Refleksi

Ponsel dan Kemanusiaan Kita

Ada yang lebih menyayat hati dari tenggelamnya Elmi Febrianti di Apparalang hari Ahad kemarin. Bukan ombaknya. Bukan tebingnya. Bukan keindahannya. Tapi suara perempuan di balik kamera yang berkata, “Foto-foto ki tadi di situ di pinggir sekali, demi foto kasihan” sembari tangannya tetap memegang ponsel, matanya tetap menatap layar, dan Elmi tetap terombang-ambing sendirian di antara ketakutan, batu dan air.

Kita marah. Wajar. Tapi sebelum kemarahan itu kita lempar ke orang-orang di pinggir tebing itu, ada baiknya kita duduk sebentar dan bertanya: apakah kita yakin kita tidak akan melakukan hal yang sama?

Psikologi punya nama untuk ini. Bystander effect. Pertama kali diteliti serius oleh John Darley dan Bibb Latané, setelah seorang perempuan bernama Kitty Genovese dibunuh di New York sementara puluhan tetangga konon melihat dari jendela tanpa menelepon polisi. Temuan mereka mengejutkan: semakin banyak orang yang menyaksikan sebuah kedaruratan, semakin kecil kemungkinan seseorang akan bertindak. Bukan karena mereka jahat. Tapi karena tanggung jawab itu menyebar tipis ke banyak bahu, sampai tidak terasa berat di bahu siapapun.

“Pasti ada yang sudah menghubungi SAR.” “Pasti yang lebih dekat akan melompat.” “Pasti ada yang lebih tahu cara menolongnya.”

Pasti. Pasti. Pasti. Dan sementara semua orang menunggu kepastian itu, Elmi tenggelam.

Ada yang berbeda dari kasus Elmi dibanding eksperimen Darley dan Latané. Di era sekarang, ponsel telah mengubah cara kita hadir di sebuah peristiwa. Merekam bukan lagi tindakan pasif, ia terasa seperti melakukan sesuatu. Ada ilusi partisipasi di balik layar itu. Ada perasaan bahwa dengan merekam, kita sedang membantu, sedang mendokumentasikan, sedang memberitahu dunia. Kita tidak merasa menonton, kita merasa bekerja. Inilah yang paling berbahaya. Kamera telah menjadi tirai yang memisahkan kita dari kenyataan yang sedang terjadi tepat di depan mata. Kita melihat Elmi, tapi tidak benar-benar melihatnya, kita melihat konten. Kita melihat detik-detik yang kelak akan ditonton jutaan orang. Kita melihat notifikasi yang akan berdatangan. Dan Elmi melihat pantai. Melihat batu-batu. Melihat tangan-tangan yang tidak terulur.

Saya tidak ingin terlalu keras pada orang-orang di tebing itu. Ombak Apparalang bukan ombak biasa. Terjun ke sana tanpa pelampung, tanpa kemampuan, adalah bunuh diri. Keterbatasan fisik itu nyata. Yang perlu kita pertanyakan bukan keberanian mereka melompat ke laut, tapi mengapa tidak ada yang berteriak minta bantuan? Mengapa tidak ada yang lari mencari tali? Mengapa ponsel lebih cepat terangkat daripada suara?

Di ujung semua ini, ada pertanyaan yang lebih besar dari sekadar Elmi dan Apparalang. Kita hidup di zaman yang telah mengajarkan kita untuk merespons setiap peristiwa dengan satu gerakan refleks: angkat ponsel, rekam, bagikan. Gerakan itu sudah begitu terlatih sampai ia mendahului gerakan lain, termasuk gerakan meraih tangan seseorang yang hampir tenggelam.

Elmi sudah pergi. Videonya masih beredar.

Dan kita, yang menonton video itu dari layar yang nyaman, mungkin perlu bertanya kepada diri sendiri: kalau kita ada di sana, tangan kita akan meraih apa lebih dulu?, Ponsel kah atau kemanusiaan kita?.

 

Muhammad Junaedi Mahyuddin

Pria kelahiran dari kampung kecil yang bernama Banua baru. Saat ini aktif mengabdi sebagai pengajar di salah satu perguruan tinggi Muhammadiyah di Sulawesi Selatan

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button