Refleksi

Di Antara Kenangan dan Kurikulum: Mengantar Fatih ke Ruang Kelas

Refleksi Ayah Mengantar Anak Ke Sekolah

Saya mencoba mengingat bagaimana pertama kali masuk SD, namun ternyata saya tidak berhasil mengingatnya dengan jelas. Kenangan saya tentang kelas satu SD di antaranya adalah tugas mendikte. Saya ingat yang memberikan tugas mendikte tersebut adalah kepala sekolah saya, Pak Agus namanya. Waktu itu, soal mendikte banyak yang salah; kalau tidak salah ingat, dari 10 soal saya hanya mendapat nilai 5. Selain itu, sepertinya saat kelas satu SD saya agak arogan karena semaunya sendiri, artinya banyak mengatur teman-teman. Maklum saja, sebagai anak guru SD di pedalaman pada tahun itu, saya merasa sebagai “tuan kecil” yang tidak ada seorang pun berani membantah.

Hari ini saya memulai rutinitas baru, yaitu mengantar anak ke ruang kelas SD. Ya, Fatih, usianya 7 tahun. Pagi tadi dia bangun pukul 04.30 WIB. Awalnya saya tidak memiliki ekspektasi dia akan menyusul ke mushala, tetapi saat saya sedang salat sunnah, saya mendengar suara kaki dan napas yang terengah-engah di belakang saya. Ternyata, dia menyusul ke mushala untuk ikut salat berjamaah. Di usia 7 tahun ini, dia sudah lebih mengerti dan paham dengan apa yang disampaikan bapaknya; salah satunya, jika bapaknya telat menjemput di sekolah, jangan lupa untuk tidur saja di kelas atau di masjid sekolah. Di usia 7 tahun ini, tampaknya dia sudah terbiasa dalam menjalankan aktivitas sehari-harinya, sehingga di usia ini dia mulai masuk sekolah.

Berapa sebenarnya usia efektif untuk masuk sekolah dasar? Ada yang beranggapan lebih baik dituakan agar anak lebih dewasa, tetapi ada juga yang menghendaki masuk SD sedini mungkin agar mudah dididik dan selesai sekolah di usia muda. Bukan hanya soal usia yang menjadi bahan diskusi bahkan dinamika masuk kelas di waktu sekarang beragam warnanya. Pada masa lalu, masalah tempat duduk bukan sebuah soal, di mana orang tua menyerahkan sepenuhnya urusan tempat duduk kepada siswa. Tetapi di saat sekarang, orang tua ada yang menjadikan tempat duduk sebagai bahan perlombaan, sehingga harus berangkat se[pagi mungkin unutk menduduki kursi yang diinginkan. Apakah mungkin pergeseran ini menjadi sebab anak menjadi bersaing sejak awal masuk kelas karena dimulai dari tingkah laku orangtuanya sendiri ?.

Belum lagi pilihan orang tua untuk memilih sekolah full day atau half day juga menjadi problem. Banyak orang tua mengharapkan anak sampai sore di sekolah karena tidak bisa membersamai anak, mengingat mereka bekerja, dan juga sayang jika anak hanya sampai siang saja. Kalau dulu, waktu saya sekolah sampai jam 10 pagi, saat pulang sudah ada orang tua di rumah atau minimal makanan sudah tersedia. Makan di rumah dengan masakan orang tua adalah kenangan tersendiri dan dirindukan saat dewasa nanti.
Mungkin dinamika hidup semakin menuntut orang untuk bergerak. Lalu, sebenarnya apakah ini terjadi secara alami atau sebuah desain besar?

Banyak tokoh melihat bahwa apa yang terjadi merupakan sebuah desain yang perlahan-lahan dimasukkan. Bahkan ada ungkapan yang menyebutkan bahwa kita akan mengikuti jejak kaum terdahulu tanpa kita sadari, bahkan ke lubang biawak sekalipun. Pada awalnya manusia tidak mengikuti itu, tapi lama-kelamaan, perlahan-lahan tanpa disadari mereka mengikuti ritme yang telah didesain oleh sistem lain. Selain itu, apakah durasi jam belajar menjadi penentu keberhasilan atau justru meningkatkan masalah kejiwaan sejak dini? Dinamika seperti ini memunculkan pertanyaan, apakah profesional perlu dilibatkan, atau apakah sekolah perlu dikembalikan ke masa lalu yang penuh ceria dengan kebebasan anak-anaknya?
Pada akhirnya, desain pendidikan dibuat untuk mengembangkan kemampuan siswa, dan juga menjadi tanya bagaimana proses pendidikan tersebut mampu menanamkan keadaban bagi anak kecil sebelum mereka belajar untuk berkompetisi, membanggakan angka-angka, dan capaian dalam kehidupan mereka nanti.

Yogyarta, 13 Juli 2026.

Dr.Amien Wahyudi, M.Pd.,Kons (Dosen Bimbingan Konseling Universitas Ahmad Dahlan Yogyakarta)

Muhammad Junaedi Mahyuddin

Pria kelahiran dari kampung kecil yang bernama Banua baru. Saat ini aktif mengabdi sebagai pengajar di salah satu perguruan tinggi Muhammadiyah di Sulawesi Selatan

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button