Refleksi

Pertemuan di Baruga Colliq Pujie

Senin 20 Juli 2026, saya datang ke kampus FSD UNM Parangtambung untuk mendampingi salah satu mahasiswa (UNIMEN) yang akan tampil di ranting kompetisi monolog PEKSIMIDA 2026. Tujuan saya datang ke sana bukan untuk berlomba. Sebagai pelatih, tanggung jawab saya hanyalah mengawasi dan memastikan mahasiswa saya tetap tenang, aman, dan memiliki mental yang kuat saat mereka pergi ke panggung. Tapi siapa sangka, di tengah-tengah kesibukan itu, saya tiba-tiba bertemu dengan orang yang tidak pernah saya duga sebelumnya.

Beberapa bulan sebelum peristiwa tersebut. Di Rooftop café Putih, saya sempat mendengarkan cerita sahabat saya, “Fadel”, yang juga tenaga pengajar di UNM, saat Mandar Music Etno Concert sedang disiapkan. Saat angin malam dari Teluk Mandar menyapa, dia menyebut seorang anak muda dari Mandar bernama “Indra Kirana”, yang dia katakan berprestasi di bidang teater di UNM. Pada saat itu, saya hanya dapat mendengarnya selintas, seperti angin barat yang lewat. Saya tidak merasakan sesuatu yang unik. Nama itu terlintas di benak selama beberapa saat sebelum hilang dalam rutinitas sehari-hari. Sampai akhirnya, di Baruga Colliq Pujie, nama itu muncul lagi, kali ini langsung di depan mata saya, bukan lagi sebagai cerita orang lain.

Salah satu rekan saya, seorang dosen “Anjas” di UNM (“Maaf jika salah”, yang saya yakini beliau pula mentornya) memperkenalkan saya pada seorang pria muda. Ia menyatakan bahwa pria ini (menunjuk Kirana) adalah salah satu andalang UNM pada cabang monolog UNM. Dan saya tersentak ketika namanya disebutkan. Indra Kirana, nama yang sama yang Fadel sebut di Malam itu.  Hari itu penuh dengan rasa kaget dan haru. Dunia ternyata tidak sebesar yang saya kira. Ada semacam kehangatan yang sulit dijelaskan ketika nama-nama yang dulu hanya lewat sebagai cerita sekarang berdiri di hadapan saya, sama-sama kelahiran Mandar. Lebih kaget lagi, setelah mengetahui bahwa ia adalah anak dari teaterawan “amli Rusli” menimbulkan sedikit rasa hormat. Wajar hebat….. Pak Anjas, kataku. Sanad keaktorannya jelas… heheheheheh

Kamis Malam, menjadi malam pertunjukkan dan saya memiliki kesempatan untuk menyaksikan penampilannya di panggung sakral, bagi mereka yang pernah menyentuh lantai Baruga Colliq Pujie. Naskah “PIDATO” oleh Putu Fajar Arcana. Ia lahap dengan sangat apik. Ditemani artistic yang waow ditambah suara yang luar biasa. Saya merasakan setiap huruf yang menjelma kata, ia lontarkan terasa hidup, setiap gerakan terasa matang, seolah-olah ia benar-benar menjelma menjadi karakter yang ada dalam naskah tersebut. Duduk di antara penonton, Saya kagum secara rahasia karena ia betul-betul luar biasa.

Beberapa pekan berlalu setelah kompetisi berakhir. Seperti yang sudah saya duga sejak melihat penampilannya malam itu, pengumuman akhirnya keluar: dia adalah pemenang dan akan mewakili Sulawesi Selatan di PEKSIMINAS 2026. Saya tersenyum, bukan hanya karena dia menang tetapi karena saya teringat percakapan singkat saya dengan Fadel berbulan-bulan lalu tentang seorang anak Mandar yang berprestasi di UNM. Waktu itu hanyalah kisah. Saya sekarang melihatnya sendiri dari dekat di Baruga Colliq Pujie, Indra Kirana yang siap menaklukkan panggung PEKSIMINAS 2026 dengan ranting lomba Monolog, walaupun sebelumnya panggung PEKSIMINAS 2024 telah ia taklukkan dengan Baca Puisi. Pertemuan terjadi dengan cara yang tidak terduga. Sebuah nama yang dulunya hanya cerita ternyata memiliki kisah yang akan saya alami sendiri dan banggakan. Wajar saja Tagline FB nya “BERIKAN AKU PANGGUNG MAKA TAKKAN KUBERI TANGGUNG”. Ia benar-benar tak tanggung (TOTAL). Salama Ndi…..

 

Muhammad Junaedi Mahyuddin

Pria kelahiran dari kampung kecil yang bernama Banua baru. Saat ini aktif mengabdi sebagai pengajar di salah satu perguruan tinggi Muhammadiyah di Sulawesi Selatan

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Check Also
Close
Back to top button