Refleksi

Jaga Matamu, Karena Ia Telah Menuntunmu

Di usia 39 tahun, akhirnya saya duduk di kursi optometris, menatap huruf-huruf yang selama ini saya paksa untuk tetap jelas dengan cara yang salah: mendekat, menyipitkan mata, atau pura-pura mengerti. Ketika lensa uji diletakkan di depan mata, dunia yang kabur selama bertahun-tahun tiba-tiba tajam. Saya terdiam, bukan karena kaget pada angka resep, melainkan karena menyadari betapa lama ia hidup dalam kekaburan yang ia anggap biasa.

Selama ini, saya mengira mata yang lelah adalah harga yang wajar dibayar untuk kerja keras. Saya membaca tugas mahasiswa, menatap layar berjam-jam, dan mengikuti pertemuan ilmiah dengan keyakinan bahwa apa yang saya lihat sudah cukup jelas. Namun, beberapa kali pertemuan penting menjadi momen yang memalukan: saya salah membaca angka di slide presentasi, tidak mengenali wajah rekan dari jarak lima meter, dan terpaksa tersenyum pada orang yang sebenarnya bukan ia sapa. Bahasa medis tentang miopi, astigmatisme, atau presbiopi dini ia tolak. Baginya, itu terdengar seperti pengakuan kalah. Ia lebih memilih menyebutnya “mata lelah” atau “kurang tidur”. Namun, tubuh punya cara sendiri untuk berkata cukup. Ketika kekaburan mulai mengganggu bukan hanya kenyamanan, tetapi juga kredibilitasnya dalam forum-forum ilmiah, ia sadar: ini bukan lagi soal gengsi, melainkan soal fungsi dasar yang ia abaikan.

Momen ketika kacamata pertama kali dikenakan bukan sekadar perubahan fisik. Ia seperti bangun dari tidur panjang. Pohon di tepi jalan yang selama ini ia kira buram karena jarak, ternyata memiliki detail daun yang jelas. Wajah orang di seberang ruangan bukan lagi bayangan, melainkan ekspresi yang bisa dibaca. Angka-angka di layar yang selama ini ia tebak-nebak, kini terbaca tanpa perlu mendekat. Namun, di balik kejernihan itu, ada rasa menyesal yang halus. Ia bertanya pada diri sendiri: berapa banyak detail yang hilang selama ini? Berapa banyak isyarat yang tidak ia tangkap? Berapa banyak kebenaran yang ia lewatkan hanya karena malas mengakui bahwa matanya butuh bantuan? Kacamata itu bukan alat untuk memperbaiki mata, melainkan pengakuan jujur bahwa ia telah lama mengabaikan sinyal-sinyal kecil yang sebenarnya sudah lama mengetuk pemahaman.

Mata bukan hanya organ untuk menangkap cahaya. Ia adalah pintu pertama yang menuntun langkah. Ketika penglihatan kabur, arah pun bisa salah. Orang yang tidak melihat dengan jelas bisa tersandung pada hal yang sebenarnya terlihat oleh orang lain. Ia bisa melangkah ke jurang yang sebenarnya sudah terlihat dari jauh. Dalam hidup, banyak keputusan diambil berdasarkan apa yang kita lihat atau apa yang kita kira kita lihat. Menjaga mata bukan hanya soal rutin periksa atau memakai kacamata saat perlu. Ia soal kesadaran bahwa apa yang kita izinkan masuk melalui mata akan membentuk cara kita memahami dunia. Terlalu lama menatap layar tanpa istirahat, mengabaikan rasa perih, memaksa fokus saat sudah lelah, semua itu bukan hanya merusak lensa, tetapi juga mengaburkan cara kita menafsirkan realitas. Ketika mata lelah, pikiran pun ikut lelah. Ketika penglihatan kabur, penilaian pun bisa ikut bias.

Di usia 39, saya sadar bahwa penyesalan terbesar bukan pada resep kacamata yang ternyata cukup tinggi, melainkan pada waktu yang hilang dalam kekaburan. Ia membayangkan berapa banyak hal yang bisa ia lihat lebih awal, lebih jelas, lebih utuh jika saja ia tidak menunda. Namun, dari penyesalan itu lahir komitmen baru: tidak lagi mengabaikan sinyal-sinyal kecil dari tubuh. Sakit kepala yang datang setelah membaca terlalu lama, mata yang berair saat menatap layar, kesulitan membaca tulisan kecil, semua itu bukan gangguan yang harus ditahan, melainkan pesan yang harus didengar. Ia mulai mengatur waktu istirahat untuk mata, mengikuti aturan 20-20-20: setiap 20 menit, melihat objek sejauh 20 kaki selama 20 detik. Ia mengurangi cahaya biru dari layar di malam hari, memperbanyak jarak pandang ke alam terbuka, dan yang paling penting adalah tidak lagi merasa malu untuk mengakui keterbatasan. Memakai kacamata bukan tanda kelemahan, melainkan bentuk tanggung jawab terhadap salah satu anugerah terbesar yang ia miliki.

Kisah ini bukan hanya tentang seorang pria 39 tahun yang akhirnya memakai kacamata. Ini tentang semua orang yang pernah mengabaikan bagian dari diri mereka sendiri karena merasa masih bisa bertahan. Mata adalah contoh sempurna: ia bekerja tanpa henti, tanpa protes keras, hingga suatu hari ia tidak lagi bisa dipaksa. Ketika itu terjadi, harga yang dibayar bukan hanya resep kacamata, tetapi waktu, peluang, dan kejernihan yang hilang. Menjaga mata adalah bentuk syukur yang konkret. Ia bukan hanya soal melihat dunia dengan jelas, tetapi juga tentang memastikan bahwa apa yang kita lihat menuntun kita ke arah yang benar.

Pada akhirnya, mata yang sehat bukan hanya memberi kita gambar yang tajam, tetapi juga arah yang tepat. Dan arah yang tepat adalah segalanya dalam perjalanan hidup yang hanya sekali ini.

Jika ada satu hal yang bisa dipetik dari kisah ini, maka itu adalah: jangan tunggu hingga dunia menjadi kabur untuk mulai menjaga mata. Periksa sebelum perlu, istirahat sebelum lelah, akui sebelum terlambat karena mata yang kita miliki hari ini adalah mata yang akan menuntun langkah kita besok. Dan langkah yang diambil dengan penglihatan yang jelas selalu lebih pasti daripada langkah yang diambil dalam dugaan. Jaga matamu. Bukan hanya karena ia membantumu melihat, tetapi karena ia telah menuntunmu, bahkan ketika kamu tidak sadar bahwa ia sedang melakukannya.

Muhammad Junaedi Mahyuddin

Pria kelahiran dari kampung kecil yang bernama Banua baru. Saat ini aktif mengabdi sebagai pengajar di salah satu perguruan tinggi Muhammadiyah di Sulawesi Selatan

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button