diri mereka sendiri. Ia adalah ujian, apakah kita masih punya keberanian untuk berlayar mempertahankan jati diri, atau kita rela tenggelam pelan-pelan dalam lautan keseragaman global yang tak berwajah. Pilihannya, sesungguhnya, ada di tangan kita sendiri dan waktu untuk memilih itu kian menyempit setiap harinya.
Untuk itu, Hadirlah di Acara Mandar Ethno Musik Konser dan Jadilah saksi.




