Refleksi

Jejak yang Tak Nampak di tanah Bulo

Catatan mengikuti pensiunan kumpul dan bernostalgia dengan

Akhir-akhir ini Kecamatan Bulo seperti menyimpan harapan baru di dalam tanahnya. Banyak orang membuka lahan dan menanam durian. Ada juga yang menata kebun lalu membangun villa kecil di tengah pepohonan. Kebun tidak lagi hanya dipandang sebagai tempat bekerja. Kini kebun juga dilihat sebagai tempat beristirahat. Bahkan bagi sebagian orang kebun menjadi bentuk investasi dan bisa jadi sebagai tanda keberhasilan.

Pemandangan seperti ini memang mudah menarik perhatian. Orang melihat kebun yang sudah rapi. Pohon durian tumbuh baik. Villa berdiri di tengah suasana hijau dan sejuk. Ada pula cerita tentang harga tanah yang mulai naik. Semua itu membuat banyak orang berpikir bahwa membeli tanah di Bulo adalah langkah yang tepat.

Keinginan untuk memiliki kebun seperti orang lain sebenarnya wajar. Manusia sering belajar dari keberhasilan orang di sekitarnya. Kita melihat seseorang berhasil lalu muncul keinginan untuk mencoba hal yang sama. Masalahnya muncul ketika yang kita lihat hanya hasil akhirnya. Kita kagum pada kebun yang sudah indah tetapi lupa bahwa kebun itu tidak tercipta dalam waktu singkat. Kita melihat buahnya tetapi tidak melihat akar yang tumbuh diam-diam di bawah tanah.

Kebun durian yang bagus tidak lahir hanya karena seseorang membeli tanah. Sebelum kebun terlihat hijau dan tertata ada proses panjang yang harus dilewati. Ada semak yang dibersihkan. Ada tanah yang perlu diolah. Ada jalan masuk yang harus dibuat. Ada air yang harus dicari. Ada bibit yang dibeli dan dirawat. Ada pohon yang mati lalu diganti. Ada hama yang harus diatasi. Ada biaya yang terus keluar sementara hasil belum tentu langsung terlihat.

Orang yang sudah berhasil mungkin pernah mengalami masa sulit. Bisa jadi ia pernah rugi. Bisa jadi ia pernah salah memilih bibit. Mungkin juga pernah merasa lelah karena kebun belum menghasilkan apa-apa. Namun ia tetap bertahan. Ia belajar dari kesalahan dan melanjutkan pekerjaannya sedikit demi sedikit. Proses seperti itu jarang terlihat oleh orang lain.

Saat kebun sudah tampak indah barulah banyak orang datang dan ingin mengikuti. Mereka ingin membeli tanah. Mereka ingin menanam durian. Mereka membayangkan sebuah villa kecil di dalam kebun. Sebagian membeli karena takut terlambat. Sebagian lagi khawatir harga tanah akan naik. Ada juga yang sekadar ikut karena melihat banyak orang mulai membeli lahan di Bulo. Padahal membeli tanah tidak berarti seseorang siap mengelola tanah itu.

Mengurus kebun membutuhkan waktu dan perhatian. Tidak cukup hanya punya modal di awal. Seseorang harus punya rencana. Ia harus siap belajar tentang tanaman dan keadaan lahannya. Ia harus siap menghadapi biaya perawatan. Ia juga harus sabar menunggu. Durian tidak bisa dipanen dalam beberapa bulan. Pohon membutuhkan waktu untuk tumbuh. Lahan juga butuh tangan yang mau merawatnya.

Ketika kenyataan mulai terasa berat banyak orang kehilangan semangat. Biaya bertambah. Waktu tidak cukup. Lahan sulit dijaga. Tanaman belum berbuah. Hasil yang dibayangkan belum datang. Pada akhirnya tanah yang dulu dibeli dengan penuh harapan dijual kembali karena tidak sanggup dikelola.

Dari sini kita bisa belajar bahwa tidak semua yang ramai harus langsung diikuti. Tidak setiap peluang cocok untuk semua orang. Keberhasilan orang lain boleh menjadi inspirasi. Namun kita tidak perlu meniru seluruh langkahnya tanpa memahami keadaan diri sendiri.

Sebelum membeli tanah atau memulai usaha seseorang perlu bertanya pada dirinya sendiri. Apakah saya punya waktu untuk mengurusnya? Apakah saya siap jika hasilnya lama datang? Apakah saya punya cukup pengetahuan dan modal untuk bertahan? Apakah saya benar-benar ingin membangun kebun atau hanya takut ketinggalan?

Pertanyaan seperti ini bukan untuk membuat kita takut mencoba. Pertanyaan ini justru membantu kita mengambil langkah dengan lebih sadar. Keberanian tetap penting. Namun keberanian yang baik selalu ditemani persiapan.

Dalam hidup banyak orang ingin memetik buah tetapi tidak semua siap menjadi akar. Banyak yang ingin menikmati hasil tetapi tidak semua bersedia menjalani proses yang sunyi. Padahal akar tumbuh dalam gelap. Ia tidak terlihat dan tidak dipuji. Namun akar itulah yang membuat pohon tetap berdiri saat angin datang.

Begitu juga dengan keberhasilan. Keberhasilan tidak hanya lahir dari apa yang terlihat. Ia tumbuh dari ketekunan. Dari kegagalan yang dijadikan pelajaran. Dari kesediaan untuk tetap bekerja walau belum ada hasil yang bisa dibanggakan.

Kebun-kebun durian di Bulo dapat menjadi pelajaran bagi kita. Jangan hanya kagum pada pohon yang sudah berbuah. Lihat juga proses di baliknya. Hargai tangan yang membuka lahan. Hargai orang yang menanam bibit. Hargai kesabaran yang menunggu musim. Karena pada akhirnya yang bertahan bukan selalu orang yang paling cepat mengikuti keramaian. Yang bertahan adalah orang yang siap menjalani prosesnya.

Muhammad Junaedi Mahyuddin

Pria kelahiran dari kampung kecil yang bernama Banua baru. Saat ini aktif mengabdi sebagai pengajar di salah satu perguruan tinggi Muhammadiyah di Sulawesi Selatan

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button